Perpisahan SD

#PerpisahanKelas6
#SDITMuhammadiyahGunungterang

Tertunai sudah janjimu atas kami. Untuk mendidik segenap jiwa, untuk mencintai sedalam hati

Ibu dan Bapak Guru,
Adakah cerita ini ada dalam memorimu?
Ketika aku mengambil satu pentil sepeda karena bentuknya yang unik
Hmm, entahlah apa yang ada di pikiranku waktu itu
Yang aku ingat, Bunda memintaku untuk mengembalikannya
Yang aku ingat, aku merubah senyumnya menjadi lengkungan kecil
Yang aku ingat, engkau berusaha menjaga kehormatanku dengan menaruh pentil itu di tempat semula
Tanpa satu orang teman pun yang tahu
Lalu, nasihatmu dan Bunda menjadi sebentuk cerita yang sangat menenangkan
Aku paham, mulai saat itu

Terlalu banyak yang harus diurai dengan mu
Tentang hukuman sayang ketika aku mengganggu teman
Tentang pura-pura tak dengar ketika dipanggil
Tentang nilaiku yang sempat merosot tajam
Dan tentang luka di telapak kaki

Aku masih menyimpannya di kotak ingatanku
Bagaimana dengan sabarnya engkau memenuhi hak ku untuk bermain
Atau tanpa bentakan engkau menggiringku untuk menjauh sebentar dari rombongan Engkau memintaku melanjutkan murojaah sambil keliling lapangan
Yang ku tahu, itulah sebentuk sayang darimu
Aku yakin, mulai saat itu

Ahh, terlalu banyak, Guru
Sampai aku pun ngos-ngosan membuat detailnya

Enam tahun terasa begitu cepat
Lihat aku sekarang
Tubuhku mulai tinggi
Jerawat satu-satu mengintip di dahiku
Suaraku juga sudah muai terdengar keren (menurut aku loh, ya, hehhe)
Engkau masih saja terlihat seperti waktu aku masih kelas satu
Enerjik, riang, muda, sabar, selalu tersenyum
Tapi pernah juga enggak gitu
Sesekali engkau marah dan kecewa
Tapi tetap saja menurutku tak ada apa-apanya
Dibanding kebaikan yang kau tanamkan padaku, pada kami

Engkau tahu?
Sebenarnya aku sungkan untuk menyudahi semua ini
Memakai jas dan mengucapkan ikrar alumni
Sedih, sediih sekali
Aku malah sempat bilang ke Bunda,
“Andaikan aku masih kelas 5. Masih ada setahun lagi ketemu guru dan para teman”
Bunda dan Bapak tertawa
Mungkin menangkap kekonyolan pernyataanku

Ibu dan Bapak Guru
Maafkan atas semua tingkahku
Kata yang menorehkan luka
Tindak yang membuat engkau sedih karenanya

Bagiku engkau yang terbaik
Sampai kapanpun itu

Tetaplah menjadi seperti yang kukatakan dulu
Guru yang menahan marah dengan sholat sunnah
Menebar kebaikan sepenuh iman
Dan memberi cinta tanpa syarat

Terimakasih atas semuanya
Aku pegang janjiku untuk berusaha lebih baik
Berniat atas nama Sang Penguasa Raya
Sampai akhirnya aku berhenti di satu titik

Semoga rahmat selalu tercurah untukmu, Guru...

Gunungterang, Juni 2016

*****
Perpisahan dilakukan di halaman sekolah. Anak2  terlibat aktif dalam proses persiapan. Penuh canda, banyolan, bahkan ceng2an.. dengan guru serta teman2. 😁

Ini  adalah awal, anak-anakku..
Berjuanglah dengan Bismillah.. 😍😍😍

0 komentar:

Post a Comment