Untuk Ananda, Pandu

Teruntuk Pujaan Hati

Dear,  Pandu
Hari ini Allah menggenapimu di usia 13 tahun. Usia yang cukup rentan bagi seorang anak manusia. Engkau akan banyak menemukan dinamika unik di luar sana. Teman yang asyik atau ngebete-in, lingkungan yang mendukung atau membosankan, bahkan kau akan mendapati perbedaan sikap dari kami, orangtuamu.

Jikalau dulu kami nyaris berusaha untuk memenuhi keinginannmu, lalu sedikit mengurangi dengan memberi pemahaman hanya melalui bujukan, sekarang tidak lagi. Engkau sudah harus semakin cerdas memahaminya. Membuka pemikiran bahwa apa yang kau inginkan, membutuhkan perjuangan panjang. Bukan karena kami sudah tak sayang, tapi lebih pada membentuk pola pokir dan sikapmu agar menjadi lebih sempurna dan bijaksana.

Hari ini kami menemukan sesuatu yang berbeda di hampir semua anggota tubuhmu. Tatapan matamu kian tajam. Suaramu mulai terdengar lebih keras dan ada sedikit deretan rambut halus di atas bibirmu. Kami menerima kenyataan, bahwa engkau sudah baligh sekarang. Tak bisa lagi kami, terutama Bunda, mencium seenak waktu dan tempat, tak bisa lagi kami menggendong lalu mengayunkanmu bergantian. Tak bisa lagi. Tinggi badanmu sudah jauh melampaui kami. Alhamdulillah.

Duhai belahan jiwa,
Mungkin sering ada kesal di hatimu tentang kami. Enggak gaul, enggak pengertian, terlalu cerewet, kepo, dsb, dsb. Masih ingat saat engkau meminta perpanjangan waktu memegang hape dengan alasan ingin mengerjakan pr? Bunda sangat kecewa dan marah karena engkau  dengan sadar dan kekeuh melanggar kesepakatan yang sudah kita buat. Lalu Bunda masuk kamar dan mendiamkanmu sampai keesokan paginya. Masih ingat ketika Bapak yang pendiam dan nyaris tak pernah marah itu menatapmu tajam tersebab kata-kata kasar yang kau tujukan pada adikmu dan Bunda? Masih ingat? Sayang, engkau tahu, kami harus menahan diri agar tak terpancing oleh sikapmu. Susah, sungguh!

Tapi sejenak kami teringat atas semua kebaikan dan kesantunanmu. Terbayang wajah khusyu’mu saat menghapal Quran, teringat saat kau menyetelkan lagu kesukaan kami, saat mengucapkan salam setiap pagi berangkat sekolah, saat memberikan sebatang cokelat silverqueen di pagi buta dan memberi kecupan selamat, saat mentertawakan Bunda karena lupa menaruh kunci motor, saat mencuci piring makanmu, saat membuang sampah, saat menyapu teras, saat....saat.. ah, banyak sekali saat baik bersamamu. Maaf kalau selama ini kami lebih sering menghitung kesalahanmu daripada memuji limpahan kebaikanmu.

Dear ananda,
Mulai hari ini, belajarlah lebih tekun memaknai hidup. Engkau boleh kenal dengan siapa saja. Tapi pilihlah orang soleh untuk menjadi sahabatmu. Jaga hati dan lisanmu untuk selalu bersikap dan berucap santun.

Mulai saat ini, Allah sudah memerintahkan malaikat-Nya untuk menghitung semua amal dan dosamu. Kami harus terus mengingatkan itu agar engkau tak terjerumus dan salah tuju.
Sholatmu, Nak, sempurnakan.
Akhlakmu, perbaiki.
Lisanmu, jaga agar tak menyakiti.
Segala kebaikan, amalkan.
Adikmu, sayangi  sepenuh cinta dan baluri hatinya dengan canda

Sayang,
Jika suatu saat kau temukan kami berurai airmata, tolong pastikan bahwa itu adalah airmata bahagia atas hadirmu
Airmata tanda syukur karena dititipi seorang anak lelaki yang soleh,
Yang menjunjung tinggi Islam di atas segalanya
Yang tak gentar berkata benar
Yang tak takut sesiapa kecuali pada Allah
Yang menggetarkan dunia dengan ketegasan sekaligus kelembutan
Yang doanya insyaAllah didengar oleh penghuni langit
Yang rendah hatinya dan selalu berpijak di bumi

Matahari kami,
Maaf belum bisa menjadi orangtua terbaik untukmu
Tapi percayalah, dengan bismillah, kami akan berusaha mendekati itu

Doakan agar di akhir masa nanti, kita semua bertemu di jannah-Nya

Seluas cinta dari kami,
Bunda, Bapak dan Adek

17 November 2016
#AlkisahFitriRestiana
#BukuCintaTanpaSyarat
#TapisBlogger
my Ig Fitri_restiana

0 komentar:

Post a Comment