Reuni di Februari



Reuni di Februari


            “Soni... nanti aku...”
            “Apa? Mau pinjam catatan lagi? Dari tadi kamu ngapain aja?” tukasku kesal.
            “Lho, dari tadi kan aku mandangin kamu. Memang kamu enggak sadar?” balasnya sok lugu.
            “Terus deh panggil aku Soni. Namaku S O N I A !” aku mengeja sedikit berteriak di telinganya. “Makanya, tuh rambut dipotong biar enggak budek! Laki-laki kok rambutnya mirip tante-tante,” ejekku gemas.
            “Perasaan hanya kamu yang bilang begitu. Kamu enggak suka, ya?” Kali ini wajahnya terlihat serius.
            “Aku enggak suka lihat rambutmu. Apalagi gayamu!” jawabku sambil ngeloyor meninggalkan dia berdiri di samping kursi.
            ‘Sonii... jadi bagusnya rambutku ini bagaimana dooong...?” teriaknya.
            “Botaaak!” jawabku asal.
*****

            Ruang B masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswi yang duduk di barisan depan. Mereka sibuk dengan alat make-upnya. Sebentar lagi dosen muda yang berwajah ganteng akan masuk mengisi mata kuliah Antropologi. Aku memilih duduk di bagian tengah. Menyeret kursi yang posisinya miring. Di deretan belakang, bergerombol mahasiswa senior yang mengulang mata kuliah. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris.
            “Ya ampuuun! Ini makhluk asing darimana?”
            “Waah, ada tuyul nyasar, nih!”
            Aku membalikkan badan dan menutup mulut cepat.
            Selang sekian detik, “Hahahha.... rambut lo dikemanain, Gas?”
            “Elu patah hati, ya? Tega banget Sonia bikin Bagas sampai begini!” celetukan menggema sepenuh ruangan.
            Sementara Bagas tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arahku. Aku hanya diam, tercengang.
            “Kamu lebih suka aku botak, kan?” tanyanya cengengesan.
            Aku menelan ludah sambil tersenyum kecut. “Kamu tetap manis, kok, Bagas,” gumamku. Pujian sebagai tanda permintaan maaf padanya. Senyum Bagas semakin lebar dan sumringah.
            “Cie..cie...” celoteh dari sana-sini.
               Aku tersentak dan pura-pura mencari sesuatu di dalam tas. 

*****

            “Soni, kamu sibuk banget ya akhir-akhir ini?” Bagas menghampiri sambil mengelus kepalanya yang mulai ditumbuhi rambut.
            “Ya sibuklah, Gas. Aku kan sekretaris panitia pemilihan Ketua Senat,” jawabku tak seketus biasanya.
            “Ah, kamu semakin jauh sama aku. Iya, deh.” Bagas berjalan mundur sambil mengangkat bahu.
            Gosip terpanas. Bagas yang patah hati. Sonia yang pura pura-pura enggak suka, yang egois, yang terlalu sibuk, yang.... ahh, aku semakin dalam menikmati kehidupan kampus. Melupakan yang lain. Tenggelam.
            Sampai akhirnya aku memutuskan berhijab. Belajar dari nol. Tidak lagi terlalu sering nongkrong di kantin hanya untuk sekedar ikutan main gitar. Tidak lagi bolos kuliah demi merayakan ulang tahun teman, makan bakso atau ramai-ramai ke pantai. Aku menarik diri pelan-pelan dari itu semua. Berat memang. Tapi bukankah pada akhirnya akan terasa ringan?
            Bagas pun tidak berani pecicilan di hadapanku. Dia menghormati pilihanku. Sesekali dia mencuri pandang. Sesekali dia mendekatiku hanya untuk bertanya, “Soni, kamu sudah makan?” “Catatannya aku pinjam lagi, ya?” atau “Kamu lebih cantik pakai hijab.” Aku hanya bisa tertawa. Kata Bagas, tawaku masih renyah seperti dulu.
            Setelah itu, Bagas perlahan menjauh. Menjelang semester akhir kami malah sangat jarang bertemu, sibuk dengan skripsi masing-masing. Sehabis wisuda,  Bagas harus segera terbang ke Brunei untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S-2.
*****
            Sepuluh tahun berlalu sudah.
            Mataku masih tertuju pada undangan reuni di facebook.
            “Kamu enggak kangen sama aku? Jauh-jauh aku dari Kalimantan mau ketemu kamu,” rajuk Winda.
            “Sonia, datang, ya. Aku butuh support kamu seperti dulu. Anak-anakku sudah menjadi yatim dua tahun yang lalu.” Sms dari Dena. Suaminya meninggal karena liver.
            Akhirnya Mas Singgih mengijinkanku. Hanya 3 jam.
            Avanza-ku melaju pelan. Sepelan doa yang kulantunkan. Semoga tak ada Bagas di sana.
*****
            Rumah Bambu tak terlalu ramai. Pepohonan dibiarkan tumbuh tak beraturan. Menaungi kursi-kursi lipat dengan aneka warna.
            “Sonia.... Subhanallah... kamu kelihatan tambah cantik saja!” teriak Wanti.
            Aku tersenyum senang melihat semua teman. Lumayan ramai. Ada 30 an orang.
            “Waah, ibu dosen! Kok pak dosen nggak diajak? Gimana keadaannya? Tambah ganteng, ya?” sambut Kia yang terkenal paling centil.
            “Pasti Pak Singgih engak mau ikut. Dia takut kamu kejar-kejar seperti dulu. Hahahaha...” Irfan membalas kejahilan Kia. Sekelebat mataku  melihat seorang lelaki berpostur sedang. Bagas!
            Saat yang lain sibuk menyambut teman yang  baru datang dan memilih menu makanan, aku sengaja duduk di bagian pinggir. Gamis biru muda dan hijab panjangku sedikit aku tarik menghindari gesekan kursi.
            “Assalamu alaikum, Soni.. Apa kabar?”
            “Eh... wa alaikum salam.. Mmmh, baik. Ka.. kamu?” jawabku agak tergagap sambil mengatupkan kedua tangan.
            “Seperti yang kamu lihat,” senyum Bagas. Raut mukanya terlihat dewasa dan jauh dari kata jahil.
            Sebenarnya aku sudah mencoba menghindar. Tidak enak rasanya kalau aku hanya berbicara berhadapan begini walaupun dalam suasana ramai. Tapi, sulit sekali menghindar.           Aku lebih banyak menundukkan kepala ketika dia mulai bercerita. Tentang pekerjaan dan tentang hatinya yang tak juga berlabuh di satu dermaga. Aku menarik nafas panjang. Teringat betapa Bagas sangat mengharapkanku. Dulu sekali.
            Ah sudahlah. Obrolan ini harus dihentikan. Aku bergegas pulang diiringi tatapan sendu darinya.

*****
            Satu bulan sesudah reuni.
            Aku masih dihantui senyum dan tatapan Bagas. Semua berbeda dengan Mas Singgih yang kaku dan otoriter. Dulu, Bagas menghujaniku dengan banyak pujian dan ucapan terimakasih. Mas Singgih? Seingatku, dia hanya memujiku sekali. Saat aku memakai gaun pengantin!
            “Ngelamun, Mi?” tiba-tiba Mas Singgih mencubit pipiku sembari mengerling. Tumben.
            “Eh, iya. Ngelamunin Abi,” jawabku mencoba memancing tawa.    
            “Hahaha... Abi kok dijadikan bahan lamunan! Umi masak apa hari ini?”
            “Masih ada lauk tadi pagi, Bi. Tapi kalau Abi bosen, nanti Umi masak lagi.”
            “O udang asam manis yang enak itu, ya? Nggak usah masak lagi, Mi. Itu sudah cukup. Enaknya poool,” senyumnya membuka tudung saji.
            ‘Hemm, kenapa sudah dua hari ini Mas Singgih berubah? Kemarin tiba-tiba dia mencolek pinggangku. Tadi pagi mengucapkan terimakasih sambil membungkuk ketika aku mengambilkan tas kerjanya. Barusan, dia memuji masakanku. Hari yang menyenangkan!’ batinku.

***
            Pukul 09.00 wib.
            Inbox dari Bagas!
            “Assalamu alaikum, Soni. Setelah reunian kemarin, sebenarnya aku ingin sekali telepon kamu. Tapi aku nggak berani. Aku ngobrol banyak dengan Dena dan dia cerita tentang perasaanmu padaku dulu. Aku hanya ingin memastikan, apa benar kamu pernah mencintaiku? Tolong jawab jujur, Soni. Bukan untuk membuka luka lama, tapi hanya ingin menuntaskan perasaanku saja. Setelah aku tahu jawabannya, aku akan benar-benar pergi. Tolonglah Soni. Please.”
            Airmataku menetes pelan. Ya, aku pernah mencintaimu. Aku pernah berharap tiba-tiba kamu berdiri di depanku dan mengeluarkan tawa jahilmu.
            Tapi itu dulu. Setahun setelah kamu memutuskan pergi sebelum benar-benar berjuang mendapatkanku. Kamu kalah sebelum perang. Kamu tak berani berhadapan dengan sang dosen muda berwajah tampan yang akhirnya lebih dahulu mendapat restu dari ayah ibuku.
            “Wa’alaikum salam. Bagas, aku bohong jika bilang tidak pernah mengharapkanmu. Aku akan menyesal jika tak mengakui dulu pernah menyukaimu walau sering kamu jahili. Tapi sekarang inilah aku. Semoga suatu saat kita akan bertemu dalam suasana bahagia. Kamu dengan pujaan hatimu. Wassalam, S O N I
            Tak ada balasan sampai dua minggu setelahnya. Sementara, Mas Singgih pelan-pelan menghujaniku dengan pujian. Terkadang seperti dipaksakan. Tapi tak apalah. Setidaknya dia sedang berusaha membuatku bahagia.
            Balasan dari Bagas.
            Alhamdulillah. Soni, sekarang aku lebih lega. Senang rasanya merasakan pernah dicintai oleh perempuan seperti kamu, hehehe (eh, aku mulai kelihatan jahil, ya? J)  Oke Soni, selamat berbahagia dengan Pak Dosen yang ganteng. Oiya, setelah dipikir-pikir. Dena itu hebat, ya. Ditinggal suami, dia berjuang sendiri mengurus anak-anaknya. Dia juga kelihatan anggun dengan jilbabnya. Menurut kamu..  hhmm... kalau aku meminangnya, apa dia mau, ya.... “
            Bagaaas... jadiin saja. Bismillah. Aku percaya kamu berniat tulus dan kelak akan menjadi imam yang baik.”
            “Makasih, Son. InsyaAllah tiga bulan ke depan undangan kami antar.”
            “Apa? Secepat itu? Waah, aku ketinggalan cerita, nih!”
            “Enggak, lah. Tadi sebenarnya aku hanya memancing reaksi kamu, hehehe. Kami sudah bicara serius setelah reuni waktu itu. Kamu orang pertama yang aku kasih tahu, kok. Ya sudah. Sekali lagi makasih ya, Bu Singgih.”
            Alhamdulillah. Ku tutup notebook sambil mengelap sisa airmata. Bukan airmata kecewa. Tapi airmata bahagia.
            (Sementara di sebuah kampus, seorang dosen berwajah ganteng sibuk merangkai kata cinta. Setelah beberapa minggu sebelumnya dia membaca naskah buku yang sedang ditulis istrinya. Belum terlambat untuk memulai)

************************************************************************
Alhamdulillah dimuat di Harian Umum Lampung Post. Minggu, 5 Maret 2017.

Fb. Fitri Restiana
Ig. Fitri_restiana

4 komentar:

  1. Membacanya spt membuka album kenangan. Satu hal yg amat sangat mmbuatku cemburu dg PENULIS untaian memori kmbali dpt dirasakan tak persis spt dulu tp cukup mnjd pengobat rindu.. Selamat ya ��

    ReplyDelete
  2. Iyaa. Mencoba mengurai. Terimakasih kunjungannya, Mbak Rita 😊

    ReplyDelete
  3. Wah keren banget ya mbak fitri ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuh, saya mah apa atuh, Kak Citra. Kak Citra tuh yang super duper kereeeen :). Makasih kunjungannya, yaa :)

      Delete