Bijak Bergadget (Bagian terakhir dari dua tulisan)



Bijak Bergadget. Part 2

Naaah, memenuhi janji kemarin. Emang apaan sih yang saya obrolin dengan si bujang? Sehingganya saya sampai mengeluarkan suara auman singa.... eh suara menggetarkan mengharu biru? Hmmm, Begini ceritanya...
Doi kan barusan dibeliin android sama budenya. Katanya mah hadiah masuk salah satu sekolah favorit di Bandarlampung. Kami, (saya dan bapaknya) sebenernya masih sangat ragu akan janjinya untuk mengontrol penggunaan si gadget. Tapi ya sudahlah. Kami mengiyakan dengan beberapa kesepakatan http://www.fitrirestiana.web.id/2016/09/bijak-ber-gadget-1-bagian-satu-dari-dua.html

Pada kenyataannya, seacara perlahan doi mengaburkan makna ‘kesepakatan’ yang sudah kami buat bersama. Murojaahnya kalah dengan chatting di bbm. Main sorenya kalah dengan pokemon. Belajarnya jadi terganggu oleh deretan IG. Fhiiuhh...
Saya jadi kecewa. Amat sangat. Lalu saya tegur dengan beragam cara. Dari mulai bikin kesepakatan baru, delikan mata, bentakan sederhana, hingga.. aahh..
Ksepakatan sepertinya belum mempan. Delikan mata pura-pura tak dia lihat. Bentakan sederhana malah membuat dia semakin mengeras. Yap, saya baru sadar. Bahwa lazimnya, ketika kita mengeluarkan suara keras, maka lawan bicara akan bertindak sama, bahkan bisa lebih keras untuk menunjukkan perlawanan dan tingkat dominasi. Kalau sudah begitu, ada dua yang saya lakukan. Pertama, marah sambil mengatakan bahwa saya tak peduli. Dua, menarik napas panjang dan masuk ke dalam kamar. Saya akan mendiamkannya dalam waktu yang tak ditentukan.
Menderita? Pasti. Apalagi jika dia masih terus dengan gadgetnya seolah tak terjadi apa-apa,  hiks. Biasanya dia akan menyadari setelah tak mendengar suara saya sekian menit berikutnya. Kalau sudah begitu, dia akan meletakkan gadgetnya dan merasa salah tingkah. Mau langsung minta maaf, kok berasa enggak salah. Enggak minta maaf, tapi tak enak hati sudah membuat emaknya sedih, marah dan kecewa. Doi pun akhirnya ngajak adeknya main atau kuprek-kuprek. Entah baca buku cerita, nyuci sepatu, pokoknya apatah biar emaknya tau kalau dia tak bergadget lagi, J

Bersama sebagian sepupu yang menginap dan aktif di CookingClass Teta Fifi :)

Kalau dah coolingdown, biasanya dia akan mendatangi saya lalu meminta maaf. Naaaah, di sinilah si emak mengeluarkan jurus andalan dengan tema, #CintaTanpaSyarat.. eeaaa...


My Book, Cinta Tanpa Syarat (Catatan Parenting)

(Dilaog ini tanpa sebut nama, ya. Sama-sama menjaga perasaan, hehehe)
“Kenapa Mas P minta maaf?”
“Iya, aku salah. Nggak dengerin Bunda,” jawabnya senyum-senyum melipir.
“Emang Bunda ngomongin apa?”
“Ngingetin supaya main gadgetnya lebih terkontrol.”
“Trus...”
“Bunda enggak ngelarang. Bunda minta supaya aku bisa ngatur sendiri kapan waktu main gadget, maen sama adek, ngerjain tugas di rumah, sama belajar. Mmmh, kayaknya cuman itu,” lanjutnya tersipu.
“Adakah semua itu untuk kepentingan Bunda? Ketika P ngerjain tugas rumah, itu untuk siapa?”
 “Untuk aku. Supaya aku lebih disiplin, bertanggung jawab dan berempati.”
 “Belajar?”
“Untuk aku.”
“Ngatur main gadget?”
“Untuk aku. Supaya mataku enggak tambah parah dan bisa fokus ngerjain yang lain.”
Maen sama adek?”
“Untuk aku dan adek. Biar tambah akur dan kompak. Biar semua bahagia enggak marah-marah dan kesel-kesel. Eh, itu mah untuk Bunda juga,” jawabnya terkekeh.
“Jikalau Bunda merasakan dampak baik atas apa yang P lakukan, apa itu enggak boleh? Bukannya  membuat orang lain senang, terutama orangtua, adalah kebaikan dengan pahala yang berlimpah?”
Dia mengangguk pelan.
“Pahalanya untuk siapa?”
“Aku,”  gumamnya.

Kompak n akrab selalu ya, Pujaan hati Bapak dan Bunda :)

“Mas...” kali ini suara saya mulai bergetar. “Mamas harus paham, waktu itu tak berulang. Dia jalaaan terus. Kalau kita berjam-jam depan gadget dan abai dengan yang lain, alangkah ruginya kita. Mamas juga inget kan janjinya, gadget nggak akan merubah semangat untuk belajar dan murojaah. Itu janji bukan hanya dengan Bunda, tapi dengan diri sendiri dan Allah. Allah langsung yang jadi saksinya. Mamas siap menjawab pertanyaan Allah nanti tentang waktu yang disia-siain? Mamas udah baligh. Segala amal dan dosa sudah terhitung dengan jelas.” Saya menyeka airmata.
“Maafin, aku, Nda,” dia mencium tangan dan pipi saya.
“Aku mau buat alarm untuk murojaah dan pake gadgetnya. Yang lain, Bunda tolong ingetin,” ujarnya mantap.
Sejurus kami saling menatap. Saya mulai tersenyum sembari menarik napas. “Oke. Tapi Mamas juga belajar membuat alarm sediri. Namanya JAM BIOLOGIS. Belajar mengontrol kapan harus melakukan ini dan itu.”
“Siap, Nda. Aku buang sampah dulu, ya...”
Fhiiuuuh. Alhamdulillah... Si emak mulai plong walau sejumput ragu masih menyelimuti hati. Akankah doi konsisten? Hehehe..


*****
Waktu berjalan. Doi sudah agak mendingan. Hingga suatu saat dia cerita tentang mimpinya.
“Tadi malam aku mimpi enggak bisa melihat, Nda. Sediiih banget,” katanya pelan.
“Mimpi itu bisa jadi ngingetin kita tentang gimana seharusnya ngejaga anggota tubuh dengan baik. Kembali ke soal gadget, sepertinya efeknya dikit banget kalau Bunda rajin buatin jus wortel, sementara Mamas juga rajin buka gadget. Pemakaian gadget yang berlebihan itu kan ngerusak mata, Mas.”
“Iya. Ini aku buat jadwal nge-gadgetnya. Semoga bisa konsisten. Minus mataku jadi berkurang. InsyaAllah.”

Jadwal terbaru. Akankah doi konsisten? Bismillah.. :)


*****
            Demikian, Pemirsah. Perlu usaha keras dan kuat demi mencapai kata SEPAKAT.
            Semoga para ananda bisa konsisten menggunakan gadget. Dan kita sebagai orangtua juga mampu menjaga komitmen dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan untuk mereka. Aamiin.

https://www.facebook.com/fitri.restiana
IG fitri_restiana

8 komentar:

  1. Kalau untuk urusan gadget saya juga masih belum konsisten mba. Apalagi kalau sudah jualan online, asyik upload2 udah deh kadang lupa sama yg lain. Sepertinya harus mulai mengontrol diri sendiri dlu ya dari sekarang baru nanti bisa ngasih contoh ke anaknya >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heem, Mbak Kei-chan. Kadang kita juga keasyikan, ya. Hihihi... terimakasih sudah berkunjung, :)

      Delete
  2. Masalah kondistensi anak, memang harus terus diingatkan, dan tdk juga trll kaku, karena ada masanya kita harus fleksibel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, benar sekali, Umi Neny. Kami menggunakan KESEPAKATAN yang fleksibel, hehe. Terimakaish kunjungannya, :)

      Delete
  3. Memang harus dijadwal kalau nggak kebabalasan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Pendarbintang. Naah, bikin jadwal yang fair itu yang terkadang bikin ortu gimanaaaa gitu... 😊😊

      Delete
  4. Replies
    1. Iya, Mbak Lilih. Kudu ekstra semangaat belajar memanage.. 😊 trmksih kunjungannya..

      Delete