Gerakan Literasi Nasional, Menuju Indonesia Berkeadaban


Gerakan Literasi Nasional




Gerakan Literasi Nasional, Menuju Indonesia Berkeadaban
Pelatihan Instruktur Literasi se-Provinsi Lampung.Nov 2018.

Tanggal 12-13 November kemarin,  saya bersama sekitar 28 teman lain yang berprofesi sebagai penulis, blogger, guru, dan penggiat komunitas baca mengikuti kegiatan Pelatihan Instruktur Literasi se-Provinsi Lampung yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Lampung.

Saya punya tiga pengalaman ‘serba pertama’ dengan Kantor Bahasa  semasa recovery pasca operasi pemasangan pen akibat kecelakaan motor, yaitu   pertama kali pakai dua kruk saat menjadi juri penulisan cerita rakyat (akhir Juli 2018),  pertama kali pakai satu kruk untuk mengisi materi bersama adik-adik dari Komunitas Jendela (22 Oktober 2018) di kantor Camat Teluk Betung Barat, Bakung dan pertama kali naik turun tangga tiga lantai dengan termehek-mehek, ngilu campur nyeri bahagia gitu, deh. Hihihi. Tak terlupakan sama Kantor Bahasa, mah. Mana pula semua personelnya pada ramah, baik, pintar dan bersahabat. Alhamdulilah, bersyukurnya saya....

Senin, 12 Nov 2018.

Mbak Dian Anggraini sudah memberitahu jauh-jauh hari bahawa acara dimulai pukul 08.00 wib. Tapi pada kenyataannya jam 7.50 saya baru bisa berangkat karena masih ada beberapa aktivitas rutin yang belum bisa diselesaikan. Pukul 08.20 alhamdulillah sampai. Saya nelen ludah berkali-kali pas tahu kegiatan ada di lantai tiga. Maaaak, piye iko jaaal... Eh tapi alhamdulillah ada satu peserta perempuan yang menawarkan diri untuk menggandeng saya. Terimakasih, Mbak Dwi... :)

Acara dimulai dengan mendengarkan sambutan, disusul perkenalan dan pemaparan materi pertama oleh Ibu Yanti Riswara, M.Hum selaku Kepala Kantor Bahasa Lampung, yaitu tentang  Literasi Nasional.

Ibu Yanti Riswara

PISA (Program for Internasional Student Assessment) secara berkala mengambil data tingkat literasi siswa pada kompetensi matematika, science, dan membaca.

Hasil data PISA, tahun  2009—2015  tren skor membaca menurun
Tahun 2015 Indonesia berada pada posisi 64 dari 72 negara yang disurvei.

Dalam sebuah tabel berdasarkan hasil riset dari beberapa lembaga internasional seperti IEAE (International Association for the Educational Achievement), PISA (Program for International Students Assessment), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), disimpulkan bahwa Indonesia berada di peringkat mendekati terbawah. (Variabel : Perpustakaan,  Surat Kabar, Masukan Sistem Pendidikan, Keluaran Sistem Pendidikan,  Ketersediaan Komputer dan Karakteristik Perilaku Literasi)

Menurut Ibu Yanti, tabel tersebut bukan berarti benar secara keseluruhan, namun  bisa dijadikan salah satu cambuk atau lecutan untuk memperbaiki literasi di tanah air. Mulai dari menanamkan cinta membaca dan menulis, menganalisa, riset dan praktik.

Saya setuju sekali dengan pendapat beliau. Enggak gampang loh menanamkan semangat itu pada generasi milenial yang bisa jadi lebih banyak meluangkan waktu dengan game dan gawainya. Butuh perjuangan panjang, kerja keras dan cerdas. Ini adalah PR kita bersama.

Di sesi pertama ini, saya ditodong maju untuk bercerita seumprit pengalaman sebagai seorang penulis. Jujur, saya grogi. Secara itu peserta orang-orang hebat kabeh, nje. Tapi berhubung yang nodong Ibu Yanti, ya bismillah pasrah gitu, deh. Maafkan jika kurang berkenan, ya, Temans...:)

Sharing dadakan
“Awal mula terjun ke dunia kepenulisan yaitu saat SD puisi pertama dimuat di Majalah Bobo. Senangnya luar biasa! Selanjutnya hanya menulis di buku diary. Lamaaaa, sampai ratusan purnama. Aktif lagi saat menjadi sekretaris pribadi di DPR RI. Tulisan yang dimuat di beberapa media massa berupa artikel dan opini. Vakum lagi selama puluhan purnama, alhamdulillah enggak nyampe ratusan seperti dulu, hehehe. Tahun 2013, mulai aktif menulis di blog, media massa, juga masuk ke dalam komunitas dan kelas kepenulisan.

Naah, di sinilah semua berawal dengan lebih serius. Saya membuat target satu tulisan satu hari. Apa saja bentuknya? Mulai dari catatan parenting, pengalaman menulis, resensi buku, cerita anak, artikel, cerpen, apa aja. Di suatu hari yang cerah, tulisan saya menjadi headline Kompasiana, judulnya ‘Ketika Anak Berkata Tidak’. Wah, model penulis cap gayung cem saya ini, itu sudah bikin jejingkrakan, looh. Happy n nambah semangat banget!

Tahun 2014 kenal dengan Mbak Watiek Ideo di sebuah kelas menulis online. Beliau mentor dan saya peserta. Ketika diminta mengumpulkan satu tugas cerita anak, saya japri beliau menanyakan apakah boleh mengirim lebih dari satu. Ketika dijawab oke, saya kirim tiga! Beliau mengapresiasi dengan memberi masukan. Saya revisi lalu kirim lagi. Kemudian .... beliau suka dengan gaya menulis saya dan mengajak duet. MasyaAllah! Saya yang penulis pemula ini. Kali ini bukan hanya jejingkrakan, tapi langsung sujud syukur, nangis terharu n salat sunah.

Sejak saat itu, saya berusaha bermetamorfosis untuk menjadi seorang penulis. Bismillah. Selain diminta sharing mengisi kelas-kelas kepenulisan online dan offline, saat ini ini saya baru memiliki 4 buku antologi, 1 buku parenting, 7 buku cerita anak. InsyaAllah 4 buku cerita anak sedang berada dalam tahap cetak. Mohon doanya.”

Begitulah cerita pendeknya. Semoga bisa menginspirasi. :)


Setelah ishoma, sesi kedua adalah  mengunyah materi Dimensi dan Ranah Literasi; Persiapan dan Praktik Literasi yang disampaikan  oleh As. Rakhmad Idris, penyuluh  Kantor Bahasa Lampung.
Pak Rakhmad

Menurut UNESCO, Literasi yaitu keaksaraan, rangkaian kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis dan berhitung yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga, masyarakat.

Sedangkan makna luasnya, literasi merupakan suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, berbicara, berhitung, mengakses, praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari (Gerakan Literasi Nasional)

Waaah,  ternyata cakupannya luas banget, ya, bukan hanya baca dan tulis. Tanpa literasi, peradaban akan memudar dan hilang ditelan zaman, runtuh baik secara perlahan ataupun terang-terangan. Duuh.

Sejarah Literasi

Sebenarnya, Gerakan Literasi Nasional sudah dimulai sejak masa kemerdekaan, hanya nama dan bentuknya saja yang berbeda.

1945–1950 : Jumlah penduduk buta aksara mencapai 95%.

1950–1974 : periode  pemberantasan buta huruf masal melalui komando Presiden Soekarno.

1974–1990 : Presiden Soeharto menerbitkan Inpres tentang Program Sekolah Dasar. Pada 1984 diluncurkan program PENDIDIKAN WAJIB BELAJAR 6 TAHUN

1991–2000: Periode KEAKSARAAN FUNGSIONAL. Pemberantasan buta aksara lebih difokuskan pada strategi diskusi, membaca, menulis, berhitung dan kegiatan untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dengan mengacu pada kebutuhan.

2000–2006 : Periode PENDIDIKAN KEAKSARAAN. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun dan pemberantasan buta aksara (GNP PWB-PBA)

2015—2016 : Terbit Permendikbud Nomor 23/ 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, dan Gerakan Literasi Bangsa di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Untuk mewadahi dan memfasilitasi gerakan literasi di lingkungan Kemendikbud, pada 2016 dibentuk GERAKAN LITERASI NASIONAL (GLN).

Nah, jadi sejak negara ini berdiri, para pemimpin kita sudah menyadari pentingnya literasi. Kebodohan yang membuat kita dijajah selama ratsan tahun. Saatnya bangkit dan mengisi kemerdekaan dengan ide-ide dahsyat dari rakyat.


Maka, kesadaran membangun literasi harus terus digaungkan tanpa henti, apalagi kita sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menuntut kita harus meningkatkan daya saing dan daya juang. Forum Ekonomi Dunia mengisyaratkan wajib memiliki keterampilan abad ke-21 yang meliputi LITERASI DASAR, kompetensi, dan karakter.


Tujuan GLN

Tujuan umum Gerakan Literasi Nasional adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.


Ranah GLN

1. Literasi sekolah
2. Literasi keluarga
3. Literasi masyarakat



Sesi terakhir kami diberi tugas setelah memahami bagaimana cara meringkas teks bacaan.
1. Membuat tiga kelompok untuk membahas literasi keluarga, literasi sekolah dan literasi masyarakat (saya berada di kelompok literasi sekolah)

2. Memilih metode praktik menulis ;  meringkas teks bacaan, menulis ulang teks bacaan, menceritakan teks hasil ringkasan atau tulis ulang dan mengonversi teks bacaan menjadi teks lain. (Saya memilih menggabungkan antara rewrite dan mengonversi dari teks bacaan ke menceritakan/story telling secara lisan (untuk mengembangkan sikap berani tampil di muka umum /belajar public speaking)

3. Presentasi
Beberapa ide  dapat disatukan dan dipresentasikan dengan baik. Lalu masing-masing kelompok menyanyikan yel-yel literasi. Heboh, apalagi kelompok kami, begitu kata Pak Pamateri. Hehehe.

Diskusi kelompok

Pukul 16.15 wib, acara selesai. Seru, bergizi tinggi dan membahagiakan. Alhamdulillah. 


Selasa, 13 November.

Pertemuan hari kedua disampaikan oleh Bapak Achril Zalmansyah, peneliti bahasa dari Kantor Bahasa Lampung dengan materi Mengonversi Teks Bacaan Literasi.
Pak Achril

Mengonversi teks bacaan artinya mengubah secara keseluruhan struktur teks, tanpa mengubah maksud dari teks.

Di sesi ini kami lebih banyak sharing, menegerjakan tugas dan presentasi. Kami membuat 4 kelompok. Masing-masing diberi satu cerpen untuk dikonversi menjadi puisi.
Cerpen Wahyu dan Gorengan karya Hasna Asjad Allamah
Cerpen Kiai Amplop karya Sam Edy Yuswanto
Cerpen Sajadah karya Sam Edy Yuswanto
Cerpen Tikus dan Kucing karya Sam Edy Yuswanto

Ibu Preni membaca puisi

Kelompok saya  mendapat tugas mengonversi Cerpen Kyai Amplop karya Mas Sam Edy ke dalam bentuk puisi.

Saya sempet ‘hang’ sesaat. Bukan lahannya soale. Namun, setelah melalui perjuangan panjang, jadilah tiga bait pusi yang amat sangat di bawah standar. Aiih takpelah, yang penting sudah belajar dan berusaha. Hehe.

Puisi Pak Andre dan Kak Dewi kami putuskan amat sangat layak untuk dipresentasikan. Soalnya kece badai cetar memesona. Keren sangat!

Pokoknya, makin lama makin seru deh acaranya. Sampai-sampai waktu break tetap kami gunakan untuk mengerjakan tugas. Sehingganya para panitia dan sebagian peserta  yang mengantarkan kudapan.  Kami juga jadi semakin akrab dan dekat. Saling tertawa riang gembira.

Lanjut lagi dengan belajar mengonversi film ke dalam tulisan deskripsi yang dipaparkan dengan asyik oleh Ibu Diah Meutia Harum, peneliti  bahasa. Namun saya agak gelagapan ketika ternyata film yang  diputar adalah film tentang zombie, CARGO, Finalist of Tropfest Astralia 2013. Hiiiiy, syereem. Sempat teriak histeris yang berakibat terbongkarnya kedok saya, ‘penakut akut’, apalagi lanjut dijahilin sama Pak Andre. (btw maaf ya aku jadi nendang kakinya. Siapa suruh nakut2in eikeeh)  


Diawali dengan kisah  menegangkan sepasang suami istri dan anak bayinya yang menjauh dari daerah-daerah yang sudah terkena wabah zombie. (enggak terlalu nyimak karena sibuk tutup muka). Selama di perjalanan, si ibu berubah menjadi makhluk mengerikan itu dan berusaha menggigit suaminya. Dengan terpaksa si suami melenyapkan istri tercinta. Sang suami-sebutlah Mr. R- menyadari bahwa dia sudah tergigit dan akan berubah menjadi zombie dalam waktu lebih kurang 3 hari. Jadi selama masih dalam keadaan sadar, dia menuliskan rute2 yang aman, nama anaknya, menggendong anaknya di belakang lalu mengambil mainan dan makanan dari rumah-rumah yang sudah ditinggal penghuninya karena sudah mati atau berubah menjadi zombie. Segera dia mengambil daging mentah, dimasukkan ke dalam plastik, lalu diikat pada sebuah kayu yang dipikul, digantungkan tepat di depannya. Dia tahu, bahwa zombie tak bisa melihat ke samping dan ke belakang. Jadi dia menyelamatkan anaknya dari dirinya sendiri nanti jika sudah berubah menjadi zombie.

Mati-matian dia melawan rasa sakit, yang penting anaknya aman dan selamat. Dia terus berjalan. Hingga di hari ketiga dan  tiba di area aman, Mr. R benar-benar telah menjadi zombie! Dooor! Sebuah peluru  yang ditembakkan oleh dua lelaki petugas keamanan tepat mengenai badannya. Dia mati, tapi anaknya selamat.

Huhuhu, rasa takut yang semula mendera, berubah menjadi haru. Hiks. Sediiih. Begitu besar perjuangan ayah untuk menyelamatkan buah hatinya. Dia rela menahan rasa sakit, melawan nafsu ingin melahap anaknya, berkejaran dengan waktu, pokoknya melakukan apa saja demi anaknya. Sebuah pembelajaran yang sangat baik.

Setelah ishoma nyambi buat absensi untuk bikin grup whatsapp, kami lanjut ke sesi terakhir, TEKS NARASI oleh Bapak Yuliandi, M.Pd, penyuluh dan peneliti sastra.

Pak Yuliandi

Narasi adalah jenis teks berupa karangan tidak nyata atau fiksi, teks narasi biasanya menceritakan kisah yang sudah memiliki alur dan tahapan waktu.
Teks narasi mudah untuk dikenali karena biasanya berisi cerita-cerita fiksi.
Tujuan komunikatif dari teks narasi adalah sebagai bahan bacaan atau hiburan bagi para pembacanya.


Struktur teks narasi

1. menggambarkan (tokoh, watak, latar, dan alur)
2. konfliks
3. akhir cerita:bahagia atau tidak bahagia
4. berisi nilai-nilai moral

Diskusi kelompok

Dalam memaparkan materi, Pak Yuliandi sangat komunikatif dan kami banyak tertawa, apalagi ketika diberi tugas dan diminta presentasi. Seru banget, deh! Tugas individu adalah menarasikan sebuah gambar anak lelaki yang memegang buku dan pena, dduk menjauh dari rombongan ana-anak di bawah jembatan. Ternyata, idenya menarik semua, loh. Keren-keren. Rata-rata tokoh utamanya adalah anak yang menyendiri itu. Saya menjadikan sang ‘buku’ sebagai tokoh utama, bahwa begitu senangnya ia ketika masih banyak anak-anak yang masih mau menulis di badannya (buku).

Setelah sebagian bercerita, Pak Yuli memberi tanggapan. Bahwa dalam menulis narasi, jangan terjebak hanya pada yang nampak, pelajari juga makna yang tersirat. Paparkan dengan asyik, hingga pesannya bisa sampai dengan baik.

Wah, bener banget ini. Saya jadi ingat ketika ikut kelas Kak Bambang Irwanto beberapa tahun yang lalu. Saat itu beliau meminta kami bercerita berdasarkan sebuah gambar ‘Seekor kucing yang sedang mengintip rumah tikus. Di dalam rumah tikus semua terlihat sibuk. Nenek sedang menyulam, ayah bercerita, ibu di dapur’. Sebagian besar dari kami mengambil tokoh kucing. Kak Bambang memancing satu usul ide, bagaimana kalau cerita tentang nenek yang kehilangan benang rajutnya? Lalu kucing datang membantu mencarikan, ternyata benang itu tak sengaja dimasukkan nenek ke dalam tas sekolah cucunya, dan seterusnya..dan seterusnya. Duh, kami jadi tersipu. Iya juga, ya. Ternyata kita bisa mendapat banyak cerita dan sudut pandang dari sebuah gambar.

Lalu Pak Yuliandi  memberi tugas kelompok.
Ada dua gambar, Raden Inten dan Si Pitung. Kalau enggak salah 4 kelompok (semua) memilih Si Pitung. Sebenarnya saya ingin memilih Raden Inten, tapi, hiks, saya tak tahu banyak tentang perjuangan dan kiprahnya sebagai pahlawan nasional. Jujur saja, ini menyakitkan. Miris. Masa sama pahlawan yang lahir dan dibesarkan di tanah yang sama, kita nggak kenal atau nggak mau mengenalnya? *sedih. ;( Semoga setelah ini semangat mengenal da mencintai pahlawan semakin menggelora. Aamiin. 


Baiklah, dengan ‘terpaksa’ akhirnya kami memilih Si Pitung, jagoan Betawi yang pemberani, gagah, dan kebal. Jadi kami ecaknya membuat script film mini gitu. Seru banget, soalnya ada dialog Pitung dan kompeni plus bentakan Verdomme! yang dibalas Pitung dengan logat Betawi aslinya. Hahahaha....
Ternyata, menulis itu sangat menyenangkan. Begitu banyak yang bisa diceritakan.


Sayonara.

Pukul 16.10 wib Ibu Yanti Riswara menutup acara. Semua berharap kegiatan ini bisa menambah semangat untuk menumbuhkembangkan dan menularkan semangat cinta literasi dalam lingkungan dan kehidupan sehari-hari. 
Bersama Ibu Yanti dan Duta Bahasa

Terimakasih pada seluruh jajaran Kantor Bahasa Provinsi Lampung dan pemateri.
Terimakasih pada semua teman-teman peserta Pelatihan Instruktur Se Provinsi Lampung tahun 2018. Tetap jalin silaturahmi dengan bahagia, yaaa.
 
Penutupan
 
Menulislah! Berkisahlah! Penuhi dunia dengan ilmu pegetahuan yang mumpuni.  Agar peradaban terbangun dan  menjadi sebentuk kesejatian yang hakiki.

 
Pulang. Menunggu hujan.


Salam literasi!


Tabik,

Fitri Restiana

Penulis Lampung 
Tapis Blogger

















0 komentar:

Post a Comment