Anak Lelaki (Enggak) Boleh Menangis

Anak lelaki (enggak) boleh nangis
Dari kejauhan, saya melihat Arung pulang sambil mengangkat sedikit celananya. Hmm, sepertinya dia baru saja terjatuh.
Semakin dekat, semakin jelas terlihat. Kedua dengkulnya berlumuran darah. Wajah dan matanya memerah menahan tangis. Saya sedang menerima seorang sahabat yang lama tak bersua.
"Jatuh dimana, Dek?"  tanya saya santai sambil memeluknya.
"Di gang situ," jawabnya hampir terisak.
"Bersihin dulu ya?" bujuk teman saya.
Arung menggeleng keras. Saya ajak masuk. "Enggak apa nangis karena sakit. Tapi jangan lama2, ya."
Doi pun nangis. Saya ke depan nemuin tamu sebentar. Terus ke dalam  lagi. Tangisan Arung mereda, tapi lukanya tetap tak mau diobati.
Selang beberapa waktu berikutnya setelah tamu pulang, sambil makan saya bercerita.
"Bunda waktu kecil juga sering nangis, gara2 jatoh atau terluka. Ini yang di dahi, kena besi. Di dagu jatoh dari pager tembok, di lutut waktu lari2,  di betis ada dua, digigit anjing sama jatoh dari sepeda." (Wedeeeew, banyak amat ciri2nya, hihihi.. )
"Yang jatoh dari sepeda itu yang waktu dilarang Mama, Bunda diem2 keluar trus maen sepeda, ya?"
Saya ngangguk sambil nyengir enggak enak. (tuh akibatnya enggak denger kata orangtua, hiks).
"Jadi nangis itu enggak apa, Dek.." lanjut saya.
"Tapi  Bunda perempuan,  boleh nangis. Dedek kan laki2, enggak boleh nangis!" Ada nada tak ikhlas di ucapannya.
"Kenapa enggak? Nangis itu boleh aja kalau kita ngerasa sakit atau terluka. Jatoh itu sakit, loh. Pedih. Tapi ya itu, jangan lama2 dan berlebihan. Biasanya kalau udah nangis, sakitnya agak berkurang."
"Jadi Dedek boleh nangis lagi?"
"Lah, kan tadi udah?"
"Eh, iya," jawabnya tersipu sambil meringis.

****
Dear parents,
membuat seorang anak lelaki menjadi lebih mandiri dan pemberani bukan dengan menafikan perasaannya. Menganggap bahwa menangis adalah sebentuk sikap lemah, cengeng dan haram bagi mereka, adalah sangat tidak adil. So,  proporsional saja.
Anak jatuh dan menangis, peluk dan biarkan. Syukur2 jika mempan dibujuk. Jangan dibentak apalagi disambut dengan omongan begini, "Sudah, ah! Jangan nangis, anak laki2 kok cengeng!"
Duuh, itu akan mengajarkan dia ambigu dalam memahami perasaannya.
Naah, kecuali jika si anak sebentar2 nangis tanpa alasan jelas, semisal disenggol teman atau keserimpet jalan. Kalau begitu, sekiranya perlu lah kita memberi contoh2 yang lebih *menguatkannya*.
Buku ini memahamkan bagaimana anak mengendalikan emosinya dan bagaimana ortu sebaiknya bersikap.. 
#BukuFitriRestianaCintaTanpaSyarat
#BukuAnakKerenAkuCerdasMengelolaEmosi
MyIG #fitri_restiana

2 komentar: