Empat Pilar MPR, Tak Boleh Lekang Oleh Waktu



 Empat Pilar MPR,  Tak boleh Lekang Oleh Waktu
Siap menanti Ketua MPR, Bapak Zulkifli Hasan, beserta rombongan


Sewaktu mendapat informasi dari Founder Tapis Blogger -Mbak Naqiyyah Syam-, bahwa MPR akan mengundang netizen Lampung dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, saya amat sangat berharap bisa ikut acara keren dan mencerahkan ini. Alhamdulillah,  setelah mengisi formulir  nama saya akhirnya tercantum bersama 59 blogger lainnya untuk mengikuti ngobrol barengMPR di Swiss-Belhotel. Senaaang sekali! :)

Apa pasal saya merasa excited?
Begini, selain memang ingin tahu banyak tentang Sosialisasi Empat Pilar MPR, mendengar kata MPR membuat saya mengenang kembali masa belasan tahun silam sewaktu menjadi sekretaris di DPR-RI (baca : kroco mumet, :) ). Gedung Nusantara I lantai 10 tempat saya beraktivitas dari pagi hingga lepas magrib yang hanya berjarak kurang lebih 150 meter ke Nusantara V (ruang sidang), menjadi saksi betapa pekerjaan sebagai anggota dewan itu banyak sekali ujiannya (uang, jabatan, politik, keluarga) sekaligus juga berkahnya (mengurus kepentingan masyarakat dan negara). Kalau nggak kuat iman, duh, kayaknya bakalan tersandung, deh. Parahnya lagi, bisa-bisa terciduk dan  masuk penjara. Sereeem, kan?   Tapi sama seperti pekerjaan lainnya, semua tergantung kita, sih, bagaimana menjalankan dan bisa memahaminya  dengan baik dan benar. Semoga para anggota dewan  kita mampu menjalankan tugas sesuai dengan sumpahnya sebagai wakil rakyat. aamiin.
 
Ki-ka : Hidayat Nur Wahid, Mahyudin, Zulkifli Hasan, E.E Mangindaan, Oesman Sapta
Oh iya, di DPR inilah awal mula proses kepenulisan saya tersalurkan. Melihat Pak Amien Rais (Ketua MPR), Akbar Tandjung (Ketua DPR) dan anggota mengadakan rapat, merupakan pemandangan yang membuat saya bersemangat untuk menceritakannya. Walhasil, ada beberapa tulisan yang berhasil dimuat di Suara karya, Republika dan Lampung Post yang berhubungan dengan kegiatan di MPR dan DPR RI. Alhamdulillah.

Eh, ini kok malah curcol. Hihihi, maaf, yaaaa..

Balik ke cerita Ngobrol Bareng MPR tanggal 19 November kemarin, saya beserta Mbak Izzah dan Umi Neny berangkat bareng menggunakan go car.  Pukul 17.40 wib kami sudah sampai di lokasi. Kak Wawan yang ramah dan senyumnya mungkin bisa membuat para jomblo cantik salah tingkah, siap mengantarkan tiga nyonya ini. Di meja registrasi, beberapa panitia dan Kak Novi Nusaiba sudah duduk manis sambil menyodorkan permen, eh absen.
 
Registrasi peserta
Saya mengamati para panitia, rupanya mereka dari kesekretariatan MPR. Tiba-tiba jadi teringat beberapa nama, salah satunya adalah Rafiq. Kami dulu sering bersama saat menjadi panitia di Sidang Istimewa tahun 2001 (agenda memberhentikan Abdurrahman Wahid dari jabatan Presiden RI). Lembur, cari makan, bahkan nyeduh minuman bareng. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya. Ada ragu, apakah beliau masih bertahan di MPR, sudah keluar seperti saya, atau malah karirnya menanjak?  Kata panitia, silahkan nanti dilihat, apa benar Rafiq yang dimaksud itu sama. Ealaaa, jadi seperti main tak-tebakan berhadiah, deh.
Tebak-tebak berhadiah, yang mana orangnyaaa? :)

Dan ternyataaaa... saya bersua dengan Bang Rafiq! Masih sama seperti puluhan purnama yang lalu. Berkulit putih, santai, terlihat smart dengan kacamatanya (sekarang agak berewokan). Kami sama-sama terkejut, saling sapa sebentar lalu bertukar nomor hp. Rupanya beliau sekarang berada di posisi Kepala Subbagian Pengolahan Data Setjen MPR RI. Waah, keren! Setelah itu.. blas... tak ada pertemuan lagi. Kami terhubung via whatsapp saja.  Semoga lain waktu kita bisa bersilaturahmi lagi, ya. 
 
Makan malam yang hangat dan penuh semangat.
Waktu solat Magrib selesai sudah, netizen menikmati hidangan makan malam yang enak dan segar. Saya agak bergegas karena harus mempersiapkan segala sesuatunya bersama dua co-founder Tapis Blogger yang lain, Mbak Heni Puspita dan Mbak Izzah Annisa. Sebagai informasi penting, Mbak Naqiyyah tak bisa hadir di acara kali ini tersebab sedang berada dalam perjalanan pulang dari mendampingi wisuda S-2 suaminya (Selamat, semoga ilmunya berkah dunia akhirat. Aamiin) Kami meminta Yandigsa untuk menjadi MC sekaligus pemandu acara. Alhamdulillah, kemampuannya tak diragukan lagi. Tuntas, tas, tas, taaaas!
 
Mc ketjeh Yandigsa. Eh tapi kenapa si #BegalCinta yang keliatan jelas, ya? :)

Pembukaan yang ramah dan bersahabat


Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh ibu guru solehah, Desma Hariyanti. Posturnya sih imut, tapi suaranya terdengar lantang saat bernyanyi dan membacakan puisi.  
Desma Hariyanti, ibu guru mungil bersuara lantang dan memukau
 
Menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Salam perkenalan pertama disampaikan oleh Ibu Siti Fauziah, S.E., M.M (Kepala Biro Humas). Beliau mengungkapkan kebahagiaannya bisa bertemu dengan kami dan berharap kami bisa menyimak dengan baik dan berperan aktif dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, baik lewat blog, instagram, twitter, maupun temu muka. Ibu yang ramah dan berasal dari Lampung Barat ini terus mendampingi hingga acara selesai.
 
Ibu Siti Fauziah
Sambutan kedua dipaparkan oleh Bapak Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H (Sekretaris Jenderal MPR RI). Pria yang cara bertuturnya tenang ini mengingatkan kita bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan pemberian Tuhan, tak bisa ditolak. Yang harus dilakukan adalah menjaganya agar tetap kokoh, tangguh dan terus bersatu. Perbedaan tak boleh menjadikan kita terpecah belah. Oleh karena itu, mensosialisaikan Empat Pilar MPR adalah kebutuhan mutlak yang wajib terus dilakukan. Naah, menggunakan media sosial dengan bijaksana adalah salah satu caranya.


Pak Ma’ruf lalu membacakan satu puisi yang sangat bagus, tanpa teks dan dengan  intonasi yang kadang mendayu kadang menghentak. Yuk, kita cermati isinya.

Manifesto

Masih Indonesia kah kita
Setelah sekian banyak jatuh bangun
Setelah ekian banyak tertimpa dan tertempa
Setlah sekian banyak terbentur dan terbentuk

Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan
Persatuan di atas perselisihan
Musyawarah di atas amarah
Kejujuran di atas kepentingan

Ataukah ke-Indonesia-an kita telah pudar
Dan hanya tinggal slogan dan gambar?

Tidak!

Karena mulai kini nilai-nilai itu kita lahirkan kembali
Kita bunyikan dan kita bumikan
Menjadi jiwa dan raga setiap manusia Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke
Kita akan melihat lebih banyak lagi
Senyum ramah dan tegur sapa
Gotong royong dan tolong menolong
Kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaaan
Kepedulian menjadi dorongan

Dari terbit hingga terbenamnya matahari
Kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh
Berkeringat karena semangat
Kerja keras menjadi ibadah
Ketaatan menjadi kesadaran
Kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan

Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarnya
Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati
Keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya

Hari ini kita gemakan, Ini Baru Indonesia!
****

Jujur, saya terkesima saat mendengar beliau membacakan ini dan nyaris lupa kalau harus menuliskannya di twitter. Semua diksinya cantik dan menggugah perasaan, terutama ini :
kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran (ketuhanan)
kejujuran menjadi bagian  harga diri dan kehormatan (kesalehan individu dan sosial)

MasyaAllah, bagus banget, ya?  Tulisan dari hati, akan sampai ke hati. Dan satu yang membuat saya lebih terkesima adalah..... ternyata puisi ini merupakan hasil olah pikir karya Pak Ma’ruf sendiri! Kok tahu? Iya, doong. Bang Rofiq yang kasih tahu, hehehe. Makasih info ketjehnya, ya, Bang. :)
 
Bapak Ma'ruf Cahyono
Beliau juga mengatakan bahwa sebagai anak bangsa, kita harus memiliki ketahanan moral dan ketahanan mental, agar kuat dan tangguh menghadapi derasnya tantangan negatif dari dalam maupun luar. Dari dalam adalah sikap-sikap seperti malas, dendam, serakah dan sebagainya. Dari luar misalnya paparan isu SARA, pornografi, miras dan zat terlarang, dan lain-lain. 
Materinya sangat mencerahkan dan menyegarkan :)

 Putra asal Lampung yang Membanggakan

Acara yang dinanti tiba. Apalagi kalau bukan kehadiran Ketua MPR RI, Bapak Dr. (HC) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M
https://id.wikipedia.org/wiki/Zulkifli_Hasan. Beliau tampil dengan memakai baju yang sama dengan peserta, kaos abu-abu bertuliskan MPR RI di lengan sebelah kanan dan Netizen’s MPR sebelah kiri. Kami mendapatkan baju dari dalam goodiebag yang berisi tas, majalah, notes, sticker dan buku. Semuanya kami pastikan sangat bermanfaat.
Tabikpuuun!

“Tabikpuuuun!” sapanya sembari mengatupkan tangan.
“Yapuuuuun,” sahut kami serentak, berasa ingin ikutan menebar pesona. (Kalau Pak Zul memang mempesona beneran, lah kalau kami pesona ala-ala, terutama saya, hihhi)

Ternyata beliau membawa rombongan, termasuk adik tercintanya, Pak Zainudin Hasan, Bupati Lampung Selatan. Malam itu, penampilan mereka berdua sangat kontras. Pak Zul terlihat santai dan sportif, Pak Zainudin elegan dengan batik, kopiah dan jambangnya, eh..
 
Bapak Zainudin Hasan. Trimakasih sudah berkenan mengarahkan pandangan ke hp penulis bahagia ini, ya, Pak :)
 

Pak Zulkifli Hasan yang sebelumnya menjabat Menteri Kehutanan RI, memperjelas makna Sosialisasi Empat Pilar MPR seperti yang sudah dipaparkan secara singkat oleh pak Ma’ruf Cahyono. Menurutnya, empat pilar yang berisi Pancasila sebagai dasar negara RI, UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara,  adalah komitmen yang harus dijaga, dipelihara dan diturunkan untuk generasi selanjutnya secara terus menerus.  Apalagi nilai-nilai dalam Pancasila sudah komprehensip, mencakup semua lini ; ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan. Jadi, cinta tanah air itu harus dipupuk sedini mungkin agar tak hilang ditelan zaman.

Saat ini, generasi muda memiliki peran penting dalam menanamkan sikap cinta tanah air tersebut. Apalagi media sosial sudah berkembang dengan pesat. Kabar nun jah di sana, bisa diketahui dari sini. Informasi A, bisa berubah jadi B. Artificial intelligence, bisa mendeteksi orang melalui postingan di media sosial merupakan sebentuk kegiatan yang amat mudah dilakukan dan dijangkau. 
Pak Zul : Tapis Blogger keren dan super!
 
Menurut beliau, sebagian syarat untuk bisa menjadi negara maju adalah memperbaiki aturan dan edukasi publik. Naah, di sinilah peran netizen sangat dibutuhkan, bagaimana mereka bisa memberikan informasi penting yang bersumber pada pengetahuan, bukan pada issue-issue menyesatkan. Isu SARA dan sejenisnya sudah selesai puluhan tahun lalu, saat para pemimpin negara kita bersatu dalam Pancasila. Jadi kalau ada kelompok yang masih berada di lingkaran seperti itu, jelas mereka ingin memecah belah! Intinya, EDUKASI. Pendidikan itu nomor satu!
 
Pendidikan itu nomor satu!
Mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diinternalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, lelaki berkacamata yang ramah ini mengatakan bahwa itu dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Diskusi, ngobrol santai, membantu orangtua, berteman; semua berpedoman pada Pancasila dan agama. Kalau kita sudah membiasakan diri, maka nanti akan berubah menjadi kebiasaan yang positif yang berarti mencrminkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
 
Internalisasi nilai-nilai Pancasila sedini mungkin.

Pertanyaan dari Yoga, Umi Neny dan Mbak Lilih yang intinya bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai tersebut, terjawab sudah. Dengan begitu, waktu ngobrol cerdas kami selesai.  Alhamdulillah. InsyaAllah banyak ilmu yang kami serap.
Yoga Pratama, penulis novel.
 
Lilih Muflilah, dosen imut.


Sesi berikutnya adalaaaaah.... jreng.... jreng... jreeng.. foto-foto!

Pak Zulkifli Hasan n tim, Pak Zainudin Hasan n tim, sama semangatnya dengan kami, para blogger Lampung.  Beliau tak sungkan menerima permintaan selfie dan wefie kami berkali-kali , akhirnya saya tergoda untuk ikutan wefie, hihihi)
 
TT
Oh iya, acara ini jadi Trending Topic di instagram, lo. Semoga salah satu ikhtiar baik kami untuk turut serta dalam mensosialisasikan  kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR ini mendapat berkah.  Aamiin.
 


 Terimakasih pada seluruh jajaran panitia dari MPR RI yang sudah mendesain acara ini dengan keren, santai dan berbobot,  Swiss-Belhotel, teman-teman Tapis Blogger dan semua yang terlibat.  You all the best!

Tabik,

Fitri Restiana, sang penulis bahagia
Tapis Blogger

 
Founder n Co-founder Tapis Blogger

3 komentar:

  1. Amboi ranca bana tulisannya Uni..ternyata dulu Uni di Setjen MPR RI ya..wahh, keren. Sukses selalu Uni :)

    ReplyDelete
  2. Ketahanan Moral & Ketahanan Mental :) suka dengan tagline ini

    ReplyDelete