Bedah buku dan Sharing Parenting

Bedah Buku dan Peresmian Rumah Tahfidz Insan Cita

Sejaki pertengahan Bulan September, Mbak Milana Lastri sudah menghubungi saya untuk berpartisipasi aktif dalam acara peresmian Rumah Tahfidz Insan Cita yang didirikannya pada tanggal 19 September 2016. Bentuk partisipasinya adalah mengagendakan Bedah Buku Cinta Tanpa Syarat. MasyaAllah, tawaran yang amat sangat menarik. Tentu saja saya bersedia. Maka dengan mengucap bismillah, saya terima ajakan ibu tiga putri yang cantik ini.

Maka saya pun  mempersiapkan 25 slide powerpoint. Bukan berisi teori parenting, melainkan beberapa testimoni dan sebagian isi buku Cinta Tanpa Syarat. Mulai dari Bab 1 sampai Bab 4. Done. Salah satu pengharapan terbesar saya adalah buku ini bisa menginspirasi para orangtua untuk berbuat lebih baik lagi kepada buah hati. InsyaAllah.

Minggu, 23 Oktober 2016
Sejatinya acara dimulai tepat pukul 10.00 wib. Namun dikarenakan hujan, maka acara dimundurkan lebih kurang setengah jam. Sebelumnya saya sempat ketar ketir, sih. Pan saya kudu bawa notebook. Kalau kehujanan, piye? Bisa pending awak jadi penulis, hehe.  Tapi alhamdulillah, tepat pukul 9.45 hujan mulai berganti gerimis dan akhirnya semakin tipis, trus reda. Fhiiuh... Saya pun langsung meluncur dengan si Vega. Cuuusss...

Panitia masih terlihat sibuk memindahkan beberapa barang. Saya bertegur sapa sebentar dengan tamu yang mulai berdatangan. Tepat pukul 10.30, acara dimulai setelah Bang Gunadi selaku Ketua KAHMI Lampung dan istrinya, Yunda Dwita (Anggota Komisi XDPR RI) datang.

Acara yang dihadiri sekitar  tiga puluh tamu undangan ini berjalan dalam suasana penuh kekeluargaan. Milana Lastri selaku founder memaparkan tujuan pendirian rumah tafidz ini dan bagaimana rencana selanjutnya. Beliau berharap, Insan Cinta mampu menjadi sekolah bagi anak-anak sekitar dan memberi kontribusi dalam pengembangan pendidikan, terutama mengenai akidah, tauhid dan kecintaan terhadap Al quran juga mendapat support dan perhatian dari semua pihak.

Diteruskan dengan sambutan oleh Bang Gunadi. Beliau berpesan agar perjuangan ini jangan sampai berhenti. Alirkan terus ke generasi selanjutnya. Kelak bertahun-tahun kemudian, akan tercipta kaum yang mencintai Al quran dan teguh menjadikannya pegangan hidup. Aamiin.

Acara selanjutnya yaitu bedah buku. Tapi sebelumnya, ada satu puisi yang saya tulis dan dibacakan oeh Mbak Kuwara. Jujur saja, saya menangis ketika menuliskannya.. hiks..

Aku Meminta

Aku memintamu, Ibu dan AyahUntuk duduk menemaniku  di sini
Sebentar saja

Sebenarnya, tak hanya itu yang aku mau.
Aku sangat ingin kalian mengajakku bercengkerama dan bercerita banyak hal.
Tentang keseruan masa remaja, tentang pertandingan sepakbola, tentang bagaimana kalian bertemu dan memutuskan mengikat janji,
atau tentang bekas luka di beberapa bagian tubuh.
Aku pasti akan mendengarkan dan berjanji mengambil yang baik-baiknya saja.

Tapi kalian tak seperti itu, 
Setiap ada kesempatan, kalian lebih asyik dengan gadget, pergi makan bareng teman-teman,  bahkan kalian lebih suka bertegur sapa dengan orang-orang nun jauh disana daripada sekedar berkata-kata denganku di sini.

Kalau sudah begitu, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. Masa dimana kalian menjadikanku raja sementara yang lain bukan apa-apa. Masa kalian memberi pelukan hangat tanpa dua kali aku meminta.

Ibu dan Ayah,Sejatinya kita tak berjaraktapi ternyata begitu banyak kenangan yang terkoyak

Aku akan coba melupakan segala hentakan yang mulai sering aku terima.Aku akan belajar mengabaikan hantaman marah yang kalian tujukan padaku entah apa alasannyaAku akan coba, Semampu yang aku bisa

Aku rindu tepukan pundak dari kalianAku rindu kalian menatap kagum ataskuAku rindu menerima sesekali delikan mata dan cubitan ringan

Ibu dan Ayah,
Kembali padakuSebelum masaku habisSebelum aku dewasa dan menjadi orangtua seperti kalianSebelum kalian menua,dan lupa apa arti cinta...

Dari aku
Anakmu
***
Begitulah. Hasil perenungan dan mendengar harap dan keinginan dari beberapa anak. Sungguh, saya pun merasa tersentil.

Bedah buku menghadirkan tiga orang pembahas yang super keren.
Mbak Yunita, seorang guru yang menangani konsultasi kesiswaan. Mbak Heni, dosen IAIN. Mas Teguh Prasetyo, redaktur/editor Tribun Lampung.

Mbak Yunita dan Mbak Heni memaparkan bahwa buku ini sangat mengena karena mengisahkan kejadian sehari-hari sebagai orangtua dan anak. Pemilihan katanya mendayu-dayu sehingga pembaca merasa terhanyut di dalamnya (Ehm, J) Mereka juag menyarankan agar buku ini bisa lebih tebal dan memuat lebih banyak kisah. Dan beri masukan dari saya selaku penulisnya. Hmm, ide yang sangat keren. Semoga suatu saat saya akan mampu menulis dan menerbitkan buku yang lebih baik lagi,ya. Aamiin.

Mas Teguh mendapat giliran terakhir. Sebagai jomblo keren, tadinya beliau agak sungkan. Tapi demi membaca bukunya, lelaki yang super ramah dan murah senyum ini berkenan memaparkannya. Daan, justru beliau lah yang  terlihat lebih ‘menjiwai’. Mas Teguh bicara dengan suara yang tercekat dan ditahan. Emosi terharu melingkupi ucapannya. Tentang kerinduan pada almarhumah ibu, tentang kecintaannya pada ayah yang sekarang masih bersamanya. Aah,  seorang redaktur yang berperasaan halus dan baik hati. Kami coba menafsirkan, bahwa pastiah beliau teramat rindu pada sang ibu..

Kajian terus berjalan diiringi suasana syahdu mengharu biru.Tapi enggak lama, kok. Sesudah itu kami tenggelam dalam canda dan tawa.
MasyaAllah, indahnya ukhuwah.

Semoga Rumah Tahfidz Insan Cita semakin berkibar dan menebarkan banyak kebaikan. Aamiin.

Salam,
#AlkisahFitriRestiana

0 komentar:

Post a Comment