Resensi Buku Dear Nathan



 
Menghargai Perasaan Cinta milik Remaja



Cinta itu tak bisa dipaksakan. Ia hadir dan masuk ke dalam hati  terkadang tanpa diundang. Merupakan tindakan yang bijak jika kita mampu menjaganya agar tetap terpelihara dengan baik, bahkan memupuknya hingga tumbuh menjadi sebentuk ikatan yang suci dan berkah.

Buku Dear Nathan memcoba memahamkan tentang cinta pada remaja. Bagaimana perasaan itu muncul dan mulanya tertolak, namun akhirnya mampu menyapu semua rasa ragu dan takut. Nathan, seorang pelajar SMA yang ‘luar biasa’ bisa jatuh hati pada anak baru, gadis mungil dengan rambut sebahu, Salma namanya.  Bermula dari pertemuan di gerbang sekolah, Salma sangat ketakutan karena datang terlambat. Tetiba datanglah Nathan menawarkan bantuan yaitu menyelinap melewati gerbang samping sekolah. Melihat penampilan yang sedikit urakan, tentu saja Salma tak berani menerima. Tapi akhirnya dia luluh juga dan mengikuti Nathan dari belakang. Salma berhasil masuk, sementara lelaki berambut melebihi kerah leher itu malah minggat alias bolos!   

Kali kedua pertemuan mereka adalah dengan cara yang aneh. Karena ulah Jaya, sepatu Salma dilempar dan mengenai kepala Nathan. Salma harus mengambilnya walau dengan keringat yang menderas di dahi. Nathan malah dengan entengnya tersenyum dan tertawa melihat sang gadis pucat dan ketakutan. “Berhubung kamu pucat banget, saya jadi enggak enak. Lain kali, kalau ketemu sama saya biasa aja. Saya jinak, kok, nggak bakalan berani gigit.” (halaman 34)

Kali ketiga saat Nathan di depan mata kepalanya dikeroyok oleh belasan kakak kelas. Salma pingsan sehingga dibawa ke UKS. Nathan menyusul ke UKS, bukan untuk mengobati luka, tapi memberikan secangkir teh hangat untuk Salma.

Pertemuan selanjutnya diisi dengan kejahilan, keluguan dan banyak kejutan. Bagaimana seorang Nathan yang terkenal super cuek dengan perempuan, memberikan perhatian lebih pada Salma yang enggak cantik-cantik amat dan seksi seperti Serin atau Dinda, cewek yang selalu mengejar-ngejar Nathan. Satu kalimat yang membikin Salma terngaga di halte sekolah adalah saat Nathan berkata, “Meskipun saya tampangnya berandalan, tapi saya amat sangat menghargai perempuan. Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya... Entar malam saya sms, ya.” Salma termangu dan membeku sejenak mendapat perlakuan yang lembut seperti itu.

Kejahilan lelaki bertubuh tinggi itu pada orang lain selalu berbanding dengan kebaikannya pada Salma. Nathan yang sering mengambil minuman Afifah dan membagikan ke teman-temannya, yang berkelahi hingga dihukum berkali-kali, yang terlambat ke sekolah, yang tak mengerjakan pr, dan banyak lainnya. Sementara di depan Salma, dia selalu terlihat tenang, tulus dan penuh kesantunan. Terkadang Salma berpikir bahwa Nathan punya kepribadian ganda.

Pada suatu kesempatan sepulang dari toko buku, Nathan mengungkapkan perasaannya. “Saya cinta sama kamu. Enggak usah kamu jawab sekarang. Belum waktunya. Saya akan mengatakan itu lagi nanti.... setelah kamu benar-benar cinta sama saya.”  Sungguh, Salma merasa tegang dan tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menjawab, “ya sudah.” Selanjutnya, jawaban gadis yang sedikit kaku itu membuat Nathan ragu, apakah Salma benar-benar mencintainya.

Di sela kedekatannya dengan Salma, datanglah seorang teman masa kecil Nathan, Seli. Darinya Salma bisa tahu bahwa mereka dulu sempat berpacaran (cinta monyet) dan Seli masih mencintai Nathan. Satu lagi, ternyata Nathan memiliki kembaran yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Kematian kembarannya membuat Nathan didera rasa bersalah hingga saat ini. Berkali-kali Seli mencoba mendekatkan diri dengan Nathan. Tapi seberapa pun keras usahanya, hanya Salma yang ada di hati lelaki berambut gondrong itu.

Masalah lain yang dialami laki-laki yang selalu berusaha menutupi kesedihannya itu adalah tentang ibunya yang mengalami gangguan jiwa dan sedang dirawat di paviliun, juga tentang ayah yang menikah lagi. “Hanya ibunya yang bisa menyusun kepingan hati Nathan yang patah berkali-kali. Hanya ibunya yang mampu menjemput senyumnya yang kerap mati suri. Hanya ibunya yang mampu menolongnya dengan hati nurani” (312). Sungguh Salma tak menyangka begitu berat ujian yang harus dilewati Nathan. Selama ini dia berpikir bahwa kenakalan lelaki itu memang dari sananya. Ah, Salma merasa tak enak hati dan berniat akan menemani Nathan melewati semua ini. Walau, tentu saja akan ada banyak pertentangan hati dan kisah-kisah tak terduga yang menyertainya.

Membaca novel seorang penulis muda asal Lampung ini benar-benar membuat pembaca ikut larut di dalamnya. Kelakuan  yang konyol beriringan dengan perilaku hangat penuh persahabatan. Banyak makna yang tertuang dalam buku setebal 528 halaman ini.  Tentang cinta, keluarga, pertemanan dan persaudaraan. Penulis mampu mengaduk emosi pembaca dengan gaya bahasa yang luwes, seru, lucu dan terkadang mengharu biru.

Pemilihan kata tersusun manis dengan irama yang terkadang mendayu sesekali menghentak. Nyaris tidak ada yang tidak pas dalam novel ini. Buku yang sangat pas dibaca oleh para remaja, juga orangtua.

Judul Buku      :  Dear Nathan
Penulis             : Erisca Febriani
Penerbit           : Best Media   
Tebal Buku      : 528 halaman
ISBN               : 978-602-6940-14-8
Tahun terbit     : 2016

*******


“Coba deh sekali-kali kamu main ke hati saya, siapa tahu betah.”  (183)

“Kamu itu ilusi. Ilusi yang membelenggu. Atau justru ilusi yang diciptain oleh saya sendiri. Kasih saya kepastian, sebenarnya kamu suka sama saya atau enggak?” (214)

“Seandainya saya jadi cowok pertama yang menginjakkan kaki di hati kamu, gimana? Kira-kira keberatan?. Bakal saya coba, Sal. Bakal saya coba.”  (226)

“Tahu nggak kalau obor Monas dari puncak itu menyerupai perempuan yang lagi duduk?  Kalau kita berdiri di halaman istana Presiden. Ada yang bilang kalau itu sebagai wujud Bung Karno yang sangat menghargai perempuan.” (242)

“Cuma aroma cologne  bayi sama minyak telon, tapi kok bisa buat saya deg-degan?” (266)

Hanya ibunya yang bisa menyusun kepingan hati Nathan yang patah berkali-kali. Hanya ibunya yang mampu menjemput senyumnya yang kerap mati suri. Hanya ibunya yang mampu menolongnya dengan hati nurani. (312)

Kedinginan. Mengharap ada tempias, mengetuk rindu di dada. Hujan memecah keheningan. Menemani jiwa-jiwa yang diaduk di atasa kerinduan. Terdiam dengan detak jantung tak beraturan, angin berembus dan menemukan seseorang sedang menangis diam-diam. (313)

“Jatuh cinta itu enggak butuh alasan, Sal. Proses memulai jatuh cinta memang bisa terjadi tanpa alasan, tapi.. memepertahankan untuk tetap cinta atau melewatkan begitu saja, itu yang menurut saya harus butuh alasan.” (328)

Karena ibunya adalah tameng. Satu-satunya orang yang akan berani menerjang lupa dan menempuk batas rasa hanya untuk melindunginya.  Ibuny aadalah malaikat tanpa sayap. Satu-satunya orang yang selalu menemaninya kala tersesat sambil berpelukan di gumam dan doa tengah malam. (376)






“Apa saya harus terus menunggu, sementara yang ditunggu justru kepingin berlalu?” ((389)

“Hati cowok iu bukan baja, Sal. Hati cowok juga bisa retak karena terlalu lama menunggu senja, dan selamat, kamu udah berhasil ngeretakin hati itu.” (394)

Nathan tidak mengerti. Di balik amarah itu, ayahnya adalah seseorang yang paling memahami dan paling mengerti apa yang terselibut dalam pikiran dan keinginan anaknya. Di balik kata kasar itu, ada bahasa sederhana yang penuh makna dan kebaikan. Berharap agar anaknya sadar akan sesuatu yang semestinya diperbaiki. Berharap bahwa kata dapat membuka mata hati. (455)

“Tugas saya hanya sbatas mencintai, bukan memaksa agar dicintai. Saya percaya tiap hati pasti ada pemiliknya masing-masing. Dan seandainya pemilik hati kamu adalah saya, ke mana pun kamu pergi, hati itu pasti akan kembali ke pemilik sejati dan Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan kita lagi. Tapi kalau bukan milik saya? Tuhan juga punya banyak cara untuk nemuin kamu dengan yang lain.” (487)

Dear, Nathan. Terima kasih untuk semuanya. Pelajaran kehidupan dan pelajaran betapa  pentingnya menghargai perasaan. (520)


Buku Dear Nathan. Erisca Febriani, 2016.


**********

Buku yang bikin baper akut. Merasa dibawa ke masa puluhan tahun yang lalu, J Two thumbs up!


By Fitri Restiana


0 komentar:

Post a Comment