Antara Tanjungkarang Kertapati



Antara Tanjungkarang Kertapati
(Road do Palembang)
(Agenda inti : Menghadiri Pernikahan Tisya; putri  Om Ras dan Tante Ros dengan Eko)

Rencana berubah. Mulanya kami akan menggunakan mobil, tapi mendengar rute jalan yang tak mulus di beberapa daerah, akhirnya kami memutuskan naik kereta api, mengikuti  rencana Angku dan Andung Kotasepang dan Citragarden. Keputusan yang sangat tepat! Karena ternyata perjalanan pake kereta asyik juga,loooh! Kursinya empuk, ac-nya on maksimal, dan suasananya seru level tinggi! 23 orang, brooo!  (sayang tak bersua Andung Farida dan Om Akbar). Dan walaupun berada dalam gerbong terpisah, tak mengurangi semangat kami untuk saling berkunjung dan berbagi makanan, hehehe...

Oiya, selain naik kereta dengan peminat terbanyak, ada dua rombongan lagi yang meluncur ke kota mpek-mpek dan tekwan itu. Satu rombongan  menggunakan mobil (Andi sekel plus Ajin sebagai tenaga inti) dan rombongan Kak Hatta yang meluncur pake pesawat terbang. Secara mereka pergi dadakan, mengingat kesehatan Uni Venny yang diperkirakan belum stabil. Tapi ternyata sudah fit. Alhamdulillah....
Peristiwa seru dan mengenaskan di kereta api akan dibahas pas akhir cerita aja, deh. Soalnya ada satu eh dua yang bikin dongkoooooool banget.. grrrhh... antara mau marah, nangis sama mau muntah gitu (ih, apaan sih? bikin kepo aja! Wkwkwk, sabar, yaaa.. ;) )

Kereta mulai melaju tepat di angka 08.30 wib. Membutuhkan  waktu 12 jam untuk sampai di Stasiun Kertapati. Jujur aja, saya kaget terpana plus terpesona menikmati stasiun ini. Beda banget dengan duapuluh tahunan yang lalu (ya eelaa...  pamer umur neh, hihihi). Dulu, selain kereta yang biasa-biasaa aja, stasiunnya juga memprihatinkan. Kotor, bau, berantakan, toilet yang diupah aja daku tak mau mendekat, trus pelayanan yang wik..wik... menyedihkan. Ada calo pula. (eh, ini mah bukan di Kertapati aja yak. Tapi dimana-mana, hehe).

Beda banget dengan yang sekarang. Selain karcis bisa didapat melalui online (makasih Tante Vini yang sudah wara-wiri jadi EO.. dikau memang luar biasaaah!) stasiun yang berseberangan dengan Sungai Musi ini terlihat sangat elegan, menawan dan menarik hati, ehm... Luas, bersih, nyaman, tenang, fasilitas oke, daaaan... pengamanan yang cukup memuaskan! Ada area cash hape juga looh.. Tapi tetap kudu dipelototin. Sementang nyaman, bukan berarti kita boleh lengah, kan yaaa... J

 

Yang bikin tambah seru, ternyata ketiga rombongan sampai di jam yang sama. Lagi melintas di sungai Musi, ada seraut wajah nongol dari sebuah mobil, dengan mata besar melambai-lambaikan tangan bak gaya Pangeran Charles. Eits, jangan salah sangka! Itu adalah wajah cowok kece, Atin Thariq, hihihi.. Ternyata doi bahagia banget, sampe  norak gitu buka kaca trus dadah-dadah ama rombongan kereta dan mobil, hahaha..
Jam 9 malam lewat dikit, kami disambut senyum jenaka Husna Nurilmi, putri sepasang suami istri yang super ramah dan baik hati, Yuni dan Budi. Gimana enggak, rumah yang pas kami datangi sangat kinclong, bersih dan rapih, dalam hitungan menit menjadi seperti kapal pecah, hihihi.. penuh dengan koper dan tas. Sekian jam berikutnya, bertaburanlah wadah makan kosong dan aneka rupa perlengkapan. Mulai dari handuk, tupperware, minyak angin, pokoke.. keluaar semuaa.. hik..hik.. maafkan kami ya, Dik. Kalian sudah nerima kami semua dengan tulus. Penuh tawa dan tak terlihat lelah sedikitpun. Bagi Uni, ini sangat sempurna! Thanks a looooot, J

Oke, lanjut. Setelah bermalam, Jumat pagi rombongan meluncur ke empat tempat. Pertama ke Maskarebet sekalian Jumatan (Rumah Makwo, kakak Papa), setelah itu ke Kenten, rumah Mik (yang punya anak2 berwajah campuran Arab), lanjut ke Kamboja (rumah inti), trus ke di Pakjo untuk bertemu muka dengan pemilik hajat, Om Ras dan Tante Ros. 

Selain karena bisa bersilaturahmi, yang bikin tambah hepi adalah hidangannya itu loooh! Mpek2, kerupuk palembang, tekwan, srikaya.. hmm.. nyam..nyam..nyam.. berasa berada dimanaaa gituuh, xixixixi..

Perjalanan yang sangat berkesan dan penuh cerita. Sambutan luar biasa, kebahagiaan bertemu dengan sebagian keluarga dari Papa dan Mama, melepas rindu pada istri pertama Papa dan juga anak-anaknya (love you all), canda dengan Kek lan, Jiddah dan Angku Andri, dll, dsb... Alhamdulillah... berkah mengikat erat persaudaraan yang selalu diajarkan pada kami kakak beradik. Malam kedua, Zainal’s fam menginap di rumah Makwo, Maskarebet. Bertukar cerita dan menguak kenangan lama. Tentang seorang lelaki soleh yang meninggalkan 7 orang anak tersebab ajal. Sebuah kisah yang baru kami ketahui sekarang, berpuluh tahun sesudahnya.


Foto di rumah Yuni di Sekip dan Makwo di Maskarebet






Lanjut hari kedua. 

Kami mendapat pinjaman mobil dari sepupunya Ime, istri Iman. Alhamdulillah. Rejeki anak soleh dan solehah, xixixi. Langsung kami meluncur ke Kutobesar, tempat penyelenggaraan Palembang Ekspo. Tak jauh berbeda dengan Lampung Ekspo di Wayhalim, penduduk terlihat tumpah ruah. Jelas terlihat bahwa kami adalah pendatang. Kok bisa? Iya, lah. Selain dari celingak-celinguk, yang pasti mah dari logat ngomongnya. Palembang kan punya ciri khas; “Nak ngapo?” “Aku idak lah!” “Ah, budak ni!” Pokoknya, keliatan jelas lah. Walaupun kami dah coba-coba niru, tapi tetap aja beda. Kesannya malah maksa, hehehe. Ada kejadian bikin deg2an. Nah, waktu baru turun dari mobil, kami diminta bayar parkir sebesar 10.000 untuk satu mobil. Tadinya mau iya aja, eh tapi Da Ca langsung nolak. “Ah, kau ni! Kagek lah kalau kami lah selesai!” balas doi enggak kalah galak. Sang penagih parkir pun berlalu dengan wajah dongkol. Wkwkwk...

O iya, sebelum ke Palembang Ekspo, kami singgah makan siang di taman rekreasi, ....... namanya. (lupa juga) Sebuah lahan yang sangat luas dengan fasilitas olahraga yang cukup lengkap. Ada wisma atlit, tempat latihan bulu tangkis, panjat tebing, tenis dan banyak lagi. Kebersihan dan keasrian pohon-pohon besar mendominasi tempat ini. Tapi masalah panas, tetap saja terasa. Siang hari, brooo.. Puanase poool! Keh..keh..keh... Ada satu lagi, disebabkan sedang ada pembangunan MRT (monorel trafict), nyaris sepanjang jalan kami merasakan kemacetan, terutama di jalan-jalan protokol semisal Jl. Jend. Sudirman dan jalan utama lainnya.  Tapi walau gimana pun, kami tetap enjoy kok. Suweeer... J


Kami sudah kelelahan, setelah sedikit poto-poto di PalembangEkspo, kami meluncur ke Sekip untuk mengambil baju dan menginap kembali di Maskarebet. Bersiap untuk pesta di Hari Minggu. Naaah, di malam Minggu inilah saya banyak dapat cerita dari Makwo tentang papa. Rasanya tak pernah cukup. Karena, ternyata Papa banyak menyimpan cerita. Kisah yang sangat menarik untuk dipahami dan dibagi. Next, yaaa...




Minggu yang cerah.
Semua terlihat cantik dan gagah.
Tepat pukul 09.30 wib kami meluncur ke gedung MAN 3 untuk menghadiri pesta pernikahan adik sepupu, Tisya dan Eko. Dua tarian syahdu dan menghentak menjadi suguhan pertama. Setelahnya, kami menikmati hidangan nasi samin dan mpek2 yang lezat, nyam..nyam..nyam. Cus berfoto dengan penganten dan keluarga besar. Ada tiga generasi yang hadir, Andung ‘Uncu” Ijah, Tante ‘Uncu’ Rinda, dan ‘Uncu’ Iman mewakili generasi ketiga, serta para anak keponakan di generasi keempat. Klop, lengkap, deh. Ups, ketinggalan, fotonya bareng buku solo daku dooong, buku #CintaTanpaSyarat, yang alhamdulillah sudah melanglangbuana sampai ke Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan Kansas euuy, uhuuuy! Alhamdulillah. J



Lanjut beli oleh-oleh. Daku enggak ikutan. Cuman nemenin Uni Venny beli songket yang harganya.. glegkh.. tak sanggup daku ungkapkan, hehehe. Nama pasarnya Ilir Barat, bersebelahan dengan Ramayana. Kalau dari bentuknya sih mirip dengan Simpur atau Bambukuning gitu. Tapi yang dijual emang khusus kain berkhas Palembang. Cantik-cantiiiiiik banget! Walaupun terpesona, daku tak berniat membelinya, karena emang tak ada budget, hehehe.. buka kartu deh..

Oiya, karena kehausan dan tak menemukan satupun kedai minum, kami terpaksa minum teh gelas yang harganya 1500. Pandu dan Zaki yang serasa Upin Ipin, nempel terus kayak perangko, hilang! Paniiik banget! Nyari kesana-kemari. Nanya Pak Satpam. Tak bersua. Huhuhu, mau nangis dan teriak sambil panggil-panggil. Dilala coba telepon ke hape daku, ternyata doi berdua dah nyante di mobil. Gubraaks! Enggak tau gimana ketar-ketirnya kami! Masa kudu pake toa sih nyari dua anak bujang? Hadeeeh... jangan terulang ya, Bro! J J

Disebabkan sudah masuk waktu dzuhur, kami pun meluncur ke mesjid At Tiq, berdekatan dengan sebuah gedung tua peninggalan Belanda. Kokoh. Sayang kami lupa berfoto dan menanyakan namanya. Tapi ketika melewati Universitas Sriwijaya, Uni Nety mengingatkan untuk berfoto. Cekrek..cekreek...

Foto di Universitas Sriwijaya

Lanjut menjemput Uncu Evi yang jaga stand BI di PalembangEkspo. Bahagianya lagi, daku dikenalin dengan Mbak Novi, bagian perpustakaan BI Palembang. Kesempatan emas, foto bareeng buku #CintaTanpaSyarat, euuuy! Senangnyaaa! Sambil berdoa, semoga suatu saat buku2 daku yang lain  menghiasi perpustakaan bank ternama di tanah air tersebut dan mampu mencerahkan. Aamiin.

Foto di Stand BI
 (Hwua.. fotonya di BBM.. belum dipindahin.. hiks..)


Setelah itu, kami meluncur ke Maskarebet lagi. Memenuhi undangan Uni Bety menyantap mpek-mpek dan tekwan yang rasanyaaaaa..... ampyuun.. ueenaaak banget! Tau gitu mah, kami enggak usah pesen ke Cek Tasya. Mending ke Uni Bety aja. Malah lebih oke. Rasa ikan tapi tak berbau amis. “Pake ikan pilihan,’ ujar Uni Betykalem. Panteeees... Kami enggak banyak cakap, tenggelam dalam rasa yang menggoda. Ahaaay...

Setelah melalui kesepakatan, kami memutuskan untuk kembali ke Sekip, rumah Yuni dan Budi. Tempat kami disambut hangat ketika datang. Pulang pun kami harus dari sana. Rupanya, mereka sudah menyiapkan santap malam kupat tahu. Asli buatan Yuni dan Andung. Enaknya... pooolll! Kalau soal santapan,  Andung emang the best deeeh!

Malam terakhir di Palembang.
Semua lelah.  Zahran yang menangis kencang, anak-anak lain yang mulai rewel. Hmm, semua butuh istirahat. Baiklah..

Terimakasih atas sambutan dan penerimaan tulusnya;

Budi, Yuni, Husna, Iyang, PakLe dan Bule. Yang waktu istirahat dan liburannya dipakai untuk menerima kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang tercurah.

Keluarga besar Makwo; Uni Nety, Uncu Evi, Uda Dedi, Uni Bety, Rizki dan para ponakan ganteng
Keluarga besar Mik di Kenten
Keluarga besar Kamboja  

Keluarga besar di Lampung ;
KSP’s fam
Ajin’s fam
Citragarden’s fam
Zainal’s fam
Love you all..

Love you Sungai Musi yang cantik dan bersahabat
Love you Kertapati yang bersih dan nyaman
Love you Palembaaang
See you next, InsyaAllah... J

0 komentar:

Post a Comment