PKI, tak boleh ada di Nusantara


Masih segar dalam ingatan.
Puluhan tahun yang lalu, tiap tanggal 30 September malam, kami duduk sambil tiduran berjejer di depan tv hitam putih 21 inch. Ada bantal dan selimut biru bergaris untuk berjaga2 jika ada yang tertidur sebelum film usai. Mama tak mau ketinggalan, satu kursi sofa di bagian tengah, dikhususkan untuk beliau yang harus siap menjawab jika kami bertanya. Oh iya, biasanya mantang rebus, singkong goreng atau apa aja sengaja mama buat biar kami nggak ngantuk. Jadi mulutnya ngunyah melulu. Hehehe.
Apa yang membuat kami semangat berjejer di depan tv? Apalagi kalau bukan untuk menonton film #G30SPKI.

Dari awal hingga akhir penuh pertanyaan. Mama menjawab tuntas semuanya. Tentang Aidit, Oentoeng dan PKI yang jahat, tentang para Jenderal dan pahlawan yang pemberani. Mama nggak terlalu menjelaskan siapa itu Gerwani. Jadi tiap ada adegan Gerwani nyanyi genjer2, beliau selalu mengalihkan perhatian. (Ketika saya sudah agak besar dan bertanya mengapa, "Perempuan2 itu terlalu jahat. Lagu mereka bikin mama marah, sedih juga takut. Bener2 PKI!" Begitu jawab Mama dengan mata berapi).

Tahun 1965, usia Mama sudah 20 tahun. Beliau dan kakak adiknya ikut aksi bergabung dengan KAMI, KAPI dan KAPPI. Saya sampai merinding kalau mendengar Mama bercerita tentang aksi2 melawan keganasan PKI. Nggak salah deh Buya kasih nama Zulfikar ke perempuan pemberani itu. *big love, my mom..

Salah satu adegan yang bikin kami sedih adalah ketika anak2 para Jenderal itu melepas ayahnya pergi. Persis seperti kami yang dadah2 ketika Papa berangkat ke kantor dan pulang dalam keadaan sudah tak bernyawa. Saya sih belum ngeh banget, tapi Mama dan kakak2 terhanyut dalam adegan itu. Mama, sudah pasti, berurai airmata.

Adegan lainnya saat Ade Irma meninggal. Ya Tuhan, terlalu menyedihkan. Juga tentang Piere, Jenderal yang diseret, darah yang bercecer (untung masih tv hitam putih, jadi masih aman untuk kami tonton) dan orang-orang yang dibantai membabi buta.

Gertak PKI itu bikin kami muak. Mama marah. Belum pernah kami melihat Mama seperti itu. Matanya yang sipit tapi tajam tak lepas dari tv. Istighfar, tangis, airmata, caci, semua campur aduk.
Kebencian Mama terhadap PKI, tak bisa diredakan lagi. Dan itu, diwariskan ke kami!

*****

Ya Allah, tempatkan pejuang kami kelak di surga-Mu.
Hukum mereka yang telah membasuh wajahnya dengan darah pertiwi.
Bukakan hati untuk mereka yang sekarang sudah dan akan bertobat. Aamiin.

September2017
#penulisbahagia yang sedang berduka
#NoPKI
#SaveIndonesia

0 komentar:

Post a Comment