Cerita Anak. Ketika Kaki Sigit Terkilir


Wajah Wawan sama seperti kemarin. Kusut dan tanpa senyuman. Kali ini, sepulang latihan futsal, dia langsung masuk ke dalam kamar yang berpintu bekas seprei. Ibu sedang duduk di ruang tamu sambil meracik beberapa botol cairan yang beraroma tajam.

“Masuk rumah tidak pakai salam. Kenapa kamu, Wan?” tegur ibu sembari mematikan televisi berukuran 14 inch dan berjalan pelan ke kamar Wawan.
“Mmmh, maaf, Bu. Lupa,” jawabnya tak bersemangat.
“Kamu diganggu lagi sama Sigit?”
Wawan mengangguk lesu. “Apa sih maunya Sigit itu ya, Bu? Kok dia sering sekali mengejek Wawan. Katanya Wawan bau minyak urut, lah. Enggak usah latihan biar bantu Ibu saja. Pokoknya Wawan kesal sekali!” Kali ini suara anak lelaki bertubuh kurus itu semakin meninggi dan mukanya terlihat merah menahan marah.
Ibu menarik napas panjang dan menepuk pundak Wawan pelan.
“Sabar, Wan. Suatu saat, dia pasti akan berubah. Ibu yakin itu.”
“Tapi kapan, Bu? Kemarin, waktu Kak Wiro memilih Wawan jadi kapten tim futsal, Sigit malah tambah parah ngejekin Wawan! Rasanya mau memberikan bogem mentah ke wajahnya!” Geram Wawan.
“Hush, masa kapten begitu! Kasih sambel mentah dan lalapan saja,” balas Ibu menahan tawa.
“Ibu bisa aja.” Senyum mulai terlihat di wajah Wawan.

*****

Wawan belajar percaya bahwa Sigit akan berubah. Sekarang, setiap Sigit mengganggunya, dia hanya menganggapnya angin lalu. Tapi ternyata itu justru membuat Sigit bertambah kesal.
“Kapten kok terlambat!” dengus Sigit ketika Wawan tergopoh-gopoh memasuki lapangan. Teman-teman yang lain sedang melakukan pemanasan.
“Maaf, Git. Aku tadi....”
“Bantu Ibu kamu bikin minyak urut? Pantas saja, badan kamu beraroma sereh dan jahe!” Sigit mulai melancarkan serangannya.
“Mau kamu apa sih, Git? Memangnya kamu terganggu dengan pekerjaan Ibuku?” kali ini Wawan lupa akan kata-kata ibunya. Menurutnya, Sigit sudah keterlaluan. Dia mengejek pekerjaan ibu sebagai tukang urut. Ini tak bisa dibiarkan.
“Enggak, sih. Tapi aku terganggu oleh aroma ramuanmu, hahahaha...” Teman-teman sudah berkumpul mengerubungi Wawan dan Sigit yang sedang berlawan kata. Suasana mulai panas.
“Oiya, satu lagi, nanti kalau diantara kita ada yang terkilir, kamu yang urut, ya!” Hanya Dion dan Evan yang tertawa mendengar ucapan Sigit, sementara teman yang lain terlihat sangat tidak suka.
“Sudahlah, ayo kita mulai latihan lagi walau Kak Wiro belum datang. Ingat, pertandingan tinggal tiga hari  lagi loh! Kamu sudah pemanasan, Git?” Aldo mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ah, kalau hanya latihan begini, aku tidak perlu pemanasan,” balas Sigit bernada congkak. Dia melirik Wawan, “Seharusnya aku yang menjadi kapten. Bukan kamu!” bisiknya ketus ketika mereka sedang bersiap. Wawan terdiam.  
Bola berwarna kuning hijau itu seperti menari-nari di kaki Wawan dan timnya.  Latihan semakin seru. Tiba-tiba terdengar suara mengaduh dari tengah lapangan. Itu suara Sigit! Bergegas semua mengelilingi Sigit dan menangis sambil memegang pergelangan kaki kanannya.
“Sigit terkilir...!”
“Bukan, tapi keram!”Semua berteriak panik.
“Oles balsam saja!”
Diurut sama Ibumu saja, Wan!” usul Radi.
“Duuuh sakitnyaa... Ayo Wan, panggil Ibumu. Cepat!”
Karena tak ada pilihan, Wawan pulang ke rumahnya yang hanya berjarak seratus meter.
“Ini terkilir, tidak boleh diurut, nanti malah berbahaya. Ayo, kita bawa ke puskesmas!” perintah ibu tenang tapi tegas. Wawan mengambil sepeda lalu membawa Sigit ke puskesmas terdekat.
“Untung teman-temanmu cepat membawa kemari,” ujar Bu Mantri sambil melilitkan perban.
“Diurut saja tak cukup kah, Bu?” tanya Sigit sedikit meringis menahan sakit.
“Mmmh, sebaiknya diperiksa terlebih dahulu. Biasanya, untuk kasus terkikir seperti ini diperlukan perawatan khusus seperti yang Ibu lakukan tadi, mengompres dengan air dingin lalu dibalut perban.  Tapi kalau untuk perawatan pasca terkilir, ya silahkan saja. Ngomong-ngomong, apa kamu tidak melakukan pemanasan sebelum bertanding?”
Belum sempat Sigit menjawab, Wawan, ibunya dan teman-teman sudah masuk ruangan.
“Bagaimana keadaannya, Bu Mantri?” tanya Ibu Wawan cemas.
“Eh, Ibu Wawan. Syukurlah tidak parah dan cepat dibawa kemari. Nah, untuk perawatan nanti, kamu bisa urut ke Bu Wawan, ya. Beliau ini sangat profesional. Pijitannya mantap. Ibu saja langganan, loh,” ujar Bu Mantri berpromosi.
Sigit mengangguk. Perasaannya bercampur aduk.
“Mmh, terimakasih ya, Bu. Kalau Ibu tidak datang, pasti kaki saya tambah bengkak. Wawan, maafin aku, ya. Kamu memang kapten terbaik,” ujar Sigit tulus.
Wawan dan ibu berpandangan sembari tersenyum.
Namun, sangat disayangkan, Sigit tidak bisa ikut lomba. Dia harus banyak istirahat.

2 komentar:

  1. Ceritanya ringan tapi mempunyai makna yang bagus. Tidak bertele-tele dan enak dibaca. Bagus mbak, saya harus banyak belajar nih nulis cerita anak :) keren mbaaak

    ReplyDelete
  2. Iih Mbak Jean... 😇
    Ayo kita semangat belajar dwngan bismillah.. 😀

    ReplyDelete