Buku Cinta Tanpa Syarat, Fitri Restiana



Review Buku Cinta Tanpa Syarat

Judul Buku : Cinta Tanpa Syarat
Penulis       : Fitri Restiana
Penerbit      : CV Anugrah Utama Raharja
Tebal Buku : xiv+168 hal
Harga         : 35.000
ISBN         : 978-602-6238-01-6
Cetakan     : Maret 2016


Bersama Ibu Yustin R. Ficardo, istri Gubernur Lampung
Penulisan buku ini bermula dari pemahaman atas banyak hal. Tentang anak, orangtua dan sahabat. Mencoba memaparkan dengan cara yang lugas dan sederhana tentang bagaimana cinta itu terbentuk dan terpola. Saya memahaminya sebagai salah satu model ikatan yang menafikan segala jerat dan mencoba mendefinisikan perasaan lalu merangkainya sehingga menjadi bacaan yang layak dan nyaman untuk dikonsumsi. Target saya adalah para orangtua, calon orangtua dan anak-anak khususnya usia 12 tahun ke atas.
Sepupu yang menetap di USA (Uni Yetty Shappel)

Sedangkan untuk menulis berdasarkan permintaan sahabat, wajib bagi saya untuk melakukan wawancara singkat dan mencoba menyelami perasaan, harapan dan mimpi mereka. Seru? Ya. Saya membutuhkan perjuangan yang lebih panjang dan banyak. Semisal butuh waktu sendiri yang lebih lama, jatah tidur yang berkurang, dan yang pasti banyak-banyak doa supaya tulisan yang saya hasilkan memberi pencerahan bagi diri sendiri, pun orang lain. Aamiin.
Teh  Gina Hedraswati, Motivator


Buku ‘Cinta Tanpa Syarat’ ini terdiri dari empat bagian.

Bagian pertama, “Inilah Aku,” berisi curahan hati anak terhadap orangtua. Terkadang, mereka tak mampu dan sungkan mengungkapkan isi hatinya. Tentang ketakutan, kekhawatiran, kasih sayang, bahkan marah dan caci makinya. Sebagai contoh adalah surat seorang anak yang ditinggal pergi ayahnya sejak bayi. Ketika mendengar bahwa ayahnya akan kembali, dia pun mempersiapkan segala sesuatu dengan riang hati. Namun, ternyata dia tak pernah bertemu laki-laki yang dulu berjanji akan menemaninya membuat aneka percobaan itu. Isi suratnya benar-benar memporakporandakan emosi dan mewakili mereka yang tersakiti dan tak tahu bagaimana sebaiknya bersikap. Di bagian ini, saya benar-benar mencoba mendalami peran sebagai seorang anak. Terinspirasi dari kehidupan masa lalu bersama mama dan 6 orang saudara. Kepergian Papa karena kecelakaan saat saya berusia 3 tahun, membuat kisah-kisah di bagian ini penuh dengan airmata dan  pembelajaran sebagai seorang anak.
 
Sastrawan Aceh
Sepenggal tulisan di bagian pertama, 

Ibu dan Ayah, kemarilah
Peluklah aku selagi kalian bisa.
Tataplah aku dengan cinta selagi aku masih menanti

Suatu saat, mungkin kalian tak akan lagi bisa mendelikkan mata atas sikapku
Suatu saat, kalian tak akan lagi bisa mengejarku
Suatu saat, mungkin kalian yang akan menangis dan aku yang melebarkan tangan memeluk kalian hangat
Suatu saat, bisa jadi aku akan membiarkan kalian tinggal di panti jompo,
Bukan karena tak cinta, tapi tersebab sibuk dan tak memiliki banyak waktu untuk kalian, seperti yang pernah kalian katakan dulu padaku

Tapi, Ibu dan Ayah,
Aku berharap tak demikian adanya
Aku tak akan mengijinkan kalian meneteskan airmata kecewa
Walau bagaimanapun, aku selalu menitipkan cinta di bening mata kalian,
Ibu dan ayah tersayang.....
Dari seorang sahabat yang tunanetra, Adi


Ada dua belas cerita di bagian pertama ini, yaitu Teruntuk Ayah dan Ibu, Jangan Tumpahkan Airmata, Mama Tanpa Papa, Cinta Sepanjang Masa, Saya Enggak Mau Seperti Emak, Sebatas Manakah Cintamu, Ibu?, Tolong Ajari Aku Menjadi Imam, Episode Hidup Bersaudara, Aku Ijinkan Engkau Tak Kembali, Maaf Aku Membenci Kalian, Hakmu Ada Padaku dan Sampai Kapan pun Juga.

Mas Ikhsan Aura, Penerbit
Bagian kedua,  “Kasih Sepanjang Jalan” memuat 9 tulisan yang tak kalah mengharu biru. Tentang apa yang dirasakan orangtua terhadap anaknya. Judul “Jika Bunda Pergi, Anakku” adalah 100 persen curahan hati saya sebagai ibu dua putra. Salah satu pesan saya pada mereka adalah, “Semoga setiap ibadah yang engkau lakukan, setiap doa yang engkau kirimkan, akan membatalkan kekuatan malaikat untuk mengayunkan cambuknya ke tubuh kami dan meluruhkan dosa satu persatu.  Engkau adalah amal jariyah kami, pertanggungan jawab  bunda dan bapak di yaumil akhir kelak. Berbekallah dengan pemahaman itu.”

Dedy A, Akademisi

Delapan judul lainnya juga berkisah tentang pengharapan orangtua terhadap anaknya. Saya baru menyadari, bahwa menjadi anak yang soleh, baik budi dan berbakti, merupakan pengharapan tertinggi bagi orangtua. Betapa doa ayah dan ibu adalah perekat kasih sayang sepanjang masa. Tak ada satu manusia pun yang bisa menggantikannya. Tak ada.

Founder IIDN

Bagian ketiga diisi oleh cerita-cerita seru dan lucu bersama buah hati. Menuliskan bagian ini, banyak tawa dan memori yang menari-nari. Tentang pertanyaan cerdas, tentang saya yang terkadang bingung menjawabnya, dan banyak kejadian-kejadian yang membuat saya berfikir begitu sedikit ilmu yang saya punya. Pertanyaan dan ide cerdik mereka mampu merubah kesal dan gundah menjadi sebentuk tawa dan gelengan kepala. Judul-judulnya antara lain Episode Persiapan Kemah, Semua Guruku Istimewa, Melawan Kezaliman, Berburuk Sangka dan Tentang Memberi. Sebenarnya masih banyak yang belum terungkap, semoga suatu saat saya bisa menuliskannya dengan lebih baik lagi. 

Pegawai swasta

Disusul bagian terakhir adalah tulisan inspiratif mengenai hubungan antara orangtua dan anak. Ada kisah Sa’ad bin Ali Waqqash, Thomas Alva Edison dan beberapa lainnya.

Penulis buku anak
Jujur saja, buku ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup lama, lebih kurang satu tahun. Tak lain dan tak bukan adalah karena 90% isi buku ini berdasarkan kisah nyata, baik yang saya alami sendiri maupun yang dirasakan oleh teman dan sahabat. Saya menuliskannya penuh penghayatan dan penghargaan yang tinggi pada semua yang terlibat di dalamnya. Tak ada PEMBENARAN BUTA ataupun sikap SALING MENYALAHKAN. Hanya bertujuan MEMAPARKAN dan semoga bisa pula MENCERAHKAN. Sangat berharap akan ada buku selanjutnya yang lebih lengkap, detail dan mengena.

Semua yang saya lakukan insyaAllah berasal dari ridho Allah SWT dan tak terlepas dari  dukungan suami, anak-anak, keluarga besar serta para sahabat. Sungguh, mereka semua memberikan energi positif yang tak pernah henti. Dari cinta dan sabarnya suami, saya belajar untuk bersikap lebih tenang. Dari keseruan anak-anak, saya mendapatkan banyak ide kreatif. Dari kasih sayang semua keluarga besar, saya menerima sebentuk ikhlas tanpa pamrih. Dari kebaikan para sahabat, saya menemukan makna persaudaraan dan kesetiaan. Alhamdulillah...

Bersama Abah, owner Balai Buku


Dengan mengucap bismillahirrahmaanirrahiim, semoga karya sederhana ini layak dijadikan hadiah dan mampu menjembatani perasaan dan pemikiran antara orangtua dengan anak. Yang utama, mampu menumbuhkan Cinta Tanpa Syarat. InsyaAllah. Aamiin.

#PenulisBahagia
#BundaNusantara 



2 komentar:

  1. Ah, aku selalu lupa untuk menuliskan tentang buku uni ini. Sampai benar2 lupa gimana emosinya waktu pertama kali membacanya. Makasih yaaa uniii

    ReplyDelete
    Replies
    1. wwww.fitrirestiana.web.idDecember 17, 2017 at 10:24 AM

      terimakasih, dosen ketjeh :) Semoga buku ini bermanfaat, ya.. :)

      Delete