Menjadi Perempuan Tangguh dengan Manajemen IQ, EQ dan SQ yang Maksimal


Saya diminta mengisi materi di LKK HMI yang  akan dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2017. Membaca ToR (Term of References) yang diberikan panitia, jujur membuat saya mengernyitkan alis. Materinya cukup berat, yaitu tentang Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient (IQ, EQ, SQ). Hmm, ini bukan kajian saya. Maka saya pun segera mengirim kabar via wa bahwa sepertinya panitia salah orang. Tapi Mbak Rominta selaku Ketua Kohati Cabang Bandarlampung bersikeras bahwa mereka tak salah orang. “Kajiannya parenting, Yunda. Bagaimana mengelola ketiga komponen itu dalam lingkungan keluarga atau rumah tangga.”

Eng ing eeeng. Baiklah, saya akan coba. Bukankah terkadang kita harus belajar mengubah pola pikir, dari ‘INI BUKAN KEAHLIAN SAYA’ menjadi “BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMPELAJARINYA?’. Lagipula, tak enak juga menolak sampai dua kali. (Setelah beberapa hari yang lalu saya juga menolak menggantikan pemateri yang tak bisa datang)

Langkah kedua setelah membaca ToR adalah mencari referensi. Membuka google, bertanya pada seorang teman dari jurusan psikologi yang merekomendasikan membaca kajian Danah Zohar, lalu membuka perpustakaan mini kami. Olalaa! I find it! Buku waktu mahar nikah! Ya ya. Baru ingat. Yesss!
Buku acuan materi IQ, EQ dan SQ
Jadi menerawang ke masa lalu nih, hihihi. Dulu, waktu mau menikah, saya meminta 3 barang untuk mahar. Yaitu perlengkapan sholat, cincin dan buku. Perlengkapan sholat sudah agak usang. Cincin sudah tak muat di jari manis (dari 45kg ke 55kg, loh, Siiist, wkwkwk.. sebenernya itu modus supaya dibeliin yang baru n gramnya lebih banyak, *eh J) dan sebuah buku berjudul Emotional Spiritual Quotient karangan Ary Ginanjar Agustian. Bagi saya, buku itu bukan sekedar bacaan yang mencerdaskan, tetai juga pengingat bahwa ajaran Islam itu sangat komprehensip. Subhanallah...



Mempelajari materi selama dua hari  di sela aktivitas mencuci, memasak, bermain dengan anak dan menulis tentu saja membuat saya termehek2. Dua hari, broo! However, i have to do the best! Lembuuur! Lembuurrr! Yang pasti ditemani secangkir kopi susu.. eh enggak ding. Dua cangkir kopi susu, hehehe.


Besok tampil, sorenya slide belum kelar. Panik? Dikit. Tetiba dikabari bahwa sesi saya diganti siang karena pagi dipakai oleh Bupati Lampung Selatan, Bapak Zainudin. Alhamdulillah. Sebenarnya saya pengen banget menghadiri ngobrol bareng dengan Pak Bupati, tapi apa mau dikata, demi profesionalitas, saya harus menyiapkan slide dan materi lainnya. Hiks...

Bupati Lampung Selatan, Zainuddin Hasan

Arung memutuskan tak sekolah karena enggak mau dijemput jam 12 siang. Di luar kesepakatan kami kemarin. Jadilah akhirnya saya meminta ijin melalui wa ke Ibu Guru yang baik hati. Saya hanya mencoba menjaga emosinya agar tetap stabil, seenggaknya sampai emaknya selesai ngartis, hihihi. Dan alhamdulillah, doi bisa diajak kerjasama. Sepanjang saya ngisi materi, doi sesekali nyeletuk sambil makan chitato, permen, jus n baca buku. Dan sesekali pula minta supaya volume film Paddle Pop yang disetel di notebook saya diperbesar. Notebook? Iyaaa. Karena listrik padam, jadilah dia menjadi penguasa tunggal. Saya yang dah jor-joran bikin slide,  cuman bisa gigit jari karena slide tak bisa ditampilkan. Hiks.. di situ saya merasa mau ketawa sambil nangis guling-guling dicampur tarik napas panjaaaang banget. Hhhhh... Akhirnya saya harus lebih cerdas berimprovisasi mengarahkan acara ini agar materi bisa tersampaikan dalam suasana yang nyaman dan asyik. Fhiiuh..

Proses penyampaiannya lebih banyak sharing. Saya mengajak mereka berpikir pentingnya menyeimbangkan IQ, EQ dan SQ secara poporsional. IQ memang penting, tapi dia hanya menyumbang 6-20 % terhadap keberhasilan seseorang. Sisanya adalah EQ dan SQ. Bahkan, menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan spiritual (yang dipahami sebagai kecerdasan memaknai NILAI, who am i) merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Teori Ary Gianjar tentang ketiga komponen yang berdasar pada rukun iman dan rukun islam menjadi rujukan utama dalam proses sharing kali ini.

Menulis di metaplan. Serius.

Proses selanjutnya adalah bermain metaplan (wajib dalam setiap saya tampil). Saya meminta 14 peserta yang semuanya perempuan agar menuliskan APA SAJA YANG KIRA-KIRA DIHARAPKAN ORANGTUA TRHADAP ANAKNYA dan APA SAJA YANG DIHARAPKAN ANAK TERHADAP ORANGTUANYA.

Jangan abaikan Arung yang ikutan mengisi materi. Semoga terbiasa ya, Nak :)

Tak saya sangka, sesi ini menjadi ajang berhamburan airmata. Ah, ternyata harapan orangtua terhadap anak lebih banyak pada bagaimana mereka menjadi perempuan solehah dan berbakti (EQ dan SQ). IQ tetap dianggap penting walaupun bukan yang utama. Membaca metaplan yang mereka tempel sendiri di depan membuat saya juga belajar, bahwa penting sekali memposisikan diri sebagai sahabat dan orangtua yang baik terhadap anak. Pun begitu sebaliknya.
Waktu menempel sih ketawa-ketawa, tapi pas pembahasan bersimbah airmata :)
Pondasi dasar dalam menyeimbangkan ketiga komponen itu adalah AKIDAH, DISIPLIN, STIMULUS dan LINGKUNGAN. Memperkuat akidah dan disiplin akan menumbuhkan generasi yang kuat dan tangguh. Memberi stimulus yang tepat akan membuat potensi dan kemampuannya tergali dengan maksimal, baik logika, akademik dan empati. Dengan menempatkan anak di lingkungan yang dinamis, heterogen, maka akan memunculkan generasi yang memiliki toleransi cukup dan tetap memegang teguh ajaran agama. Semoga kita bisa. Termasuk saya yang masih harus belajar mempraktekkannya.

Sebagian olah pikir

Semua diberi kesempatan untuk berbicara. Ada Nisa, Risa, Eva, Luvia. Mereka bercerita tentang ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.

Menjelang ashar, saya keluar sebentar menemui Yunda Erlina Fauzy. Beliau dan Bang Arif (suami) adalah senior yang selama ini banyak membimbing kami untuk mengembangkan diri di HMI. Bahkan Bang Arif yang memberi khotbah di acara pernikahan saya dan Cak Kur.

Peserta minta tambahan waktu. Oke. Tambah hanya 20 menit karena saya pun harus menunaikan tugas berikutnya, ngojek (jemput) anak bujang yang sekolah di SMPN 25 Tanjungkarang.

Foto-foto sebentar. Langsung meluncur.
Bersama 14 peserta yang kece2 n keren2


Bersama Yunda Erlina dan para panitia yang luaar biasa

Sebenarnya masih banyak materi yang akan disampaikan. InsyaAllah lain kali bisa lebih matang. Aamin. Mohon ampun maaf atas segala khilaf. Mohon maaf atas segala salah. Harap maklum atas segal kekurangan.

O iya, ada 5 buku tanda cinta dari saya.
Buku Cinta Tanpa Syarat dan Aku Cerdas Mengelola Emosi

#Sharing
#AlkisahFitriRestiana

0 komentar:

Post a Comment