#AksiDamai411



November 2016

Beberapa hari yang lalu, saat gencarnya fenomena #aksidamai411, saya pun larut di dalamnya. Gemas rasanya melihat orang yang tak berkompeten sama sekali mengorek-ngorek kitab suci umat Islam. Tanpa ilmu. Tanpa telaah. Tanpa kajian. Apalagi tanpa kecerdasan!

Menonton video dari berbagai sisi, ngobrol santai dengan teman yang berbeda pendapat, diskusi serius dengan yang sejalan, bagi saya itu jelas! Penistaan! Jadi, saya pun mengambil sikap tegas. Mendukung #aksidamai411 100%. Memang sih enggak ikut kesana, hehehe. Tapi saya berusaha berjuang melalui kata dan tulisan denga tetap mengedepankan kesantunan, tanpa hujat apatah cela. Saya juga mengacungkan jempol untuk teman-teman yang berjuang di lahan yang lain. Dengan aksi langsung, posting info, share berita, apa saja. Yang penting mengobarkan semangat #belaAlquran. Baik secara terang2an atau sembunyi2. Allahu Akbar!

#AksiDamai411


Naah, pasca itu, beberapa teman inbox saya, “Selama ini Mbak Fitri adalah penulis yang concern di bidang parenting dan cerita anak, kok sekarang jadi ngobrolin masalah aksi? Ini isu agama dan politik, lho, Mbak!” (Semua yang bertanya menggunakan bahasa yang santun dan cukup halus, jadi tak ada alasan bagi saya untuk meng-unfriend merekaaah, hehehe)

Baiklah.
Begini, Teman-teman. Pertama, saya berusaha bersikap selayaknya seorang muslim yang membela agamanya. Tak akan menggadaikan dengan apa pun juga. Bagi saya, itu sudah harga mati. Siapa pun dipersilakan mengambil bagian, di lahan mana akan berjuang. Clear, ya?

Kedua, kalau dikatakan ini gerakan politik, iya. #Aksidamai411adalah salah satu langkah politik agar pemerintah mampu bersikap tegas dalam pengambilan keputusan terhadap orang yang sudah berani ‘melompat pagar’ (istilah dari Muzakir, pakar Hukum Pidana). Aksi kemarin itu, sungguh hanya digerakkan oleh hati dan cinta pada agama. Tak ada satu partai politik pun yang mampu mengumpulkan massa sebanyak itu dengan tujuan yang sama! MasyaAllah! (Aa Gym). Dan wajib diketahui, Nabi Muhammad pun melakukan aksi politik dalam memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar. Yang membedakan hanyalah langkah dan cakupannya.

Mengenai permintaan maaf, Islam mengajarkan itu. Apalagi jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Tapi kita juga negara hukum, euuy. Kalau sekedar minta maaf lalu lepas dari jerat hukum, ayo atuh yang melakukan kriminal, minta maaf, gih. Biar enggak usah di penjara.. *enakAmatYaaa... wkwkwk.. Intinya, hukum harus ditegakkan! Kalau enggak, kejadian ini bisa akan berulang dan dianggap biasa-biasa saja. Oh, tidaaak! Negeriku.. hiks...

Daaaan, walaupun jelas siapa saja boleh aksi, tak pandang golongan, jenis kelamin, tingkat keilmuan dsb, secara... gini-gini basic keilmuan saya ini sosial politik, looh, ehm.. J Saya alumni FISIP dan sempat pula jadi ‘kroco mumet’ di DPR RI. Walaupun ilmu masih seujung jari, ada lah paham-paham dikit masalah perpolitikan dan kebijakan.. *cumanDikiiiitt... J

Jadi Teman....
Saya tahu di mana kaki harus berdiri.
Saya paham bagaimana niat itu dikuatkan.
Dan saya yakin di titik mana panah sejatinya diarahkan.

#NoSalingHujat
#BelajarBeraniBersikap
#AlkisahFitriRestiana
#TetapBersahabatWalauBedaPendapat
 

0 komentar:

Post a Comment