Curhat Sahabat

Semisal apakah engkau menganggapku, Nak?
Hanya seonggok daging tak bernyawa yang tak pernah memberimu bahagia?
Seumpama beban yang memberatimu tanpa jeda?
Atau seperti jamur yang menggerayangi tubuhmu setiap waktu?
Sebegitukah aku di hadapanmu, sekarang?


Anakku,
Sedari dulu aku berani memastikan, bahwa namamu selalu aku ucapkan di setiap lantunan doa
Aku berani memastikan, raut wajah yang setiap saat menari2 di sudut hati ... itu adalah rupamu
Aku berani meyakinkan, bahwa bermilyar senyum di bibirku, tertuju untukmu sepanjang waktu
Aku pastikan, aku melakukannya sepenuh cinta.. tanpa syarat....

Aku sangat berharap engkau tak pernah menghilangkannya dari sela syarafmu,
Bahwa aku yang selalu ada di sampingmu manakala engkau berderai airmata
Aku yang membasuh lukamu walau penuh peluh
Aku yang sesekali memarahimu ketika engkau malas mengerjakan pr.
Aku yang menghukummu saat dengan sadar engkau berlaku di luar nalar
Tapi sungguh, aku melakukan itu sedikitpun tanpa caci maki
Di dalam kesal, marah dan kecewaku, selalu terlontar segala pinta
Agar kau tak akan mengulanginya
Agar kau memiliki hati yang kokoh dan tegar
Agar kau bertumbuh menjadi lelaki soleh dan bijaksana
Jangan hilangkan itu dari memorimu, Nak.

Sekarang aku sudah menua. Renta dan terluka
Engkau mampu melupakan segala kenangan di antara kita
Tapi aku tak bisa
Tidak akan pernah bisa!
Bagaimanapun perlakuanmu padaku
Membiarkan aku menjauh darimu
Membiarkanku menahan rindu ingin berjumpa denganmu
Membiarkanku sendiri tanpa menerima sepatah ucap dan kata sayang,
Tetap tak akan merubah cintaku yang tak berbentuk padamu
Begitu luas... teduh dan murni
Walau terkadang terasa pedih di hati

Anakku,
Bukan aku yang memberi kesempatan
Tapi Tuhan
Dia masih mengijinkan agar kita bisa meluangkan waktu bersama walau tak seperti dulu
Di sela kesibukanmu di kantor
Singgahlah sebentar menjengukku
Tak banyak yang aku pinta
Aku hanya ingin menatap matamu
Dan bertanya,
Apakah ada aku melukai hatimu?
Apakah ada perempuan lain yang cintanya sebesar cintaku padamu?
Masihkah ada cerita baik tentang aku di relung jiwamu?

Aku masih di sini
Menantimu menepati janji
Tapi jikalau Tuhan berkehendak lain dan memanggilku untuk menghadap-Nya
Aku tak bisa berbuat apa
Aku masih menunggu dan berharap
Agar kita bersua di surga
Tempat yang Dia janjikan untuk anak yang berbakti pada orangtuanya
Salam,
Ibumu yang dulu kau cintai sepenuh jiwa

***
Tulisan ini terinspirasi dari seorang ibu di luar sana. Insyaallah kelak saya akan ceritakan, bagaimana beliau melalui hari dan nyaris lupa untuk bermimpi.. 😢😢

#alkisahFitriRestiana

0 komentar:

Post a Comment