Bunda Mencuri?



1.     Bunda Mencuri?

Beberapa hari ini saya sungkan sekali membikin cemilan. Di samping energi yang lumayan terkuras karena bongkar-bongkaran perabot rumah, ada beberapa agenda sharing yang butuh persiapan matang. Jadilah, saya akrab banget dengan warung tetangga (Enggak sampai ke mall, kok). Hihihi...

Selepas Magrib, anak-anak masih di mesjid. Sambil menunggu mereka pulang saya ke warung beli cemilan. Wafer, susu kotak, roti, keripik dan sejenisnya. Lumayan banyak untuk ukuran kami. “Tak apalah, biar untuk besok-besok,” begitu pikir emak yang diserang penyakit malas ini.

Pulang, setelah mengucap salam.

“Waaah, jajanannya banyak amat! Enggak sehat kan, Nda?” seru Arung. Antara bahagia dan galau sepertinya.

“Ya, jangan langsung dihabisin semua, Dek. Bunda masih ada stok bahan bakwan. Besok-besok nyemil buatan Bunda, ya,” balas sang bunda tak enak hati. Arung mengangguk dengan mata yang berbinar memilih aneka cemilan di depan mata.

“Yang ini harganya berapa, Nda?”
“Enggak tau. Lupa.”
“Kalau yang ini?” tanyanya menunjuk keripik.
“Mmhh, berapa tadi, ya!”
“Yang ini Bunda enggak tau juga?” kepo abis deh doi. Xixixi..
“Duuh, Adek. Bunda enggak tau. Tadi Bunda tinggal ambil-ambil aja,” jawab saya gemesh.
“Ya Allah, Nda. Kok Bunda gitu, sih? Bunda mencuri?!” tanyanya sambil berteriak.

Whaat? Emak yang baik budi ini dibilang mencuri? Seumur-umur belum pernah dituduh begini. (Kecuali waktu mencuri hati sang suami loh, ya, Hihihi)

“Ealaa, Dek. Maksudnya Bunda enggak nyimak waktu Oomnya menghitung. Bunda langsung bayar aja, gituh. Masa Bunda mencuri?”

“Oooo, hehehee. Soalnya tadi Bunda bilang tinggal ngambil-ngambil aja. Dedek pikir enggak bayar,” jawabnya polos sambil menyeruput susu kotak kesukaannya.

Hahahaha.. emaknya mati gaya. Iya, juga, sih. Ngomong sama anak itu kudu jelas dan tak terpotong-potong. Jadinya begini, deh. Untung emaknya klarifikasi. Coba kalau enggak? Kebayang kan betapa jatuh harga diri sang emak di hadapan anak bujangnya.


Mutiara Cinta :

Anak biasanya tak berpikir jelek tentang orangtuanya. Apalagi jika mereka menyadari bahwa kita selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan selama hidup. Tapi adakalanya kita yang tanpa sengaja menggiring mereka bepikir ke arah sana. Kita lupa, bahwa mereka bagaikan mata-mata. Mengamati gerak-gerik orangtua dan langsung bereaksi jika kita melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang kita ajarkan ke mereka. Satu pelajaran lagi, jangan menjelaskan setengah-setengah pada mereka. Usahakan mereka tuntas mengerti apa yang kita ucapkan. Ini untuk menghindari ketakmengertian dan  salah persepsi.

##
Arung, Kak Sisi dan Cik Memey. pasca bikin martabak :)
AlkisahFitriRestiana

1 komentar:

  1. Anak jaman sekarang memang cerdas ya mbak, ngak bisa jawb pertanyaan mereka asal hehehe.

    ReplyDelete