Resensi Novel Tempat Paling Sunyi

Penyesalan Tiada Akhir

Mustafa. Terlalu letih dia membayangkan perang yang tak berkesudahan, seumpama novelnya yang juga tak kunjung usai. Lelaki penulis itu sudah berupaya mengabaikan segalanya. Demi agar buah pikirannya bisa tertuang ke dalam sebentuk cerita runut sebuah buku. Buku yang kelak akan berkisah  tentang kekecewaannya pada dunia, ketamakan tahta dan pada orang-orang serakah dimana tempat. Terutama pada seorang perempuan yang telah ‘menipunya’ dengan kalimat cerdas ‘novel adalah dunia yang tak pernah mati-mati’. Sungguh picik dia, mengira bahwa istrinya, Salma, perempuan berseragam sekolah menengah yang ditemuinya di sebuah kedai minuman beberapa tahun yang lalu- memiliki kecerdasan sastra. Sesuatu yang lak lazim bagi perempuan seusianya saat itu.

Namun pada kenyataannya, sulit sekali dia beroleh kesempatan untuk menuntaskan cerita di novelnya. Ada saja yang menghalangi jemarinya merangkai kata di sebuah buku tebal bersampul warna abu-abu itu.

Dan, orang yang membuatnya nyaris putus asa untuk menyelesaikan sang novel adalah justru istrinya sendiri. Setelah menikahinya, Mustafa tak menemukan kecerdasan seperti yang dia kira dulu. Perempuan berambut ombak itu dibesarkan dalam lingkungan yang serba ada dan tipis empati. Dia tak peduli pada nyawa tetangga yang melayang karena dituduh pemberontak, tak peduli pada lelahnya seharian Mustofa menyelesaikan pekerjaan sebagai juru ketik di sebuah tempat kursus mengetik, dan tak peduli alasan Mustofa sering sholat subuh di saat matahari hampir terbit. Salma lebih memilih taat pada ibu daripada suaminya sendiri. Ibu yang kolot, memandang sesuatu dari pandangan fisik semata. Harta, pangkat sampai kebiasaan yang sulit dia seimbangkan (halaman 33)

Pertengkaran semakin sering terjadi saat sudah dua tahun mereka belum juga dititipi keturunan. Sebenarnya Mustafa tidak terlalu mempermasahkan itu. Baginya, asalkan Salma mampu bersikap manis dan membuang jauh-jauh prasangka dan tuduhan buruk atas dirinya, cukuplah itu. Mustafa juga cukup tahu diri. Apalah ia. Hanya seorang perantau yang benar-benar sendiri mengais rejeki di pulau ujung di Indonesia, suatu tempat dimana pembunuhan sering terjadi dan banyak orang tak peduli.

Lalu hingga suatu saat, lelaki dengan penampilan cukup rapi itu dililit perasaan setengah bersalah manakala hatinya terpaut pada seorang mahasiswi berparas ayu. Riana namanya. Dipertemukan saat dia tak menjumpai kedamaian di rumah besar mertuanya. Mustafa hanya bisa memendam rasa dan rindu pada sang perempuan bertubuh tinggi semampai. Dia tak bisa menolak desiran halus setiap pandangan mata mereka berpapasan. Semenjak hari itu, Riana selalu hadir di setiap mimpi Mustafa. Bahkan, kala dirinya diserang penyakit typus dan Salma merawatnya dengan sepenuh hati, nama Riana lah yang tersebut dalam igauannya. Jelas ini membuat Salma berang. Pertengkaran tak terelakkan. Hingga akhirnya Mustafa minggat dari rumah berminggu, berbulan, dan terakhir selama setahun. Kebiasaan itu sering dilakukan sejak Salma mulai menunjukkan taring ego dan ketidakmengertian atas dirinya. (halaman 139)

Selain menceritakan sang tokoh dengan sangat detail sehingga pembaca merasa sudah mengenal dengan baik, penulis juga sangat teliti menampilkan situasi di masa itu. Suasana mencekam menjelang malam, suara pistol yang menyalak bersahutan disertai bentakan dan tangisan, dan sulitnya memahami budaya yang berusaha tetap dipertahankan. Penulis juga mampu memaparkan dengan bahasa yang mudah dicerna tentang dunia mistis yang semula ditolak mentah-mentah oleh sang tokoh, namun pada akhirnya beberapa kali justru dijambanginya (halaman 193)

Salah satu yang menarik dari buku ber-setting di Aceh ini adalah terpisahnya antara bagian awal, tengah dan akhir. Bagian awal dan akhir berkisah tentang si penulis, sementara bagian tengah bercerita tentang sang tokoh. Jadi dalam buku ini ada dua subjek dengan nasib yang nyaris sama. Salah satu persamaan diantara keduanya adalah, mereka mencintai perempuan yang sama. Riana! (halaman 239)

Namun ada pula kisah berbeda. Sang tokoh sudah cukup lama menikmati kebersamaan dengan Riana tapi berakhir tragis oleh seteguk minuman beracun, sedangkan penulis belum sempat bersama Riana dan harus menyaksikan pujaan hatinya itu menikah dengan teman karibnya sendiri. Sungguh merupakan penyesalan yang tak berujung!

Novel ini kaya akan diksi yang cantik. Walaupun tidak banyak dialog dan terkesan sedikit gersang, tetap saja pembaca dijamin akan merasakan kenikmatan yang luar biasa karena penulis menyuguhkan kejutan-kejutan manis di setiap barisnya.

Alhamdulillah dimuat di Perada, Koran Jakarta, 18 Februari 2016.

Ini versi asli. Yang di Perada sebagian direvisi oleh editor. 😆

2 komentar: