Dari Weber Sampai Walikota. Dari Aktivis Sampai Elitis Populis



Dari Weber sampai Walikota
Dari Aktivis ke Populis Elitis

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan.


Minggu. 23 April 2017

Setelah pamitan dan say thank you ke keluarga Angku Sofyan Zend atas semua penerimaan tulus dan keramahannya, kami diantar ke M.Go Travel (recomended dengan kursi nyaman dan space lapang) yang pollnya ada di belakang Depok Town Square.Tapi, olala.. kami terlambat 10 menit dan harus menunggu 50 menit lagi untuk keberangkatan selanjutnya. Jadi daripada manyun, kami cari bekal ke mall. Selain foto-foto lucu, rupanya Tante Ipi semangaaat banget beliin cemilan. Tiga kresek besar dikhususkan untuk kami. Ckckck. Makasih ya, sayaaang J
Beli cemilan dulu, aaah :)

 
Ki-ka. Uda Athir yang jago karate. Uwais yang sering melukin Teta di akhir pertemuan, dan Arung yang cool :)
"Naah, kayak gitu gayanya, Mas... " seru Uwais mengajarkan Mas Arung. :)

Tepat pukul 11.00, goodbye Depok!
Bagi saya, kota ini penuh kenangan, terutama  beberapa belas tahun silam. Lengkap dengan tawa bahagia, rindu dan sesekali airmata. Yang pasti mah, macetnya itu loooh.... wkwkwkwk...

Hampir sepanjang perjalanan lancar, tapi memasuki Pasteur hingga tengah kota, lagi-lagi bersua dengan macet. Kami akhirnya sampai di poll M.Go yang posisinya di samping Baltos. Menikmati hujan deras sambil menunggu sang kakak tertua menjemput, Uda Harlansyah/Delen dan putrinya, Teh Difa.

Hujan selalu mengingatkanku pada teduh dan tenang
 
Para bujang dengan sabar menunggu Pakwo datang.
Di sepanjang perjalanan, sang Letkol yang sedang menyelesaikan disertasinya itu bercerita sedikit banyak tentang perkembangan Kota Bandung.  Kami diskusi singkat dari Weber sampai Walikota. Dari masalah permanent public servant sampai Pamongpraja. Dari Dedi Mulyadi sampai RK. Apakah Prabu Siliwangi muslim dan melakukan Moksa? Bagaimana beberapa rumah tua dan mewah di Cipaganti dikuasai oleh para cukong? Dan yang paling seru adalah.... perjalanan seseorang dari aktivis menjadi elitis populis. Aaah, pokoknya jadi inget masa  kuliah dulu deh. Secara nilai mata kuliah perpolitikan saya masih berada di jalur aman, lah. Hehehe..

Ruman Ceu Popong, anggota DPR RI tertua, di Cipaganti Bandung.

Teteh menghidangkan sate, sup, dan siomay yang rasanya.. mmhhh.. maknyuus. Asyiknya menikmati kuliner diiringi sapa ramah Mamah Eyang Dedeh, Teteh, Kak Fiza dan Teh Difa. Sayang Kakak Fiza lagi nggak mood berfoto, hiks. Jadi tak ada kenang-kenangannya, deh ;(

Siomay Bandung yang begitu menggoda. Nyam..nyam..nyaaam...


Rumah Delen dan Teteh di Gegerkalong, hanya berjarak lebih kurang 200 meter dari wilayah Daarut Tauhid, tempat aktivitas utama Aa Gym. Tahun 2001-2002 saya sudah beberapa kali ke sini. Jujur, suasananya ngangenin loh. Apalagi kalau berlama-lama di dalam masjid dan menikmati kuliner d sekitarnya. Asli, bakalan susah berpaling. Uhuk...

Kami sholat Isya di sini. Bacaan sang imam membuat kekhusyu’an meningkat. Duh, andaikan bisa selamanya seperti ini, akankah gugur segala dosa? *yang makin lama makin bertumpuk.. hiks.. 
Pulang dari sholat Isya di Masjid  Daarut Tauhid
 Malam ini dengan berat hati kami memutuskan tak bisa menginap bahkan sekedar singgah ke Bekasi. Selain memang harus taat perintah sang komandan dan kangen keluarga di Bandung, alasan lainnya adalah tak cukupnya waktu. Tadinya mau booking yang jam 5 sorebiar bisa ke Bekasi, tapi karena full-boked, jadinya kami terpaksa meluncur di jam 2 siang. Hiks. Maaf ya, Mama dan Uni2 sayaaang. Semoga lain kali kami bisa menginap dan menuangkan kangen... InsyaAllah.

Kakak sekaligus orangtua bagi saya. Love you all.

Demi memanjakan mata dan menguak kenangan, kami jalan-jalan sebentar. Maunya sih warawiri berburu oleh-oleh, tapi tak enak hati ama Delen yang terlihat sudah lelah. Mau kontak temen, si Joni, doi lagi berada di Jakarta. Akhinya kami sejenak meluncur ke Rumah Mode di Jalan Setiabudi.



Rumah Mode adalah salah satu Factory Outlet terbesar di Bandung yang memamerkan aneka jenis kaos, jaket, celana dan pernak pernik lainnya. FO mampu memanjakan pengunjung dengan taman dan rest area yang cukup nyaman. Pepohonan dan patung-patung unik membuat pengujung cukup nyaman berada di dalamnya. (Eh tapi kalau malam sepi dan agak gelap, mungkin sereeem kali yaa, hehehe.. *penakutAkut)


Di Rumah Mode juga tersedia  foodcourt seperti roti, cendol, batagor dan pasta. Yang menyenangkan sekaligus ‘mengkhawatirkan’ adalah, adanya beberapa mesin ATM. Secara kalau yang uangnya enggak cukup, bisa langsung gesek, hehehe... (bukanGayaSayah... J)

O iya, sempat foto-foto sikit. Mau ambil view yang ketjeh, para ponakan enggak mau karena malu.. huuuu.. ya udah seadanya aja. Sing penting ada tanda lah kalau kami pernah berada di marih walau cuman sebentar. 



Tepat pukul 21.00 wib, Oom petugas mengumumkan bahwa outlet akan tutup. Siap melipat satu jaket untuk  Daying, satu jaket untuk Pandu, satu celana untuk Atin, dan oleh-oleh untuk calon mantu. Uhuk..  Saya n Bu Venny? Aah, yang penting mah anak-anak seneeeeng.. eeeaaa.... (walau kayaknya BuVen agak-agak nyesek gitu, hihihihi.. piisss)

Malam yang dingin bikin perut laper (padahal dah makan) sehingganya kami menyantap kuliner sekitar Daarut Tauhid. Asyik, ada nasi goreng. Setelah memesan 6 porsi nasi goreng spesial, kami pun nyantai sambil ngobrol.
Suasana DT di malam hari. Senangnya bisa kemari lagi..

“Teteh liburan di sini?” tanya si babang handsome.
Iya, A’. Kami tinggal di rumah Ibu Dedeh,” jawab saya.
“Oooh, Ibu Dedeh juragan kost-kostan? Beliau mah terkenal,” sahutnya dengan logat Sunda yang kental. Kami pun tersenyum sumringah.

Trus, karena saya teringat beberapa ‘kelakuan’ temen-temen yang posting foto kalau ketemu penjual ketjeh, maka saya ngomong ke Bu Ven, “Tukang nasi gorengnya ganteng. Difoto aja apa ya, Bu?” Maksud hati sekalian promo, gituh. Tapi celetukan Arung membuat daku melipir. Wkwkwkwk.. “Bunda ini! Udah putusan ya dengan Bapak?” Hahahaha... di situ saya ngerasa malu n enggak enak hati. “Enggaklah, Deeek... Bapak forever, lah.” (sambil ngarep jangan sampe bapaknya denger cerita ini, J)

O iya, racikan nasi gorengnya beda dengan yang biasa kami nikmati di Lampung. Yang sama adalah kami meminta tanpa vetsin. Jadi, bakso, udang, ampela, hati n sayuran direbus sebentar, ditiris, baru dimasukkan k dalam tuian bumbu. Sehingga aromanya... mmmhhh.... asli bikin baper, eh lapeeer... *efekGagalFoto.. hahahaha...

Malam yang teduh dan tenang. Kami terlelap dalam balutan angin dan cuaca sejuk menggoda.


Senin, 24 April 2017

Saya menikmati suasana subuh di Masjid Daarut Tauhid. Alone.Anak-anak pada subuhan di rumah.
Tiga shaff akhwat di saat subuh

DT dalam perbaikan. Semoga segera selesai. Aamiin.
 
Guest House-nya bikin mupeng loooh...

Time is off.  Saatnya pulang. Setelah semalam berhasil booking tiket #LionAir, pagi ini kami nyaris gagal dapat kendaraan ke bandara. Untunglah Teteh dan Delen berhasil mendapatkan seseorang yang bisa membawa mobil ke bandara. Duuh, punten dah bikin repot, nyak...



Mengucapkan terimakasih pada Mami Eyang, Teh Linda, Teh Difa (Semoga suka Buku Princess Muslimah-3 nya, yaa), Kak Fiza, A’ Irul dan teteh di rumah yang sudah nyiapin kebutuhan kami. Semoga Allah berkenan membalas semua kebaikan. Aamiin..


Tiba di bandara jam 10.20 wib. Menunggu di waitingroom 3 jam tak masalah. Selain lumayan nyaman, kontak charger dimana-mana, saya juga asyik menikmati bacaan yang belum tuntas, Buku Kartini, Surat-surat Kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, Penerbit Djambatan, 1989.
Membaca adalah salah satu pekerjaan yang saya sukaaa.. :)
 
Memasuki pesawat.

Daying        : “Rame, ya!”

Arung                   : “Nggak papa rame, Ying. Yang penting enggak berdiri.” (Gaya      
    serius  n cukup bijak)

Asli, saya dan Bu Ven ngikik abis sampe mau duduk. Hahahaha..


Pandu, Arung, Daying n Atin sangat kompak. Ini yang membuat saya dan Bu Ven senang mengajak mereka. Suatu saat, berharap kami bisa keliling dalam formasi lengkap, Keluarga Besar Zainal Abidin-Zulfikar Yusuf. InsyaAllah. Aamiin.


Jam 15. 30 kami sudah menghirup udara Lampung. Alhamdulillah.

Terimakasih atas doa para saudara dan sahabat.
Terimakasih pada keluarga besar Baginda Yatim, Muhammad Yusuf dan Sofyan Zend.
Terimakasih pada Mami Eyang dan keluarga di Bandung.

Semoga Allah memampukan kita mempererat tali silaturahmi.

Alkisah Fitri Restiana
Depok-Bandung
SriwijayaAir
LionAir
M.Go Travel
Damri

2 komentar:

  1. Ditunggu lg di bdg jangan cuma 1 hr ya biar bisa menikmati saung ujo dll yg eksotik khas bdg ya 😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siaaap, Pakwo. thanks for everything ya, our big brother :)

      Delete