Penulis Harus Punya NPWP

Penulis Wajib Punya NPWP

Sebagai seorang penulis pemula, awalnya saya enggak begitu paham, tepatnya enggak begitu peduli dengan yang namanya NPWP. Lah wong selama ini hanya terbiasa ngurusin keluarga, pertemuan sana sini dan yang pasti, di depan notebook setengah hari. Jadi, apalah perlunya saya dengan NPWP ini, J

Namun, setelah harus berhubungan dengan penerbit, mau tak mau saya jadi wajib mengenal dan memahami apa dan bagaimana NPWP digunakan.

Jadi begini, NPWP adalah Nomor Pokok Wajib Pajak, yang harus dimiliki oleh setiap yang tinggal di Indonesia (persyaratan subjektif) dan memiliki penghasilan –gaji, hadiah keuntungan-(persyaratan objektif). Jika tidak mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP, maka negara berhak memberi hukuman berupa denda paling sedikit 2 kali, paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang,  dan hukuman penjara antara 6 bulan sampai 6 tahun. Denda dan hukuman ini dibebankan karena wajib pajak tidak membayar pajak sehingga mengakibatkan kerugian pada negara. 

Balik lagi mengapa saya harus memiliki NPWP. Karena suatu saat saya akan mendapat penghasilan/royalti dari buku yang diterbitkan. Dengan memiliki NPWP, maka saya harus membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan saya enggak harus punya NPWP sendiri, melainkan bisa gabung dengan NPWP suami.
Menurut seorang konsultan pajak, Zeti Arina (www.artharayaconsult.com), walaupun satu NPWP, besar pajak penghasilan yang harus dibayar oleh masing-masing suami-istri ditentukan secara terpisah, sesuai dengan perbandingan penghasilan neto masing-masing suami dan istri dan diisi dalam formulir yang berbeda. Ini tentu akan memudahkan wajib pajak dalam menunaikan kewajibannya membayar pajak.

Nah, bagaimana kalau istri yang berpenghasilan (semisal penulis) tidak memiliki NPWP(sendiri atau gabung dengan suami)? Kita akan dikenakan pajak sebesar 30 %, sementara jika memiliki NPWP hanya dikenakan pajak sebesar 15 % dari total penghasilan/pendapatan. Sayang, bukan? Mengeluarkan uang yang bukan merupakan kewajiban kita pada negara? J
Semisal begini. Sebuah buku dijual dengan harga 50.000, lalu dicetak dan terjual sebanyak 3.000 eksemplar. Royalti biasanya 10 % dari harga jual buku. Jadi, penulis mendapat 15.000.000 dipotong 15 % (2.250.000) = 12.750.000. Kalau tanpa NPWP, maka akan dipotong 30%, jadi yang diterima hanya 10.500.000. Rugi, kan? ;)
Jadi, penulis harus memiliki NPWP. Selain agar pajak yang kita bayarkan dapat dimanfaatkan sebaik dan sebijak mungkin oleh negara, kita akan merasa lebih tenang dalam menelurkan karya-karya berikutnya.
Salam, J

0 komentar:

Post a Comment