Film Naura n Genk Juara, Bagian Mana yang Dianggap Kontroversi?



Selasa, 22 Januari 2017.

Nola, Oki, Naura, Panji (?)

Tepat pukul 14. 30 saya sampai di lokasi, Theatre XXI di Mall Boemi Kedaton untuk menonton film Naura n Genk Juara. Penonton sudah berdesakan untuk kloter berikutnya. Saya dijemput di depan pintu masuk, bergaya putri disamperin paspamput. Xixixixi. Duduk manis di N-14, satu deret dengan Kak Yoga, Mbak Naqi, kak Novi dan Kak Rinda dari Tapis Blogger. Bisa kompak gitu, ya? Iyalaaaah. Pan dapat karcisnya barengan, dari Kak Yoppie Pangkey, blogger n fotographer yang kerennya maksimal. Makasih, Kakaaaak...

Ternyata Naura, Bunda Nola, para pemain dan sutradara sudah ada di dalam, mengucapkan selamat datang dan terimakasih atas kehadiran penonton. Naura terlihat cantik dalam balutan kaos berwarna kuning cerah. 

Mbak Dikha, dua dari kiri (kacamata)

Ada satu yang bikin saya excited, ketemu dengan Mbak Dikha! Beliau adalah pemateri saat pembekalan kepenulisan buku cerita anak  yang diselenggarakan oleh Kemendikbud di Bekasi beberapa bulan yang lalu. Ternyata Mbak Dikha salah satu bagian dari tim kreatif konsorsium. “Aih, ini Mbak Fitri Restiana, ya?” Waah, senangnya, ternyata doi ingat sama #penulisbahagia ini, hehehe. Sayangnya kami nggak sempat foto karena gelap dan suasana tak memungkinkan. Hiks...

Tentang film Naura.

Film Naura n Genk Juara dimulai dengan adegan lomba sains di SD Angkasa. Seorang anak laki-laki, Bimo namanya, mendapat nilai terbesar dengan percobaan drone-nya. Dia berpikir akan menjadi ketua tim yang akan diutus ntuk mengikuti Kemah Kreatif. Tapi ternyata juri mengumumkan bahwa Naura yang akan memimpin tim dengan pertimbangan Naura lebih punya banyak pengalaman dan kemampuan.

Well, jujur aja, di bagian ini saya agak mengernyitkan alis. Entahlah. Apakah guru atau juri kurang memberi kesempatan pada Bimo,  atau mungkin memang Bimo tak menyimak ketentuan sebelumnya tentang hadiah bagi pemenang?  Ada yang belum tuntas. Dan inilah konflik awal dalam film yang berdurasi kurang lebih dua jam ini.

Saya suka melihat perlakuan dan gaya komunikasi ayah ibu terhadap Naura. Walau khawatir, tapi mereka memberikan motivasi dengan bijaksana. Ini tentu berpengaruh baik terhadap peningkatan kepercayaan diri Naura. Apalagi dialog disajikan dalam alunan lagu yang saya syukaaaa banget. Berasa nonton kabaret n kembali ke masa kecil dulu. Kereeeen!

(Berjanji padaku. Akan baik saja. Harus jaga diri. Kemanapun kau pergi. Pulanglah cepat. Karena ku akan rindu. Bawakan cerita yang banyak untukku)  Sebagian syair yang dinyanyikan Bunda Nola ini bikin saya baper maksimal. Ingat Mama, ingat waktu kemah, ingat merantau. Ingat, aaah.. banyak yang diingat...

Naura yang ramah.
Baik ke cerita. Kekecewaan Bimo ditunjukkan dengan penolakannya atas keberadaan Naura sebagai pemimpin. Dia merasa lebih hebat dibanding Naura dan Oki, rekan satu timnya. Sampai di sini, penonton sudah bisa memahami dan mengenal berbaga perasaan kecewa, egois, dan merasa hebat, siapa lagi kalau bukan diwakili oleh Bimo (yang juga memiliki sifat pemberani). Sementara Oki dan Naura punya sifat yang hampir sama ; suka kerja bareng, kompak, mendahulukan kepentingan tim daripada sendiri dan pemberani.

Bagian mana yang mendapat protes keras?

Sesampainya di Kemah Kreasi, Situgunung, anak-anak yang menyebut dirinya ‘ranger’ berkenalan dan bernyanyi riang. Naaaah, bagi saya, ini kesalahan fatal yang pertama, Naura memakai hotpants atau celana yang super  pendek! Jujur saja, ini amat sangat mengganggu kosentrasi. Secara Naura kan beranjak remaja dan dikelilingi teman laki-laki yang sudah baligh juga. Memperlihatkan paha hampir keseluruhan itu, tentu saja mendapat protes keras, termasuk saya. Seharusnya pihak sutradara, produser, bahkan pemain pun bisa memberikan masukan atas hal ini. Ingat, #KitaIndonesia, dimana adab etika dan kesantunan dijunjung tinggi! Amat sangat disayangkan jika film yang tumbuh di sela kelesuan perfilm-an anak-anak, harus ternodai dengan hal seperti ini. 
Banyak pakaian yang lebih sopan, kan?

Okeh, cerita selanjutnya adalah tentang empat anak yang melawan tiga penjahat pencuri hewan-hewan di penangkaran. Naura, Oki, Bimo dan Kipli (ranger yang sudah beberapa tahun beraktivitas di Kemah Kreasi membantu Pak Marsono) berjibaku dengan mereka. Oh iya, Pak Marsono diperankan oleh Oom yang kalau di iklan menjadi jin. “Aku kabulkan tiga permintaan.” Jadi, kesan lucu, konyol dan agak ngeselin,  melekat kuat pada Pak Marsono, setidaknya sampai di pertengahan cerita.

Sang penjahat
Adegan penjahat mengucapkan istighfar dan takbir berkali-kali membuat saya bertanya-tanya dan sangat tak nyaman. Dalam film Naura n Genk Juara,  kalimat suci itu terdengar sangat erat dengan para penjahat karena hanya mereka saja yang mengucapkan. Saya tak mendengar kalimat sejenis diucapkan oleh Naura dan teman-temannya, walau pada saat mereka dalam bahaya sekali pun. Sebenarnya sih tak masalah kalau tokoh baik tak mengucapkannya, toh ini film umum. Tapi terlihat kontras pada saat Naura dan Bimo melewati jembatan tali yang notabene keselamatan mereka terancam, dua ranger itu berdua berucap begini, “Dengan niat yang kuat, semest apasti didapat.” Saya melihatnya ini enggak fair. Kalau tokoh utama saja berucap seperti itu, seharusnya para penjahat tak perlu mengucapkan takbir dan atau sejenisnya. Kenapa penjahat itu tak ganti saja kalimatnya dengan “Ya ampun! Ya Tuhan! Kok bisa jatuh, sih! Wooi, lari! Hhaah!” atau apalah. Banyak kata-kata yang lebih umum daripada mengucapkan takbir atau istighfar. Ini yang kedua.

Salah satu adegan penjahat beristighfar dan berakbir
Adegan yang saya suka lainnya adalah ketika Naura berhasil memimpin teman-temannya untuk bekerjasama membebaskan Oki dan hewan yang dicuri dengan berbagai akal, terutama saat menggunakan hasil penemuan yang ramah alam. Bagaimana Bimo menyadari kesalahannya dan meminta maaf, juga patut diacungi jempol karena sudah menanamkan sikap berani dan berjiwa besar.

Tertangkap!
Cerita diakhiri dengan tertangkapnya Pak Marsono (yang ternyata adalah dedengkot gerombolan penjahat) dan anggotanya berkat kecerdikan Naura cs. End.


Ending
*****

Simpulan.

Ø  Delapan musikalisasi sangat menghibur.

Ø  Pesan menjaga alam, menghargai persahabatan, bekerjasama dan mendahulukan kepentingan orang banyak, sampai.

Ø  Pakaian Naura (terutama di bagian awal film Naura n Genk) sangat tidak layak dan tak ramah anak.

Ø  Pengucapan kalimat-kalimat Islami yang tidak tepat (peristiwa).

Ø  Saat Oki berujar pada Bimo ketika Bimo terpaksa buang air kecil di hutan, “Ketahuan udah gede belum sunat,” (yang berarti Oki melihat alat kelamin Bimo), adalah kalimat dan peristiwa yang berbahaya dan tak patut, mengabaikan nilai-nilai sex education.

*****


Secara pribadi, saya sangat menyayangkan film ini dibuat dengan tidak hati-hati. Masalah sengaja atau tak sengaja, silahkan teman-teman yang menganalisa sendiri.

Proses membuat film nyaris sama dengan menulis sebuah buku. Dimana dalam mengeksekusi ide, diperlukan adanya riset yang detail, matang dan mendalam, mulai dari setting, tokoh, apalagi dialog. Itu hukumnya adalah WAJIB!

Film Naura n Genk Juara bagi saya lalai atas hal-hal tersebut walau tentu saja ada beberapa nilai positif di dalamnya. Ini adalah sebentuk pelajaran agar lebih hati-hati dalam berkreasi.

Maunya sih saya merekomendasikan agar ada beberapa adegan yang di-cut, tapi entahlah. Secara saya bukanlah penggiat perfilm-an, hanya seorang #penulis yang berusaha santun, cerdas dan lebih baik.

Semoga ini tidak mematikan semangat penggiat film di tanah air untuk membuat film-film anak yang lebih berkualitas dengan mengedepankan nilai-nilai dalam Pancasila.


Salam,

Fitri Restiana
#Penulisbahagia


Satu nyonya peri bersama dua bidadari dan seorang jomblo baik hati :)

17 komentar:

  1. Keren mbak tulisannya... Mi nunggu filmnya di edit aja kalo gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Mbak Nining. Ayo lah kita tunggu :)

      Delete
  2. Ohh gitu toh, saya sepaham sama dek Fit, sudah dalam benak saya perihal pengucapan itu, meski belum nonton, hihihi...

    ReplyDelete
  3. Jujur reviewnya. Keren. Catatannya menarik.

    ReplyDelete
  4. Cerdas dan berimbang, ada kelebihan dan ada kekurangan.. namun melihat kurang sensitifnya penggarap film ini mengenai masalah yg berhubungan dengan agama tertentu, mungkin kurang direkomendasikan untuk ditonton anak tanpa pengawasan dan penjelasan orang tua...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. saya TIDAK merekomendasikan anak2 untuk menonton film ini, terutama yang berusia di bawah 12
      tahun. Terimakasih kunjungannya, Kak Spedial Tips :)

      Delete
  5. Sedih juga si adek naura gak ada yg ingetin tempat pakai hotpans,,, di hutan kan banyak nyamuk... Hiks. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. He em, Kak. Semoga Kak Naura sehat dan baik-baik saja, yaa :)

      Delete
  6. Makasih uni cantik, akhirnya bisa kasih penjelasan ke Mbk rahma kenapa film ini tak layak ditonton mbak rahma.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah... salam sayang untuk Mbak Rahma, ya, Umi :)

      Delete
  7. Good review, Mbak. Suka sekali :-)

    ReplyDelete