Lima Kesalahan Fatal Sang Moderator




Tampil di depan umum, baik sebagai pembicara, MC atau moderator tentu wajib memiliki ilmu yang tepat. Memang tak semua orang merasa sanggup melakukannya. Tapi jangan khawatir, selagi punya niat dan semangat yang bagus untuk memperbaiki tampilan diri, insyaAllah segala kendala akan bisa teratasi. Tsaaah...

Berdasarkan sependek pengetahuan dan seumprit pengalaman saya, ada beberapa kesalahan fatal yang kerap dilakukan oleh seorang moderator. Tentu fatal karena sebuah kesalahan akan membuat acara menjadi terganggu jika tak diatasi dengan cepat dan cara yang tepat.

1.      1. Tak menguasai materi
Ini benar-benar kesalahan fatal! Bagaimana bisa seorang moderator sebagai pemandu utama tak menguasai materi? Bisa babak belur di depan nanti! Pembicara ngomong A, Anda ngomong L. Pembicara membahas sikap narsis, Anda ngomongin teroris, hehehe. Intinya, mah, siapin amunisi materi. Banyak membaca. Bila perlu, Anda bisa kontak pembicara baik tatap muka atau via media sosial, sekalian memperkenalkan diri. O iya, wajib memiliki rundown acara, ya. Ini akan memudahkan Anda mencari kisi-kisi materi dari berbagai buku/bacaan.

Pengalaman saya : Ketika memberi materi kepenulisan untuk anak-anak SD, saya belajar lagi membuat powerpoint dan searching materi dan metode pembelajaran yang tepat. Hasilnya? 21 slide tampil cantik dan insyaAllah mengena. Sebagai moderator, saya membuka link-link yang berhubungan dengan materi, menyimpannya ke dalam dokumen, diprint dan membacanya secara berulang.

Pernah juga ngemce dadakan di acara launching buku di sebuah toko buku ternama. 20 menit sebelum acara baru diminta karena kesalahan teknis yaitu ihak toko buku membatalkan penyediaan MC. Panik? Galau? Resah? Gelisah? Iyaaaaaa.. pasti! Tapi demi melihat wajah si penulis yang tak kalah panik, saya pun pasrah. Akhirnya ngemce lah saya dengan gaya ala kadarnya. Untung penulis dan ilustratornya pinter n keren-keren, jadi suasana bisa mencair pelan-pelan, hehehe..

2.      2. Salah kostum
Ingat, Anda ‘sebatas’ moderator loh, ya. Bukan pembicara/ pemateri. Jadi, berusahalah menjaga penampilan. Kalau pembicara memakai batik, janganlah pula Anda memakai jas mahalan. Pembicara memakai jas, tak layak pula Anda berkostum super santai dengan topi kupluk. Enggak matching, kan? Atau kalau perempuan, hindari penggunaan baju dengan motif ramai dan warna ngejreng seperti cahaya senter di siang bolong. Apalagi jika bermake-up tebal, gelang segede rante gembok, sepatu high-heels yang bunyinya bisa ngebangunin orang sekampung! Iih, jangan, ya, Siiist! Hehehe.. Tetaplah tampil sederhana dan elegan. Anda tak ingin perhatian peserta terpecah, kan?

Pengalaman saya : Memakai gamis bermotif kotak, garis atau polos dengan paling banyak dua warna. Boleh menggunakan warna cerah, asal tetap dalam koridor nyaman dan sedap dipandang.

3.      3. Keserimpet ngomong/ salah bicara
Salah bicara bisa saja terjadi saat Anda terlalu fokus pada satu hal dan lupa pada yang lainnya. Anda banyak tahu mengenai profil pembicara, tapi Anda lupa akan karya-karyanya. Maka dari itu, antara persiapan dan tampilan di depan forum merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Bisa juga Anda sudah mempersiapan segala sesatunya dengan matang, tapi ketika di depan Anda abai atau lupa. Maka, segera perbaiki!

Pegalaman saya ketika memoderasi acara Talkshow FLP Lampung, 4 September 2016 adalah salah bicara. Saya bilang bahwa Mbak Sinta Yudisia (pembicara) adalah mantan ketua FLP, padahal saya sudah baca cv dan tahu bahwa masa kepemimpinan beliau hingga tahun 2017. Langsung saja saya klarifikasi sambil bilang begini,  “Harap dimaafkan. Sepertinya ini faktor u (uban dan usia), jadi ada beberapa yang lupa.” Fhiiuh, untung dilempar tawa, coba kalau dilempar buku, pena, sepatu, notebook! Waddhaaaw! J Untungnya lagi, Mbak Sinta dan pembicara lainnya hanya tersenyum maklum. Alhamdulillah..

4.      4. Tidak menggunakan artikulasi, suara dan bahasa tubuh dengan jelas.
Yup, jangan sampai saat tampil Anda menderita batuk, pilek atau keseleo, hehehe. Semua harus prima. Seandaikan ada yang sakit-sakit sedikit, berusahalah untuk menyembunyikannya dan tak terlihat terlalu menderita (walau dalam hati nelangsa, xixixi)

Pengalaman saya ketika panitia bilang, “Makasih ya, Mbak. Suara Mbak bulet banget. Top, dah!” membuat hati saya berbunga-bunga. Jujur saja, itu bikin semangat saya berkobar untuk belajar lebih banyak lagi..lagi.. dan lagi..  O iya, saya juga berusaha menggunakan bahasa tubuh sederhana. Tak kurang, tak juga lebay kayak orang-orangan sawah yang suka melambai. Aishhhh...

5.      5. Tak percaya diri
Ini bahaya! Benar-benar bahaya! Bayangkan kalau Anda sebagai pemandu utama terlihat banyak menunduk dan gagap karena tak percaya diri. Apa yang terjadi? Audience akan kehilangan gairah untuk terus mengikuti sesi. Suasana jadi kaku dan jauh dari kata menyenangkan. Yang ada, sebelum acara selesai, satu per satu peserta akan keluar teratur, dengan senyum getir, geleng-geleng kepala, bahkan menangis bombay! Hehehe. So, angkat kepala. Bismillah. Yakin bahwa Anda mampu!

Pengalaman saya waktu memoderasi acara seminar parenting di sebuah hotel besar, jujur aja awalnya enggak pede. 300 peserta, Cyiiin! Saya ngikutin kata Om Mario Teguh; tarik napas, berjalan dengan percaya diri sambil tersenyum yakin, duduk atau berdiri sempurna di panggung, sapa peserta dengan ramah. Susah? He em. Iyaaa banget! Grogi tingkat tinggi! Trus saya istighfar, bla.. bla... bla... dan say sorry jika nanti ada yang kurang berkenan. Karena saya, kita semua sedang belajar. Plooong! Yang penting mereka tahu. Kita sudah berusaha untuk tampil maksimal. Itu... hasilnya? Entahlaah... xixixi.. kacau2 sikit kayaknya... 😂😂

O iya, satu lagi. Seorang teman memberi saran, “Tambahin game-nya, ya, Mbak.” Naah, di bagian itu memang saya kurang banget. Kudu belajar, belajar dan belajar lagi..

Demikian seumprit pengalaman saya, Teman-teman. Banyak kekurangan daripada pas-nya, hihihi. Tapi tak apa, yaa. Semoga itu akan membuat kita dan kita semua tambah semangat untuk belajar. Semangat untuk selalu rendah hati demi meningkatkan mutu, iiissh!

Udahan dulu, ya. Semoga berkenan, J

Semangat bersinergi, membangun literasi!   

11 komentar:

  1. Kalau daku yang jadi moderator, audiens bakal bilang apa ya "Mbak, suaranya pelan banget" hi hi hi hi. Tapi 2x lihat Mbak Fitri jadi moderator tuh asyik kok.

    ReplyDelete
  2. Hihihi. Dikau mah emang penuh kelembutan... audiens bakalan terkesima karenanya.... 😊

    ReplyDelete
  3. Benar sekali Mba, karena moderator menurut saya harus menguasai tiga hal utama yaitu materi, pemateri dan juga audiens.

    ReplyDelete
  4. Moderator cetar membahana Lampung nih... siap-siap dapat tawaran nge-Moderator lagi nieh...

    ReplyDelete
  5. Iya, Kak Rhodoy R. Ediansyah. walau termehek-mehek, kudu semangat belajar, yaa. Terimakasih sudah berkunjung, :)

    ReplyDelete
  6. Bang Adian Saputra, ih dikau maah.. pan aye masih belajar, Bang. Masih keringet dingin lah kalau tampil, hehehe

    ReplyDelete
  7. Kalau aku bikin acara bincang-bincang sudah tau deh harus hubungi siapa :D
    (yopiefranz.com)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haitshaaaaah... Bang Yopie.... makasih support semua sahabat.. 😀

      Delete