Bijak Ber-gadget-1 (Bagian satu dari dua tulisan)



Di suatu masa, pasca terbitnya Buku #CintaTanpaSyarat, saya mendapat cukup banyak inbox yang menanyakan bagaimana menjaga hubungan baik antara orangtua dengan anak. Jujur saja, saya merasa tak enak hati. Pasalnya saya ini tipikal emak yang moody, yang kadang bisa baik, baik banget, cengeng, cengeng banget, galak, enggak galak banget.. *eh.. (galaknya boleh tanya ke anak-anak, deh, hehe). Jadi kalau ditanya masalah parenting, masih agak-agak gimanaa gitu jawabnya, J

Baru-baru ini ada yang bertanya bagaimana cara menangani anak yang hobby banget main game/gadget (bisa fb, ig, twitter, bbm, instagram, dll, dsb) Fhiiuh, pertanyaan yang susah-susah gampang. Perlu pendalaman materi dan menjulur memori ke beberapa tahun silam.

Pasca khitan kelas 4 SD (kira-kira berusia 10 tahun)), anak pertama saya minta dibelikan tablet. Kami butuh diskusi panjang untuk memenuhi keinginannya. Bujukan pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Jadi beli, ya, Nda. Sunat itu kan berarti udah besar dan bisa ngatur diri sendiri.”

Kami pancing dengan pernyataan yang amat sangat standar semisal masalah uang, bagaimana perawatannya, game apa saja, hingga meruncing pada satu simpulan. “Kenapa?”
“Karena aku mau main game! Seru! Aku janji bisa ngatur waktu main, ngerjain tugas rumah, belajar, main dengan temen-temen, murojaah, jaga adek. Pokoknya aku janji!”

Bersama Rayyan (putra Mbak Heni Puspita) dalam acara kopdar blogger di KFC Labuhanratu

Kami penuhi? Akhrnya,ya, dengan berbagai kesepakatan. Antara lain :
1.      Tetap menjalankan tugas sebagaimana biasanya.
Tugas ini akan bertambah seiring usia. Dari membuang sampah, nyapu teras, cuci piring setelah makan, ngajak adek main, dll (walau pada kenyataannya lebih banyak ngajak nangis daripada ngajak main, hehehe)
2.      Segala tugas yang dibebankan, wajib dijalankan dengan ketekunan dan tanpa paksaan (butuh tenanga ekstra untuk terus mengingatkan. Bila perlu ditambah delikan sayang dan tarikan napas yang panjaaaaaang banget, J)
3.      Berusaha sholat tepat waktu.
Kalau yang ini, ortu adalah cerminan utama. Menyuruh mereka ontime sementara kita berleha-leha, merupakan tindakan yang tidak adil dan merendahan diri sendiri. Bagaimana kita menuntut mereka taat sementara kita sendiri abai? (Tapi pernah juga sih sesekali agak memunda beberapa waktu, apalagi kalau pas sedang dalam perjalanan atau lagi masak, hehe). Eh tapi kami selalu berusaha untuk konsiten, walau masih amat sangat jauh dari kata sempurna. Hiks..
4.      Murojaah tanpa diperintah.
Di sekolahnya, murojaah dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Terus menerus. Saya pernah terkaget-kaget mengenai ini. Waktu di rumah, doi hanya menghapal ala kadarnya. Tapi ketika selesai SD, doi mendapat sertifikat mumtaz 2,5 juz. MasyaAllah! (Pada akhirnya ini menjadi pr untuk lebih baik lagi, lagi dan lagi).
5.      Bermain gadget maksimal 2 jam per hari yaitu di waktu siang sepulang sekolah dan sore. Pagi dilarang memegang gadget, bahkan menyalakan televisi.

Beberapa tahun berjalan, konsisten ananda semakin mengendur. Doi sering lupa, atau sengaja melupakan tugas-tugasnya. Di beberapa tugas, kalau tak dibilangin, maka tak dikerjakan. Di situ saya merasa.. grrhhh.. istighfar.. istighfar..

Naah, saat kami sedang mencari formula baru, tiba-tiba.. cliiing! Tabnya ‘hilang’! Diletakkan di teras lalu dia meluncur main bersama teman-temannya!

Ini adalah kesempatan! Hehehe, tak perlu terapi lagi, deh. Kami biarkan dia belajar berdamai dan say goodbye dengan tabnya. Awalnya sedih. Tapi tak lama. Trus doi asyik-asyik aja main dengan temen-temennya. Sempet main internet (terjadwal) di warnet depan rumah, yang kudu ditemenin ama kakak sepupu dan kebetulan yang punya warnet juga saudara angkat. Jadi mereka dengan senang hati ikut memantau (walau tetap saja perlu waspada).

Intinya, hati-hati membuat kesepakatan dengan anak mengenai apa yang dia mau. Kami berharap, suatu saat mereka akan menyadari, bahwa tugas-tugas yang kami bebankan, bukan sekedar merupaka KEWAJIBAN, tapi lebih pada sebentuk KEBUTUHAN.

*****
Jadi, gimana dong menangani anak yang hobby banget nge-gadget? Itu dia! Kami pun sedang mencari formula yang tepat, hehehe. Yang pasti, dari beberapa minggu yang lalu, ananda yang sekarang sudah kelas 1 SMP, bikin jadwal sendiri. Bermula dari obrolan panjang dengan emaknya yang baik hati, dan bapaknya yang luar biasa sabar, wkwkwkwk.

Emang ngobrolin apaan? Yang pasti, mah. Si emak agak sikit bawa-bawa masa lalu dan bicara dengan suara bergetar. Weew.. tunggu di postingan berikutnya, yaaa. :)

7 komentar:

  1. Duh! Emak keceeeeh lagi sharing, nyimak ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Eh.. komen Mas Jumanto kok tak ada... kenapa yak...

      Delete
    3. Iih.. umi keren lagi komentar. 😀😀

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Mau 100% larang no gadget tapi sekarang memang jamannya gadget dan internet he he. Rambu2ku terutama buat calon adiknya Rayyaan nanti, di bawah 2 tahun no gadget dulu. Klo Rayyaan boleh sesekali tapi posisi offline, buka2 game edukatif aja, atau nonton video2 dia dari jaman bayi dulu. Klo posisi online mesti ada yang dampingi biar nggak selip tau2 muncul konten aneh. Game ga boleh yang fighting2. Kalau pergi2 aku bolehin dia pinjam HP/Tab si kalau tempat tujuan nggak terlalu kondusif buat main.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He em, Mbak. setuju. Lagian sepertinya Rayyan lebih suka dunia riil. Hihihi. Aktivitasnya luaarr biasyaah.. 😍😍😍

      Delete