Cerita Ultah

Bagi saya, jam 4.00 adalah waktu yang tepat untuk merangkai kata.

Naah, sudah sebulan ini Pandu juga bangun. Sesekali ikutan tahajud tapi banyak enggaknya, hehehe.. (tak apalah, semoga
kelak engkau akan terbiasa ya, Nak).

Emang  doi ikutan nulis? No.. no.. no.. katanya, "Mendingan Pandu hapalan, ngitung matematik n main rubik daripada ngarang, Nda."(di situ saya merasa pengen nangis sekaligus ngakak guling2, hihihi..  lebayAlaaEmak2). Rupanya Pandu sedang semangat hapalan quran. Support dari Pak Asep, pak Ramlan dan guru2 sdit amuhammadiyah memang luaar biasaa.. masyaAllah..

Tapi subuh ini sangat berbeda. Doi masuk kamar sambil senyum2..
menyerahkan sebatang cokelat dan berucap, "untuk Bunda."

Saya yang lagi fokus ngedit,  melongokkan kepala menatap wajahnya. Dan... hwuuaa.. nangis sampe si Arung  ikutan bangun.

"Selamet ulangtahun ya, Nda. Doa panjangnya udah ditulis di sini,"  sambungnya melirik si silverqueen.

Hiks.. terharunya dakuu. Enggak nyangka, bahwa romantis ala bapaknya mengalir juga di darahnya (aish, jadi buka kartu, hihihi)

Pandu dan Arung sayang,
Makasih atas segalanya
Kejahilan yang kalian torehkan sesekali
Tawa yang kalian dendangkan sepanjang hari
Dan kesal tertahan demi melihat muram di wajah Bunda

Terimakasih atas keridhaan kalian menerima Bunda sepenuh hati

Bertumbuhlah,
Menjadi lelaki soleh dan taat pada Allah semata
Dewasa serta bijaksana
mencintai kami,orangtuamu
Tanpa perlu kami meminta

Demi berbagi syukur dan bahagia, teman2 yang order buku #CintaTanpaSyarat terhitung 11-15 April 2016, saya memberi dua pilihan.
1. Diskon 10 persen potong langsung ketika pembayaran.
2.  Setiap pembayaran, langsung saya potong 20  persen untuk didonasikan ke panti atau kaum dhuafa, atas nama teman2 tentunya.

Semoga Allah merahmati kita semua, aamiin

0 komentar:

Post a Comment