Masihkah Aku Bidadari Di Hatimu?


Sebelas tahun yang lalu, engkau masih menatapku dengan berbagai rasa. Rasa yang katanya sudah kau pendam sejak pertama kali kita bertemu. Di satu masa.


Aku ingat ketika engkau menyampaikan salam. Sejak saat itu, kau mulai rajin menemuiku. Bercerita tentang tugas-tugas kampus yang bejibun, usaha kaos bordirmu yang sedang melonjak dan pertengkaran ayah ibu di hampir sepanjang malam.  Aku tak bisa memberimu banyak pujian, apalagi nasihat. Aku hanya menganggukkan kepala dan menyediakan senyum yang menurutku biasa saja. Tapi bagimu, senyumku adalah peluruh lelah.



Lalu kita mulai  memberanikan diri merajut mimpi. Merangkai cinta dalam balutan akidah yang sama. Alhamdulillah. Aku tak  salah menerimamu menjadi imamku.


Aku pernah tersanjung oleh bisikanmu, “Jadilah bidadari untukku, selamanya, di dunia dan akhirat.” Subhanallah. Betapa aku merasa menjadi perempuan paling bahagia di penjuru dunia. Aku janji, dengan Bismillah, aku akan berusaha menjadikan itu semua menjadi nyata.


Memang engkau tak sempurna, pun begitu denganku. Terkadang engkau menjadi lelaki lucu, mengemaskan sekaligus menyebalkan! Mengganggu saat aku memasak pindang kesukaanmu, tak mendengar pertanyaanku ketika televisi menyajikan berita, dan yang paling menyebalkan, engkau lebih memilih bercengkrama dengan burung beo dan batu cincin daripada duduk santai menemaniku. Benar-benar menyebalkan!


Tapi sudahlah, tak mengapa. Asalkan engkau masih menebar senyum lalu sesekali menjawil daguku, itu cukup bagiku. Asalkan engkau masih mau membelai rambut dan mencium keningku, itu cukup bagiku. Asalkan engkau berkenan membisikkan betapa engkau sangat membutuhkan dan mencintaiku, itu cukup bagiku. Sangat cukup. Itu bisa membuatku memberimu lebih dari yang kau pinta. Percayalah.


Aku tak pernah berhenti menerjemahkan cinta di titian hari. Berusaha membuatmu nyaman dan tenang. Melalui doa, pujian dan teguran halus. Aku perkenankan engkau memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Karena aku pikir, keseimbangan tak harus sama. Engkau boleh menegurku dengan alis yang naik ke atas,  dengan suara sedikit keras, atau dengan diam. Tapi tolong, jangan kau hardik aku di depan orang lain. Seperti yang engkau lakukan beberapa bulan terakhir ini. Itu sungguh menyakitkan.


Ada apa denganmu, Lelakiku? Kau banyak berubah sekarang. Tak lagi menggodaku, memberi senyum, apalagi membelai rambutku. Jika ada sesuatu yang engkau tak berkenan karenanya, tolong ungkapkan padaku. Aku ikhas menerima dan memperbaikinya.


Saat ini, aku serasa menjadi makhluk asing di hadapanmu. Tatapan yang dulu bisa membuatku tersipu, sekarang membuatku seperti ditikam belati. Aku berusaha menjadikanmu malaikat. Tapi bagaimana denganmu? Masihkah engkau  menjadikan aku bidadari di hatimu?


#TerjemahHati
#CurhatSahabat

0 komentar:

Post a Comment