Cerpen. Lelaki Yang Tak Ingin Menjadi Raja

     Lelaki berpostur tubuh tinggi tegap itu hampir selalu merasa tak nyaman dalam segala hal. Di kantor, di rumah dan beberapa komunitas  yang dia sukai. Beberapa bulan yang lalu dia aktif di komunitas memancing. Bosan. Dia beralih ke kumpulan bapak-bapak yang hobby main catur. Ahh, otaknya sudah penat dijejali bertumpuk pekerjaan. Manalah lagi dia sanggup memikirkan strategi, taktik dan sebagainya.
Mulanya, dia tak pernah berharap akan seperti ini. Dia mencukupkan cintanya pada seorang perempuan bersahaja dan empat orang putri yang manis dan cantik. Dia berharap, kelak di masa tuanya, kelima bidadarinya  akan memperlakukan dirinya bak seorang raja, seperti biasanya.
“Pa, sini bajunya Lala taruh di mesin cuci.”
“Waaah, Papa hebat! Lihat, pintu lemariku sudah enggak rusak lagi!”
“Pulang nanti, bawain martabak telor, ya, Pa!”
Ahh, begitu banyak permintaan sekaligus pujian dari anak-anak manis itu. Biasanya sang lelaki mengacungkan jempol, tertawa, mengucek rambut para bidadari kecil dan bercengkrama di ruang keluarga.
Hingga pada suatu hari. Dia merasa bosan dengan keteraturan. Dia bosan menjadi raja yang selalu diagungkan sekaligus dijadikan sandaran. Lelah menjadi tempat berbagi cerita anak-anaknya. Jenuh dengan celoteh seru tentang bagaimana sekolah keempat putrinya. Dia mual mendengar pertanyaan istrinya yang seperti perintah dari hari ke hari.
“Bagaimana kalau sore ini teh saja? Bukankah sudah dua gelas engkau minum kopi sedari pagi?” atau “Papa mau Mama masakin apa malam nanti?” Dan yang pasti, dia kesal karena istrinya tak mengijinkannya mengajak si bungsu bermain sepakbola.
“Papa ini aneh, dia kan perempuan. Kok diajak main bola?” Senyum dan tawa istrinya berubah menjadi seringai mengejek di matanya. Seolah mengatakan betapa dia tak mampu menghadirkan satu jagoan untuk menemaninya di rumah.
Lalu dia alihkan kebosanannya pada sebuah kotak kecil yang bisa menyambungkan dirinya ke dunia luar. Pada teman masa lalu. Pada tulisan berisi sumpah serapah. Pada panasnya matahari, pada maraknya aksi korupsi, pada heningnya malam, bahkan pada bermilyar bintang di angkasa. Dia jadi belajar bagaimana menjadi lelaki yang tidak lagi mau bersyukur.
Tapi dia tetap merasa bosan. Semua yang di kotak kecil itu tidak bisa dipegang dan diajak menikmati hari secara nyata. Kemarin, melalui kotak kecil itu, dia mengadakan jumpa dengan teman-teman lamanya. Sangat menyenangkan! Mengetahui beberapa teman akhirnya berjodoh, walau sebagian lainnya masih tetap hidup sendiri. Ada yang mapan, ada yang masih seolah berjalan di tempat. Tidak seperti dirinya.
Dia menganggap itu biasa saja. Tak ada yang menarik. Akhirnya, dia berlari ke tempat yang tidak biasa didatangi. Sebuah tempat yang diketahui dari beberapa rekan kantor. ‘Di situ, kamu akan merasa berbeda. Kamu bisa melepaskan kebosanan dan kejenuhamu. Di situ kamu akan menemukan sesuatu yang menyenangkan dan benar-benar menjadi seorang lelaki. Berbeda dengan keluhanmu selama ini. Ayolah, sekali saja. Toh istri dan keempat anakmu tidak tahu. Aku akan menemani. Tapi ingat, kau jangan ketagihan, ya. Bisa kacau semuanya! Bujukan  itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Masuk ke dalam pikirannya. Susah untuk dikeluarkan.
Selanjutnya, dia memutuskan menjadi laki-laki seperti kata temannya. Berada dalam lingkungan yang membuatnya senang dan tidak membosankan. Woow! dunia yang seru, ramai dan menegaskan kelelakian nya. Dia tak menyadari, bahwa justru disitulah perlahan dia mulai berubah. Dari seorang lelaki baik hati, menjadi makhluk yang tidak berbudi.
“Hari ini aku pulang malam, ya, Ma,” ujarnya lembut sambil mengelus pipi pujaan hatinya, dulu.
“Beberapa minggu ini Papa sering pulang malam. Banyak sekali kah pekerjaan di kantor? Doni enggak bantu?” balas perempuan bermata bening khawatir.
“Doni? Dia mah sukanya melancong, Ma.”
“Kok begitu? Untung Papa enggak begitu, ya. Tapi sesekali Papa nasihatin, dong. Kasihan anak istrinya. Baru setahun menikah, kan?”
Sang lelaki hanya mengangguk. Membuang pandangan ke luar jendela.
“Ya sudah. Hati-hati, ya, Pa.” Lelaki tersenyum tipis. Pura-pura tulus.
*****
Lelaki itu semakin tak ingat jalan pulang. Dia menghabiskan banyak waktu dengan seorang perempuan bersuara sama dengan istrinya, tapi penampilan yang jauh, sangat jauh berbeda.  Perempuan itu bertabur aroma bunga, sementara istrinya walau wangi, tapi tak sewangi perempuan itu. Perempuan berambut sebahu itu selalu memuji dan menyanjungnya, tak seperti istrinya yang lebih sering menasehati dan tak asyik diajak ngobrol. Begitulah menurutnya.
“Sudah lama kita enggak jalan-jalan, ya, Pa. Hmm, minggu depan kita ke pantai, yuk, Pa!” bujuk si bungsu.
“Aku maunya ke kebun raya!”
“Kalau aku pengeen banget ke rumah Nyai!”
“Toko buku!”
“Mama sih maunya semua libur di rumah, terus kita bakar ikan. Mama yang bikin bumbu, kalian yang bakar, ntar Papa yang....”
“Sudah! Sudah! Berisik! Cerewet! Pergilah kalian semua! Papa capek!” Laki-laki yang biasanya menyempatkan diri tertawa dan berkumpul itu tiba-tiba menepiskan tangannya dengan muka masam dan tatapan benci. Diambilnya dompet dari kantongnya, dikeluarkan sepuluh  lembar uang kertas berwarna merah dan dilemparkan begitu saja ke atas meja.
“Ambillah! Pergi ke tempat yang kalian suka. Papa mau tidur!” ujarnya ketus sambil berjalan cepat menuju kamar.
Kelima bidadari tertegun. Mata si bungsu mulai berair. “Papa kenapa, Ma?” gumamnya lirih.
“Mungkin Papa memang benar-benar kecapean. Ayo kita bersiap. Biar Papa istirahat,” hibur ibu bidadari. Tak ada yang menyadari, perempuan berbudi itu menyeka airmata perlahan dengan ujung hijab birunya.
Sesaat semua pergi, sang lelaki mengeluarkan mobil, dan pergi ke suatu tempat. Dengan senyum kemenangan, dan wangi parfum mahalan.

*****
Sang lelaki tak pernah lagi mendengar sapa ramah istrinya. Celoteh seru para bidadarinya. Sudah berbulan-bulan dia pergi dari itu semua. Terakhir, ia memaksa ibu dari anak-anaknya untuk menandatangani sebuah surat. Surat yang menandakan bahwa dia sudah menemukan perempuan baru yang lebih cantik, muda, menyenangkan dan tidak membosankan. Yang dia temukan di suatu tempat penuh hingar-bingar.
Dia lupa dengan keempat bidadari kecil. Yang selalu mengulurkan tangan meminta doa darinya setiap mereka berangkat ke sekolah. Yang selalu menyebut namanya di saat mereka menyembah pada Sang Pencipta. Diaa jadi lupa... tepatnya, sengaja melupakan.
Mulanya sang ibu bidadari merasa terpukul sangat. Perempuan sederhana itu hanya bisa diam, menangis, menjerit lalu diam lagi. Tak pernah terbayangkan lelaki yang amat dicintainya akan pergi begitu saja. Lelaki yang selama belasan tahun menjadi imam di hati dan keluarganya. Dia jatuh. Pedih dan sakit menerima semua ini. Apa yang harus dikatakan pada keluarganya? Pada sahabatnya? Pada anaknya? Dan pada Tuhannya? Ah, Tuhan, dimanakah Dia? Mengapa Dia membiarkannya terluka sebegitu dalam?
“Ma, mungkin besok Papa pulang,” igau si tengah di suatu malam.
“Aku benci Papa! Benciiii sekali!” teriak si sulung yang beranjak remaja, “Suatu saat, aku akan membuat Papa berlutut di kaki Mama. Lihat saja!”
Mulanya, dia setuju dengan si sulung. Membenci sang pujaan hati dan berniat akan menikamnya jika bersua. Dia merasa bodoh tak menyadari perubahan suaminya selama ini.
Namun, demi melihat wajah keempat bidadarinya,  perempuan paruh baya itu bangkit. Demi lafadz Allah yang mengukir di bibir dan hatinya, dia tersadar. Bahwa Allah sedang memberikan sejumput cinta yang berupa ujian padanya. Dia menjadi ikhlas. Tenang. Ridho atas semua.

*****
Bertahun sudah berlalu. Sang ibu para bidadari sanggup mendidik anak-anaknya dengan baik dan bijak. Sekali waktu, dia pernah membayangkan bahwa mungkin mantan pujaan hatinya sedang bersenang-senang dengan perempuan cantik itu. Pasti mereka sudah memiliki anak yang lucu. Dia berdoa, semoga anaknya tidak mewarisi sifat ayah dan ibunya. Ya, dengan kesahajaannya, dia masih mau mendoakan. Betapa kuat dan murninya hati ibu para bidadari.
Perempuan manis itu tidak tahu, bahwa di pulau seberang, lelaki yang pernah merajuk minta dibuatkan rendang saat penyakit typusnya kumat, sedang terlunta-lunta. Lelaki itu terusir dari rumah perempuan cantik hanya dengan membawa sekoper pakaian. Ketidakmampuan membelikan rumah mewah dan mobil keluaran terbaru, membuat si perempuan cantik mencari lelaki lain yang sanggup memenuhi keinginannya.
Sekarang, lelaki yang dulu terlihat tampan dan gagah itu sendiri meniti hari. Di sebuah kontrakan tanpa kamar mandi di dalamnya. Menyesali semua yang sudah terjadi. Sang perempuan sederhana tidak tahu, atau mungkin tak peduli. Entahlah.


Karanganyar, 2015


Alhamdulillah dimuat di Lampung Post 27 Desember 2015



 

5 komentar:

  1. Jiaaah, data dirinya dilampirin juga. Sayu yang kurang, nomor rekening :D Btw selamat ya, Mbaaak... Keren, euy ;)

    ReplyDelete
  2. Wkwkwk.. harap maklum.. buru2 ngejer pesenan kue. Jd copas langsung dari nobi. Dah daku hapus. Makasih sudah berkunjung mbak.. 😊

    ReplyDelete
  3. Saya berkunjung juga loh Mbaak.. :D Mana kuenya? #eh
    Ceritanya kereeen.. Iiiih.. Jadi mupeng deh, pengen nulis keren kayak gitu.
    (y) (y)

    ReplyDelete
  4. Mbak Ruri...

    uhuk.. uhuk.. kerenan dirimu kemana-mana laah.. ayo ke Lampung, ntar saya suguhin rainbowcake deh.. :)

    ReplyDelete
  5. SAya mash belajar, Mbak Ruri... :)
    Ayo ke Lampung, :)

    ReplyDelete