Puisi Cantik di Hari Ibu. Aku Masih Ingat Tatapanmu, Ibu



Aku Masih Ingat Tatapanmu, Ibu



Aku masih ingat tatapan matamu, Ibu
Manakala aku terjatuh setelah berlari mengejar bola sampai ujung pagar
Engkau berpura tegar melihat darah mengucur dari lututku
Tak deras, tapi sempat membuatmu mengernyitkan alis
Sebentar, lalu tersenyum,
“Sakit, ya? It’s oke. Yuk kita kasih obat.”
Tadinya aku ingin menangis keras
Tapi melihat tenangnya engkau, Ibu
Aku mengurungkan niat
Aku hanya terisak sejenak, lalu meraih tanganmu.
“Ayo, Ibu. Sakitnya hanya sedikit.”
Kita masuk  ke dalam rumah, aku dekap bola kesayangan yang susah payah kudapatkan.


Aku masih ingat tatapanmu, Ibu
Saat aku mulai enggan mendengar pintamu
“Bisa tolong sapu halaman?”
“Ibu ingin mendengar murojaahmu pagi ini.”
“Bagaimana jadwal belajar dan main hpmu?”
Aku menjawabnya dengan tiga kata istimewa
Nanti, tunggu, dan sebentar
Engkau memperlihatkan kecewa
Aku pura-pura tak mengerti
Sampai engkau menarik napas panjang dan berlalu pergi


Aku masih ingat tatapan matamu, Ibu
Saat aku bukan saja enggan mendengar
Tapi lebih dari itu
Membalas pandangan sebagai tanda berontak
Aku pikir engkau terlalu banyak aturan
Padahal aku tahu itu adalah hasil kesepakatan
Aku pikir engkau terlalu menimbun tumpukan tuntutan
Padahal aku paham itu adalah segunung doa dan harapan
yang kau haturkan pada Sang Pencipta
Sepanjang pagi, siang, sore, hingga malam menjelang dan berlalu perlahan


Ah, Ibu
Aku tahu itu menyakiti perasaanmu
Aku tahu itu melukai hatimu
Tapi tetap saja aku lakukan
Menyesal, lakukan, menyesal, lakukan
Terus berulang
Maaf, Ibu
Khilafku berkepanjangan

Aku masih ingat tatapanmu, Ibu
Ketika sedikit prestasi aku persembahkan dengan beragam rasa
Binar mata, ucap syukur, pelukan hangat,
Terus menerus tak henti
Ketika aku katakan bahwa engkau berlebihan,
Ibu bilang, “Kau harus belajar menghargai kebaikan dan tak boleh mencela ketakbaikan. Agar engkau bisa memahami semua perasaan dengan bijaksana. Ibu pun sedang belajar begitu.”
Panjang kali sahutanmu, Ibu
Aku hanya mengerti sebagian daripadanya

Aku masih ingat semua tatapanmu, Ibu
Bahagia, luka, kecewa, sedih, bahkan marah
Tapi...
Tak sekalipun aku menemukan tatapan benci di bening mata Ibu
Tak pernah
Dulu, sekarang, bahkan ku pastikan hingga nanti
Ketika Allah mengijinkan kita sama-sama menua

Ibu,
Seiring usia berkurang
Aku akan berusaha semampu yang ku bisa
Agar Ibu hanya memiliki dua tatapan berarti untukku
Syukur dan berbangga
Doakan aku, Ibu


Pelita Nusantara, Desember 2017







 
Aku Meminta

Aku memintamu, Ibu dan Ayah
Untuk duduk menemaniku  di sini
 Sebentar saja

Sebenarnya, tak hanya itu yang aku mau.
Aku sangat ingin kalian mengajakku bercengkerama dan bercerita banyak hal.
Tentang keseruan masa remaja, tentang pertandingan sepakbola, tentang bagaimana kalian bertemu dan memutuskan mengikat janji,
atau tentang bekas luka di beberapa bagian tubuh.
Aku pasti akan mendengarkan dan berjanji mengambil yang baik-baiknya saja.

Tapi kalian tak seperti itu, 
Setiap ada kesempatan,
kalian lebih asyik dengan gadget atau yang lain,  pergi makan bareng teman-teman,  bahkan kalian lebih suka bertegur sapa dengan orang-orang nun jauh disana daripada sekedar berkata-kata denganku di sini.

Kalau sudah begitu,
ingin rasanya aku kembali ke masa lalu.
Masa dimana kalian menjadikanku raja sementara yang lain bukan apa-apa.
Masa kalian memberi pelukan hangat tanpa dua kali aku meminta.

Ibu dan Ayah,
Sejatinya kita tak berjarak
tapi ternyata begitu banyak kenangan yang terkoyak

Aku akan coba melupakan segala hentakan yang mulai sering aku terima.
Aku akan belajar mengabaikan hantaman marah yang kalian tujukan padaku entah apa alasannya
Aku akan coba,
Semampu yang aku bisa

Aku rindu tepukan pundak dari kalian
Aku rindu kalian menatap kagum atasku
Aku rindu menerima sesekali delikan mata dan cubitan ringan

Ibu dan Ayah,
Kembali padaku
Sebelum masaku habis
Sebelum aku dewasa dan menjadi orangtua seperti kalian
Sebelum kalian menua,
dan lupa apa arti cinta...

Dari aku
Anakmu




8 komentar:

  1. Selalu suka dengan puisi, ingat masa kecil dimana bapak saya suka sekali mengajarkan cara deklamasi puisi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, pasti kenangan yang tak akan terlupakan, ya, Kak Mail. Terimkasih sudah berkunjung :)

      Delete
  2. Puisi ini membuat mata berkaca-kaca, teringat betapa sabarnya seorang ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Kak Beranda Pringsewu... semoga kita selalu bisa membahagiakan orangtua , yaa

      Delete
  3. Aku sayang mamahku.. Tapi belum bisa bikin puisi romantis begini mb.. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak selamanya puisi bisa dimengerti. Hehe. Yg paling penting adalah doa dan sentuhan fisik.. ngobrol bareng. Aaaah.. uni juga sayang sama mamaaaaa

      Delete
  4. Puisinya bikin meleleh uni sayang,
    Puisi selalu menghadirkan rasa yang berbeda untuk mengungkapkan rasa. Menghadirkan cinta dari bait-bait diksi nan indah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Aku hanya belajar mengungkapkan apa yg ada di pikiran n hati ajaah. Hehe. Trmksih sudah berkunjung ��

      Delete