Ternyata Oh Ternyata

Alhamdulillah dimuat di Lampung Post. Minggu, 20 September 2015




 “Uncil, selain berita Bu Kelinci yang masih sakit karena terkena duri Pak Landak, ada berita apa lagi hari ini?” tanya Ola, si anak monyet yang tak bisa diam. Dia selalu saja berayun dari satu pohon ke pohon yang lain. Uncil si kancil kecil sampai gemas melihatnya.

“Hmm, yang aku tahu, kita akan kedatangan penghuni baru. Keluarga Kuda Nil!” jawab Uncil cepat.

“Kuda? Asyiiik! Kuda itu kan binatang yang gagah dan senang bersahabat,” balas Ola senang.

Uncil mengangkat bahu. Mereka sama-sama belum tahu bagaimana bentuk Kuda Nil yang sebenarnya. “Kita lihat saja nanti,” sahut Uncil.

Keesokan harinya, Uncil dan Ola berniat berkunjung ke penghuni baru di tengah hutan. Mereka berjalan riang sambil bernyanyi pelan. Tapi, tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya ketika melihat keluarga Kuda Nil sedang berendam di kubangan.

“Ssst, ayo sembunyi!  Jangan sampai mereka melihat kita,” ujar Ola menarik lengan Uncil. Dengan cepat mereka sudah berada di balik semak rimbun.

“Uncil, lihat! Katanya kuda, tapi kok menyeramkan begitu, ya?” bisik Ola sedikit ketakutan.

“I..iya... menyeramkan! Ayo, kita pergi saja.” Sahut Uncil gemetar. Bagaimana tidak! Anak Kuda Nil saja besarnya lima kali lipat tubuhnya. Belum lagi ayah dan ibunya.

“Ayo!” sambut Ola menggigil saat melihat Kuda Nil menguap. Gigi-giginya yang besar membuat mereka ingin bergegas lari.

Tapi, oh tidak! Sang anak Kuda Nil terlanjur melihat mereka!

“Hai Kancil dan Monyet cantik!” sapa anak Kuda Nil. Senyumnya seperti sebuah seringai tajam. Tubuhnya yang besar dan berkelenjar itu benar-benar membuat Uncil dan Ola sangat ketakutan.

Bum...bum...bum.. langkah kaki anak Kuda Nil semakin mendekat.

“Kabuuurrr...!” teriak Uncil. Tanpa berpikir panjang, Ola langsung naik ke atas pohon dan berayun secepat mungkin mengikuti Uncil.
.
Mereka tak sadar. Sang anak Kuda Nil seketika menghentikan langkahnya dan menatap kepergian Uncil dan Ola dengan wajah sedih.

“Hosh....hosh...Glegkh.. amaan...!,” ujar Uncil setelah merasa sudah cukup jauh. Keringat bercucuran di dahi mereka.

“Uncil, kenapa kita lari? Bukankah tadi dia sudah menyapa kita dengan ramah?” tanya Ola masih ngos-ngosan.

“Pemangsa memang biasa begitu. Kalau kita belum kenal, mereka pura-pura baik. Lagipula, bukankah dia menyeringai?” jawab Uncil sekenanya.

“Ah, dia tersenyum, kok. Besok aku akan ke sana lagi dan...”

“Jangan, Ola! Berbahaya!” balas Uncil gusar. Tapi tentu saja dia tak bisa membiarkan Ola ke sana sendirian. Jadi, mereka pun sepakat akan mendatangi lagi keluarga Kuda Nil. Besok siang.

*****

Hari ini keluarga Kuda Nil terlihat sibuk sekali. Mereka sepertinya akan mengadakan pesta. Susunan buah pisang, semangka, jambu dan aneka daun sudah berjejer rapi di atas kayu lebar.

Ola dan Uncil saling berpandangan di balik semak. Kali ini mereka memberanikan diri mendekati si anak Kuda Nil.

“Bukankah kalian yang kemarin datang kemari?” tanya si anak Kuda Nil berusaha bersahabat.

“Be...benar... ka..kami... ingin...tahu tentang kalian,” sahut Ola memberanikan diri.
“Oo, begitu. Perkenalkan, namaku Gruci, anak Kuda Nil yang paling suka berendam,” sapanya jenaka. Gigi-giginya tidak terlihat menyeramkan lagi bagi Ola dan Uncil. Mereka pun akhirnya terlibat perbincangan seru.

“Waah, jadi ternyata kamu juga herbivora, ya? Hewan pemakan tumbuhan  seperti kami?” tanya Ola sambil manggut-manggut.

“Ya, benar! Dan satu lagi, sebenarnya kami lebih berkerabat dengan hewan cetacea seperti Ikan Paus dan Lumba-lumba daripada dengan mamalia berkuku lainnya semisal Sapi, Kuda dan Kambing.” Jawab Gruci panjang lebar.

Uncil dan Ola menganggukkan kepala berkali-kali. Gruci sampai  terkekeh melihatnya.

“Uncil dan Ola, maukah kalian membantu kami?” pinta Gruci.

“Tentu saja. Bukankah kita sudah menjadi sahabat sekarang? Apa yang bisa kami bantu?” balas Uncil riang.

“Tolong sampaikan pada penghui hutan, bahwa kami mengundang makan sore hari ini. Kami sudah menyiapkan aneka buah dan tumbuhan segar. Bagaimana?”

“Woow, tentu saja! Kami juga akan memberitahukan mereka bahwa keluargamu adalah penghuni hutan baru yang ramah dan baik hati. Baiklah, kami berangkat dulu, ya!” Sahut Ola dan Uncil berbarengan.

*****

Pesan moral : Kita tidak boleh berburuk sangka dan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, J




11 komentar:

  1. Bagus, Mbak. Pesan dan gaya berceritanya suka. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Mbak Kazuhana.. 😊

      Delete
    2. Terimakasih, Mbak Kazuhana.. 😊

      Delete
  2. Bersemangat lagi gara2 postingan pean kapan hari itu mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengemasan ceritanya menarik mba. Pesan moral tersampaikan, juga ada pengetahuan yang terselip seperti penjelasan tenang hewan herbivora dan spesies kuda nil. Tak hanya terhibur tapi juga jadi belajar 😊

      Delete
    2. Saya lagi belajar, Kak Kei.. hehe. Makasih support yaa.. 😊

      Delete
  3. baca cerita anak ini, jadi inget dulu zaman zaman SD hehe
    wahh keren mbaaa, ceritanya dimuat di Lampung post :D
    Selamat yah hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. iya, Mbak Dwi Lestari. Jaman SD paling seru n menyenangkan.. terimakasih kunjungannya, yaa.. :)

      Delete