Cinta Tak Harus Memiliki, Bukan?



Begal Cinta Sang Yoga Pratama

Masa lalu yang datang adalah pembelajaran terhadap sesuatu yang hilang dan bukan untuk dimiliki. (Tetaplah memahami seperti itu) hingga akhirnya datang seeorang yang sebenarnya bisa mendampingi.” 
Yoga Pratama


Sebuah kalimat yang manis, bukan? Mengingatkan kita untuk tak boleh lama-lama larut dalam kenangan masa lalu. Karena semanis atau seburuk apa pun, kita sudah melewatinya, entah  dengan ikhlas, sabar atau bahkan berdarah-darah sekalipun. See, we are still alive untill now...

Buku ‘Begal Cinta’ mengajak pembaca larut dalam kenangan seorang cowok yang berulang kali mengalami patah hati. Duuh, baper, doong? Hmm, bisa jadi. Karena selain bercerita tentang bagaimana berdamai dengan masa lalu, Yoga Pratama  juga menggiring kita untuk memikirkan masa sekarang plus rencana-rencana di masa depan.Jadi memang full mengobrak-abrik perasaan.

Berkisah  tentang Goy, seorang laki-laki penyayang sekaligus juga sering galau. Berkali-kali hatinya tertambat pada perempuan, berkali pula dia harus merasakan sakitnya dikhianati atau ditinggal pergi. (Makanya,  seleksi, dooong, wkwkwkwk).

Sedari kelas lima SD dia sudah mulai suka dengan lawan jenis. ‘Korban’ pertamanya adalah Cici, anak pindahan yang cuek sekaligus ngegemesin.  Namun apalah daya, Towok, sahabat sejak balita yang  seompolan dan serebutan makanan, terus mengingatkan bahwa terlalu unyu-unyu untuk suka pada perempuan. Jadilah Goy memendam perasaannya sampai masa SD usai dan Cici pindah ke alam lain, eh, kota lain... :)

Masa SMP adalah saat dimana Goy merasa lebih percaya diri. Pasca menonton film Ada-Apa Dengan Cinta, dia berpikir bisa meluluhlantakkan beberapa gebetannya. Bagi Goy, modal mendekati perempuan itu enggak perlu bermodal wajah ganteng-ganteng amat (yang ini karena memang dia enggak punya), cukup dengan kemampuan ajibnya meracik kata, itu sudah mampu membuat cewek-cewek di sekolahnya merasa bahagia -walau tentu saja teori itu tak berlaku umum- dan memupuk cinta untuk dirinya.

Sebenarnya Goy sendiri bingung memaknai kata cinta, masa sih cepat sekali hatinya berpindah dari hati ke hati yang lain dalam hitungan bulan bahkan minggu? Tapi dia seolah tak berdaya dengan perasaannya. Alih-alih ini menjalin kedekatan, dia malah menjadi bahan permainan hatinya sendiri. Akhirnya Goy pun terus berpetualang. Tentu saja tak selalu manis seperti maunya. Ada penolakan, marah, tawa, juga pem-begalan (ckckck, sedari SMP sudah dibegal. Goooy, Goooy... J)

Masa Orientasi Siswa (MOS) SMA menabur banyak cerita. Bagaimana Goy dengan tingkat kesadaran di atas rata-rata menikmati peran sebagai seorang laki-laki yang didekati banyak perempuan. Mulai dari yang sekelas, kelas lain, kakak kelas bahkan olahragawati kelas berat, eh... enggak, ding. (lagipula Goy kan bertipikal sedikit mungil, kayaknya nggak masuk hitungan para olahragawati, deh, hihihi). Baginya, mencintai adalah membentuk sebuah hubungan dan siap menerima kenyataan, manis atau pahit sekalipun.

Setelah melalui perjuangan berliku tajam dan terkadang menyesakkah dada, akhirnya Goy berhasil memikat hati seorang perempuan cuek yang dulu berpita suara seperti laki-laki. Dulu? Yups, seseorang di masa lalu. Cici!  Goy bertemu lagi dan merasa dipersatukan. Dan ini salah satu bentuk kegombalan yang membuat Cici akhirnya tekuk lutut di hadapannya; “Ci, sepertinya gue nggak bisa lagi nulis puisi saat ini. Karena semua keindahannya sudah terlukis jelas di senyum kamu, di wajah kamu, di hati kamu dan dari cara kamu mandang aku. Aku baru bisa menulis lagi ketika keindahan itu juga menjadi keindahan aku.” (Bagi saya sih ini gombal. Tapi entahlah menurut  Cici. Yang pasti dia akhirnya klepek-klepek tuh sama Goy, hihhihi...)

Yang menarik dari buku ini adalah gaya bahasa penulis yang mengalir dan sesuai dengan keadaan. Ketika masa SMP hingga SMA, Yoga memunculkan dialog-dialog lucu dan segar ala remaja. Contohnya ini, “..... jadi jangan harap gue akan ngajak cewek naik BMW keliling kota, yang ada cuma motor bebek yang bikin cewek-cewek sosialita kena angin duduk kalau gue bonceng.” Kebayang, kan gimana kalau cewek sosialita dibonceng motor bebek sambil sibuk benerin konde..

Tapi ketika memasuki masa kuliah, dia meramu cerita ke dalam kalimat bijak yang tak menggurui, melainkan seperti bergumam atau berdialog dengan diri sendiri. Yoga juga mampu memaparkan konfik secara jujur apa adanya.

Tulisan terakhir, please jangan baper, “Ucapan selamat gue pun berderet di barisan papan ucapan selamat menempuh hidup baru lainnya di halaman rumah pengantin. Sedangkan gue berada pada barisan tamu undangan sang mantan dan teman.” Yups, Yoga kudu merelakan salah satu mantannya menikah dengan sang teman. Dan dia memutuskan memantaskan diri hingga datangnya sang pujaan hati.

Sedikit masukan dari saya, ada baiknya Yoga bisa lebih proporsional berkisah tentang orang-orang di sekelilingnya, terutama teman-temannya. Munculkan konflik yang lebih menantang agar pembaca merasa terpicu aderenalinnya.

Well, saya suka buku ini. Diksinya tematik. Lucu. Quotesnya mencerahkan. O iya, yang bikin tambah keren adalah foto-foto dalam buku ini berlatar belakang di salah satu situs budaya di Lampung,  Pugung Raharjo. 


Terus semangat, ya, Kak Yoga. Hope someday you will find someone who you love, verry love...  n nggak dibegal lagiii.. J



Salam bukan begal,
Fifi
****

Judul Buku           :  Begal Cinta
Halaman               : 163 halaman
Penerbit                : Aura Publishing

0 komentar:

Post a Comment