Kenapa saya menonton film #G30SPKI ?

Si bapak masih di luar kota.
Si sulung tertidur pulas, lelah, tersebab dari jam 4 subuh harus bersiap menampilkan atraksi #patrolikeamanansekolah di SMPN 2 dan dilanjutkan dengan latihan rutin.
Si bungsu semenjak kemarin menginap di rumah Ayah Hatta dan Bu Venny Gustien, biasa, adopsi sementara. :)

Baiklah.
Bunda sendirian. Di depan notebook dan memasang whatsapp web demi mengisi kelas menulis resensi yang diadakan oleh #RumbelIIPJakarta. Ibu-ibu yang luar biasa dengan pertanyaan cerdas yang bikin saya termehek-mehek. Two thumbs up, deh! Pukul 21. 16 wib acara selesai.
Break, lalu menyalakan televisi. Bukan untuk menyaksikan gosip kelas teri, tapi demi menonton film G30SPKI.

Apa alasan saya memutuskan menonton film fenomenal ini padahal mata sudah mengantuk level 9,9?
Pertama, walaupun banyak media lain seperti buku atau tulisan di pernjuru dunia yang bisa membuka mata kita tentang apa itu paham komunisme, tapi dengan menonton film G 30 S, saya akan lebih merasakan ruh perjuangan sekaligus kekejian di situ. Melihat dengan jelas suasana malam dan subuh menjelang detik-detik pengkhianatan. Oh iya, mengenai bagaimana perilaku gerwani dan proses penyiksaan lainnya, tentu saja saya tak mau melihat. Terlalu menyedihkan, tragis, dan jahat! Dan di bagian ini saya memilih mengganti chanel dan membiarkan mata terlelap barang sekian menit. Kehilangan satu dua bagian tak megapa, asalkan saya tak melihat banjirnya darah dan mendengar kepongahan anggota PKI menyiksa para Jenderal. Sungguh saya tak habis pikir, bagaimana bisa mereka melakukan tindakan biadab seperti itu?!

Kedua, melawan lupa. Mengingatkan bahwa ada segelintir oang yang pernah menginginkan paham komunisme tumbuh subur di negeri ini. Paham yang mengutamakan prinsip sama rata sama rasa di dalam bidang ekonomi, sekularisme yang radikal dan menggantikan agama dengan ideologi komunis yang bersifat doktriner. Bagaimana bisa paham seperti itu tumbuh di Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, dengan Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sebagai pondasi utamanya? So, komunisme adalah lawan dari Pancasila! Clear, ya?

Ketiga, mempelajari strategi dan taktik gerakan PKI lebih teliti, yaitu bergerak tapi tak terlihat, seperti hantu. Mereka berhasil menimbulkan sikap saling curiga antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara. (mengenai senjata yang ditemukan di sekitar lokasi penyiksaan/ lubang buaya yang notabene adalah masuk wilayah lapangan Halim, pusat latihanAngkatan Udara). Mempelajari bukan untuk meniru, melainkan agar kita lebih waspada terhadap gerakan-gerakan serupa.

Keempat, belajar bersyukur bahwa hanya kepada Tuhan kita berlindung. Tidak ada satupun kekuatan yang bisa menandingi.

Kelima, menambah cinta terhadap NKRI dan menghargai jasa para pahlawan juga seluruh anak negeri yang sudah berjuang lahir batin. http://www.fitrirestiana.web.id/2017/09/pki-tak-boleh-ada-di-nusantara.html

****
Alasan berlaku untuk sesiapa yang memutuskan tak menonton dan atau yang menonton film ini. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dari sejarah.

Tentu saja untuk memahami bagaimana G 30 S PKI bukan melulu dari menonton film ini. Ada banyak bacaan dan buku yang mengulasnya. Jadi bagi yang nonton silahkan mengambil hikmah, bagi yang tak mau nonton juga bisa belajar dari media lain.

Percuma kalau gembar-gembor semangat mau nonton dan ‘mengecilkan’ yang tak mau nonton (karena beberapa alasan pribadi). tapi pas waktunya tayang malah tidur pulas. Tragisnya lagi, menonton hanya secara visual, tapi tak mau mengambil ibroh atas apa yang dilihatnya. So, be wise, yaaa.... 
 
#Penulisbahagia
#NoPKI
#CintaIndonesia

0 komentar:

Post a Comment