Stop Body Shaming!




Body shaming




Sebenarnya, saya sama sekali tak tertarik ngomongin masalah area privat. Tak etis dan terlihat receh.  Lebih bernyawa jika berdiskusi masalah publik. Jelas dan insyaAllah mencerdaskan. Tapi apa mau dikata, pada kenyataannya saya harus bersuara, setidaknya menyuarakan isi hati orang-orang yang punya suara hati tentang tema ini. (Kok jadi belibet, ya :))

Teman-teman tahu kan apa body shaming? Body shaming itu mengomentari tubuh seseorang sengaja atau enggak dengan cara yang tak menyenangkan, atau bisa juga disebut bully verbal. Mulai dari postur tubuh, warna kulit, model rambut, bentuk wajah, pokoknya apa aja, dari pucuk kepala sampe ujung kaki. Untuk orang-orang seperti ini, kayaknya kalau enggak ngomenin orang lain sehari, bakal demam tinggi gelisah keringet dingin, bahkan kalau enggak dapat korban di dunia nyata, ya di dunia maya jadilah. Memangnya ada orang kayak gitu? Enggak tau, sih. Hehehe, konon kabarnya, ada. (Semoga kita terhindar dari hal-hal yang demikian, ya, Gaes. Aamiin).

Contoh body shaming tu begini.

Eh, itu pipi apa apem?
Abis nikah bodi lu masih kurus kering. Kurang dikasih makanan bergizi, ya?
Tu alis tipis banget kayak lidi disusun. Ditebelin napa? 
Coba deh sesekali berendem di air bayclin.
Kamu makin gendut aja.
Dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya.
Tuh, bacanya aja ngeselin, apalagi ngalamin, coba.


Ada subjek ada objek. Ada yang komen ada yang dikomenin.

Untuk yang komen, bisa jadi sekadar ngomong biasa, mengingatkan karena sayang, becanda level dasar, level menengah, hingga level menyakiti perasaan. Beberapa orang jenis ini, giliran dirinya yang diomongin, langsung deh ambil kanebo basah nutupin kuping, atau  minggat ke Konoha berharap ketemu Guru Iruka dan Kakashi demi minta resep anti baper. Dan biasanya mereka yang aktif melakukan body shaming punya jurus membela(h) diri ; Cuman becanda, kok, gitu aja ngambek, makanya bla..bla..bla, kan gue bilang gini karena sayang. Ya gitu-gitulah. Namanya juga pledoi.

Untuk yang dikomenin, ada yang cuek masuk kuping kiri keluar kuping kiri juga, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, menjadikan itu semua sebagai masukan untuk berubah, sedih, kecewa, kesal, senewen, marah, nyiksa badan  bahkan ada yang sampai suicide (kayak kasus di luar negeri sana. Naudzubillah min dzalik. Begitu mengerikan dampaknya)

Apakah itu artinya yang dikomenin baper alias lebay? Hohoho, sebentar, Seleste. Emang enak sih ya ngasih stempel ke orang lain. Ringan dan manis kayak makan permen kapas. Nyomot dikit bikin penasaran. Nambah terus sampe enggak sadar kalau dah mau habis. Buntut-buntutnya nyesek di tenggorokan. (ya ampun, tingkat gemes akoh dah level 8 sepertinya, hihihi).

Ini yang nulis cem pernah ngerasain body shaming aja.
Sependek ingatan, sewaktu kecil kayaknya aman, deh. Secara punya kakak banyak, enggak ada yang berani. Lagian Mama sering ngingetin : Jangan pernah ganggu orang, tapi kalau ada orang yang ganggu, lawan! Nggak boleh takut!. Sooooo, itu aku pegang betul sampe sekarang, Pemirsah.

Pernah masa kuliah, sebut saja namanya Parno, ngomong gini, “Fi, bodi lu kayak papan.” Waktu itu saya menatapnya tajam dan pergi ke gedung sebelah. Parno langsung ngejer minta maaf, bahkan sampe berlutut-lutut segala. Abis maaf-maafan, kami jadi sahabat dekat.  Saya inget-inget mah ya, beneran ternyata. Dengan baju kaos n celana jins atau celana  cutbray peninggalan Papa yang sudah dikecilin, diri ini sangat terlihat cungkring n enggak modis blas. Begitulah. 

Jadi sederhananya gini deh, Gaes.

1.     Sebelum mengomentari orang lain, sering-seringlah bercermin. Kalau kita bilang orang lain kurus gemuk, mata sipit mata belok, kulit putih kulit gelap, atau sejenisnya, ayo lihat diri sendiri. Sudah setampan dan secantik apa kah kita? Fisik itu untuk dijaga, bukan dijaja.
2.      Seandaikan mau becanda, atuh ayolah kita belajar becanda pintar. Banyak tema yang bisa diangkat. Atau kalau mau dijadiin profesi, coba sering-sering nonton film Charlie Chaplin, Dono Kasino Indro dan Kang Sule.  Siapa tau bisa meramaikan kancah perkomedian tanah air.
3.      Yang diomongin juga jangan baper-baper amat. Kalau omongannya masih level dasar, cuekin aja. Mungkin memang niatnya baik, untuk mengingatkkan supaya belajar merawat diri dan jiwa raga, biar cantik tampan rupawan plus sehat wal afiat seperti yang ngomong. Nah, kalau yang ini kudu diaminin. Kan enak tuh jadi sama-sama bahagia.
4.      Tetap bersyukur pada Allah SWT dan cintai diri sendiri. Enggak perlu mati-matian mengubah penampilan  demi membuat orang lain nyaman berada dekat kita. Teman yang baik adalah mereka yang menerima kita dengan baik juga. However we are.
5.      Memaafkan dan minta dimaafkan. Bisa jadi tanpa disadari, kita juga pernah melakukan hal yang sama, melakukan body shaming ke orang lain. Nah, loh.

Gitu sih. So please, kalau nanti ditakdirkan bersua dalam keadaan sehat wal afiat setelah masa #Covid19 ini selesai, cukup tunjukkan wajah riang gembira penuh kasih sayang. Jangan saling menyakiti perasaan. Bertanyalah kabar dengan tulus, saling mendoakan dan memberi kehangatan.

Masalah keren enggak keren, cantik enggak cantik, ganteng enggak ganteng, berubah enggak berubah, kita adalah kita. Bukan tokoh di Beauty and the Beast yang tangguh dan perkasa, Appa sahabat Avatar yang bertubuh besar tapi seringan awan, atau Moana yang jagoan dan beraninya kebangetan.

Aku adalah aku. Yang kadang cengeng kadang mati rasa. Kadang berani kadang takutan. Kadang seneng sendiri kadang damai di keramaian. Kadang seneng nyemil kadang demen makan kudapan. Eh….

Salam,
#PikirAlaFR

Rujukan :
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ “

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya." (https://almanhaj.or.id/3197-menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik.html)



0 komentar:

Post a Comment