Cinta Tanpa Syarat di #UsiaCantik



“Umur 40 baru menghasilkan satu buku? Duuh, kemana aja selama ini, Jeng?”

Pertanyaan sekaligus sentilan itu itu sempat menari-nari di kepala terutama ketika launching buku pertama saya, #Cinta Tanpa Syarat(Catatan Parenting), bertepatan saat memoderasi Seminar Parenting Deteksi Dini Orietasi Seksual Anak oleh Sinyo Egie di Hotel Emersia, Bandarlampung, 2 April 2016 lalu. Saya, yang ‘mengaku’ penulis ini, lho! Ckckck...


Di Hotel Emersia tak sempat berfoto, jadi potonya pas makan di RM Begadang. *Bersamaa Sinyo Egie
Tapi, ya sudahlah. “Tak ada kata terlambat! Luruskan niat, kuatkan semangat. Bismillah.” Kalimat itu yang menyemangati ketika merasa apa yang saya lakukan sekarang ini nyaris terlambat. Tapi syukurnya, semakin kesini  saya semakin sadar, bahwa ini memang sudah seesuai dengan apa yang digariskan Allah SWT. Bahwa pada akhirnya saya memutuskan menjadi seorang penulis full di #usiacantik, 40 tahun. Tsaaaah..

Flashback, ya. Pasca menyelesaikan S-1 Fakultas Imu Sosial dan Politik Universitas Lampung dan bersama teman-teman mendirikan rumah singgah anak jalanan, tahun 1999saya  menerima pinangan dari seorang kakak tingkat. Pinangan menikah? Sayangnya bukan, hihihi. Saya diminta menjadi sekretaris pribadi anggota DPR RI asal Lampung. Wiiih! Saya yang orang daerah ini dan terbiasa bersahabat dengan teman-teman dan anak jalanan, kudu berkostum layaknya pegawai kantoran. Okeh, baiklah! Dengan bismillah, saya jabanin tuh pekerjaan keren. Berbekal doa dari mama yang super hebat, saudara dan para sahabat, saya berangkat.

Daaan, di sinilah hobi menulis saya yang sempat tenggelam bangkit kembali. Gedung Nusantara  1 Lantai 10 DPR RI menjadi saksi bagaimana saya lebih senang mengakhirkan pulang demi menyelesaikan bacaan, menuliskan ide lalu mengirimkannya ke media cetak. Waktu istirahat sering saya gunakan untuk berkunjung ke perpustakaan yang hanya berjarak 6 lantai. Sehari-harinya, selepas isya baru saya pulang ke Grogol, Depok atau Bekasi.

Pak Bos sangat peduli dengan hobi menulis saya. Setiap ada tulisan yang  dimuat di koran, dengan bangganya beliau pamer ke teman-temannya. “Ini tulisan sekretaris saya, loh. Udah ma*is, baik, p*n*ar pula,” pujinya tertawa riang. Biasanya beliau langsung memanggil saya untuk menerima ucapan selamat dari temannya. “Waah, hebat! Mau juga dong punya sekretaris c**d*s begini,” goda mereka. Duuh, jujur aja itu bikin saya gr. Tapi ups, astaghfirrullah. Tak boleh besar kepala, hehe.

Waktu sepertinya terlalu cepat berputar. Tanpa saya sadari, usia sudah menjelang 27! Saya masih asyik sendiri dan sibuk. Sibuk. Amat sangat sibuk. Akhirnya, saya memutuskan pulang ke Lampung dan menikah dengan seorang kakak tingkat yang dari dulu sudah diam-diam mengagumi saya. Tsaaaah.. (menurut pengakuan beberapa sumber yang dapat dipercaya loh, ya. Dan, sejujurnya, saya pun mengaguminya, ehm).

Menikah, mengurus buah hati sambil membersamai mama tercinta yang terkena tumor di ginjal, membuat saya sama sekali tak memiliki keinginan untuk kembali bekerja kantoran, pun menulis. Fokus ke keluarga dan beliau adalah hal yang paling penting. Mama akhirnya  berpulang setelah berperang melawan tumor selama lebih kurang dua tahun. Saya  harus berusaha memaknai sedih dan ikhlas di saat yang bersamaan. Susah sunggguh. Tapi suami, anak dan para saudara sangat membantu memulihkan segala sedih dan duka. Alhamdulillah. Di sela waktu itu, saya banyak menulis tentang mama. Perempuan hebat yang mengurus 6 anak usia 1,3 tahun sampai 12 tahun, sendiri, setelah Papa harus menghadap Allah karena kecelakaan. Eh tapi kata mama beliau tak sendiri, ada Allah yang selalu menemani. 

Mulai Menulis

Kekuatan dan kehebatan mama menjadi inspirasi utama dalam proses kepenulisan saya. Saya mencoba menyibak memori dan merangkainya sepenuh cinta dan jiwa. Mengalirkannya dengan pelan. Memasuki ruang ingatan yang pernah hilang. Tak ada airmata yang tak mengalir saat menulis tentang perempuan gagah itu. Di saat tak adanya, saya baru menyadari, betapa mama adalah seorang ibu yang ‘melebihi standar’. Beliau bisa lembut bak salju, keras selayaknya batu, kokoh seperti pohon beringin dan tegas semisal seorang ayah. (Ahh, mama, engkau sangat sempurna. Lengkap dengan kelebihan dan kekuranganmu. Maafkan anakmu yang belum sempat membuatmu tertawa bahagia, Ma, ;( )  Tulisan pertama tentang mama terseleksi di buku Antologi Kompasiana, Kartini  (sayang saya agak terlambat dan abai memesan bukunya) dan beberapa buku antologi. Salah satunya dalam buku Kasih Ibu Seluas Samudera yang diinisiasi oleh seorang blogger keren dan terkemuka, Pakde Abdul Cholik.

Membaca Buku Kasih Ibu Seluas Samudra selalu menguras airmata

Total ada 4 buku antologi saya yang berkisah tentang mama.

Saya terus menulis. Resensi buku, cerpen dewasa, cerita anak, tentang kasih seorang ibu, sikap seorang ayah, anak yang terluka dan sebagainya. Satu yang harus saya lepas adalah sebagai ghostwriter.  Akhirnya saya memutuskan menjadi seorang penulis setelah sebelumnya mencoba bisnis kue dan membuka warung walau tak berumur panjang, hehehe.

Dampak menulis


Pertama, membuat kita merasa kurang ilmu. Sehingga kita akan semangat untuk terus dan terus belajar menajamkan tulisan serta menguatkan analisa. Tak boleh merasa cukup. Umpamakan balon yang diisi udara. (eh, pas nggak ya perumpamaannya, xixixi).  
Kedua, memperluas jaringan pertemanan. Berkecimpung di dunia kepenulisan, mengenalkan saya pada penulis-penulis keren di tanah air. Media facebook, blog, ig dan twitter sangat memudahkan semuanya. Sehingga, dari perkenalan di dunia maya, bisa berlanjut ke dunia nyata. Semisal saat saya diminta Mbak Izzah Annisa (Penulis buku best seller 10 Pahlawan Islam) mengisi materi kepenulisan di SDIT Prmata Bunda.
Jurus Batu Akik dan TriAt. Anak-anak penuh semangat!

Dari dunia maya, akhirnya kami memutuskan bertemu di dunia nyata. Sehingga muncullah #TapisBlogger dengan Mbak Naqqiyah Syam sebagai inisiatornya.
Para blogger super. Kali  ini Kak Rangga (berjenggot) jadi artisnya, :)
 
Ketiga, memacu semangat untuk bisa melakukan yang lebih baik lagi. Canda dan berbagai bentuk support, tentu menjadi membuat kita merasa sanagt berarti dan ingin melakukan lebih banyak kebaikan. Ahh, semakin berkurang usia, semakin banyak yang seharusnya bisa dilakukan. Mengapa? Karena idealnya kita akan semakin paham dan cerdas dalam memilah serta memilih jalan mana yang harus ditempuh. Bukankah seperti itu sejatinya hidup? Memilih dan siap memikul konsekuensinya? 

Satu persatu kegiatan sebagai penulis berlanjut. Saya diminta memoderasi talkshow Foru Lingkar Pena Lampung yang mendatangkan Mbak Sinta Yudisia sebagai pembicara utama, Mbak Izzah dan Kak Ikhsan Aura. Senengnyaa! Mana peserta dan panitianya pada oke semua. Jadi berasa ikutan ngartis sayah, hehehe.
 
  
Talkshow FFLP Lampung bersama Sinta Yudisia, Izzah Annisa dan Ikhsan Aura. 4 Sept 2016
Setelah itu teman-teman yang lain juga meminta kesediaan saya untuk bedah buku Cinta Tanpa Syarat sekaligus peresmian rumah tahfidz Insan Cita. Tiga pembahas dan satu moderator nyaris meneteskan airmata saat mengupas buku ini.
 
O iya, selain berbagi melalui offline, saya juga pernah beberapa kali diminta sharing melalui online. Sebenarnya enggak pede. Tapi saya kuatkan niat berbagi walau ilmu masih seujung jari.

Akhirnya, di pengakhir tahun 2016, menyusul terbit buku saya yang lainnya (duet dengan Mbak Watiek Ideo). 26 September buku Aku Cerdas Mengelola Emosi disusul  14 November Princess Muslimah dan 9 Mutiara Kasih Sayang. Alhamdulillah. Berkah yang sangat luar biasa di usia yang tak lagi muda. Dan insyaAllah akan terbit buku lainnya di awal tahun 2017. Mohon doanya, yaa...


Buku Cinta Tanpa Syarat bersama Ibu Yustin Ficardo, istri Gubernur Lampung
Ini adalah salah satu moment terbaik dalam hidup saya. Dikelilingi keluarga yang selalu mengingatkan dan memberi limpahan kasih sayang serta para sahabat yang tak henti memberi nasihat.  MasyaAllah. Semoga semua ini berkah dan menjadi ladang amal untuk kita semua.

Talkshow Buku Aku Cerdas Mengelola Emosi di Gramedia Bandarlampung

O iya, walau seorang penulis cukup banyak menghabiskan waktu di depan laptop, bukan berarti menjaga penampilan itu enggak penting, loh. Apalagi untuk penulis perempuan usia 35-an ke atas seperti daku. Ehm. Menjaga pikiran tetap jernih,  tubuh tetap bugar dan kulit tetap cerah, adalah sebagian syarat mutlak di usia ini. Minum air putih, mengkonsumsi buah, sayur dan karbohidrat secara seimbang tentu sangat dianjurkan. Sedangkan untuk kulit, pilihlah produk yang terpercaya. Saya tadinya tak begitu peduli, tapi melihat banyak teman memiliki wajah dan kulit yang kinclong, timbullah kepo positif saya. Hehehe. Ternyata mereka memakai produk L’oreal, terutama Revitalilift day cream dan Revitalift milky cleansing foam. Saya jadi ikutan pake, deh.

Jadi ingat waktu wawancara dengan Wartawan Tribun, Pun Yoga Noldy Perdana, 
“Mbak Fitri, sebagai seorang penulis dan ibu rumah tangga,  di usia 30-an ini apalagi yang Mbak cita-citakan?”
Duuh, yakin sekali dia bertanya begitu.
“Mas,maaf, usia saya sudah 40 tahun , loh,” jawab saya senyum-senyum sumringah gimanaa gituh, Xixixi..
“Oh, maaf. Saya kira usia Mbak sekitar 35-an,” sahutnya sambil garuk-garuk kepala.
Aiih, di situ saya merasa pengen ambil cermin kibas kudung, wkwkwkwk..

“Saya ingin tetap menulis dan mampu menuangkan ide dengan baik, santun dan asyik,” jawab saya serius.


Menulis dengan hati akan sampai ke hati. Menulis dengan logika akan sampai ke logika. Cobalah mengkolaborasikan keduanya. Akan kita temukan bahwa sebuah tulisan bukan saja enak dibaca, tapi juga memiliki ruh untuk selalu dicinta.”   



“Fokus itu bukan melulu tertuju pada satu titik. Tapi juga pada bagaimana agar merangkai titik tersebut sehingga membentuk sebuah garis.”


Semoga apa yang saya tuliskan memberi kebaikan dan mendapat berkah. Aamiin. 


Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift

13 komentar:

  1. Kereen, euy. Tetap produktif di usia cantik. Moga bisa terus menginspirasi kita2 yang muda ini, yaaa... *uhuk! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahai anak muda penulis unyu.. terimakasih yaa.. 😀😀

      Delete
  2. Rayyaan sudah punya tuh bukunya Bunda Fitri ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyeek. Tunggu buku selanjutnya ya, Kak Rayyan... xixixi

      Delete
  3. Keren banget Mbk Fifi, bisa fokus menulis dan tetap membersamai tumbuh kembang anak-anak. Mantaap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaih... bahagianya bertemu denganmu n temen2.. kita saling suport. Makasih yaa... 😍

      Delete
  4. Replies
    1. Duuh... makasih kunjungannya, Mbak Traveller... 😍

      Delete
  5. elok mbak, semoga tetap diberi kesehatan untuk terus berkarya....Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih. Saya barusan berkunjung ke blog Jeng Yuni. Stempelnya nanti ya. Mau baca yg lain2nya juga. Keren2 tulisannya.. ��

      Delete
    2. Makasih. Saya barusan berkunjung ke blog Jeng Yuni. Stempelnya nanti ya. Mau baca yg lain2nya juga. Keren2 tulisannya.. ��

      Delete
  6. Luar biasa si mbak..sudah menulis banyak buku..saya pernah nulis tapi masih keroyokan sama teman2 yang hidupnya di luar negeri..yang ini lg digarap..Usia cantik? oh iya ;) salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
  7. ah usia mbak fitri segitu masih terlihat cantik mbak..

    ReplyDelete