Gaji Tak Kena Pajak?


            “Kenapa sih penghasilan suamiku yang sudah seumprit masih kena pajak? Untuk makan sehari-hari saja susah, eh masih potong sana-sini juga. Mbok ya yang gajinya besar saja yang dikenakan pajak!”
            “Sama, Bu. Kata orang-orang gaji suami saya lumayan. Tapi lah gimana, anak saya kami kan ada empat. Ini yang kuliah lagi skripsi. Si bungsu baru akan masuk SMP. Sudah cari tambahan, masih saja kurang,” keluh ibu lain.
            Ya, diakui saja, perekonomian kita memang sedang berjalan lambat. Tak usahlah lihat indeks, grafik dan sebagainya yang sulit dipahami oleh orang awam. Riilnya saja. Yang biasanya enam bulan sekali mampu membeli baju, sekarang dimundurin setahun sekali pas mau lebaran. Yang biasanya seminggu sekali bisa makan ayam, berubah sebulan sekali. Yang biasanya agak tenang membayar listrik, sekarang ketar-ketir, kalau nggak naik, ya byarpret. Penghasilan tidak bisa memenuhi, hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok. Itu pun pakai gali lubang tutup lubang.
       
Mensiasati kondisi ini,  Pemerintah  melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomer 122/PMK.010/2015 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak tanggal 29 Juni 2015, menaikkan batasan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp 36 juta bagi wajib pajak dengan status tidak kawin tanpa tanggungan.  Sehingga kalau kawin anak nya 3 PTKPnya menjadi 48 juta setahun. Kebijakan ini cukup membantu masyarakat yang berpenghasilan di bawah 3 juta perbulan. Sehingga diharapkan masih bisa menabung dan membayar jaminan kesehatan (BPJS atau asuransi lainnya).

            Menurut salah seorang #konsultan pajak, #Zeti Arina, kebijakan ini akan menguntungkan pegawai/pekerja, karena jika PTKP naik maka pajak yang dipotong akan lebih kecil, artinya gaji yang diterima tentu akan lebih besar. Selama ini, kenaikan  BBM, TDL dan harga barang serta perlambatan ekonomi sudah memperlemah daya beli masyarakat. Harapannya dengan penurunan pemotongan pajak akan mendorong daya beli masyarakat sehingga perekonomian kembali bergairah karena ada kenaikan daya beli dari para pegawai/pekerja.
            Walau tidak terkena pajak, tetap saja masyarakat diharap bijak untuk mengalokasikan pendapatannya. Belilah yang dibutuhkan. Sesekali boleh membeli yang diinginkan, tapi tetap saja, tak boleh ‘besar pasak daripada tiang’. J
Fitri Restiana

4 komentar:

  1. Menarik Mbak postingannya. Saya yg masih mahasiwa aja kudu belajar menghemat pengeluaran. Hmmm... apalagi yg sudah berkeluarga ya mbak...
    Thanks mbak Fitri :)

    ReplyDelete
  2. Thanks for sharing. Alhamdulillah, berarti gaki 3 juta harusnya kena potong dikit kan ya? Ehehehehe

    ReplyDelete
  3. kalau single, ya potong dikit lah. Tapi kalau sudah ada tanggungan, PTKPnya lebih dari 3 juta loh, Mbak Hilda.... asyiiik... :)

    ReplyDelete
  4. Mbak Arinta..
    Bener banget.. kudu cerdas kelola penghasilan... 😊😊

    ReplyDelete