Apalagi Yang Kau Pinta, Ibu?




Masjid Takwa menjadi salah satu saksi perjuangan kita, Ibu. Bagaimana kita melepas lelah sambil menatap buntelan kain berisi baju-baju yang kita kreditkan ke tetangga atau ibu-ibu di kampung sebelah. Baju-baju dengan model dan harga yang biasa saja. Jika sepotong baju laku terjual, engkau akan tekun mengambil cicilannya, dengan atau tanpaku. Katamu,  sudah cukup aku menemanimu berkeliling menjajakan dagangan. “Untuk menagih, biarlah Ibu saja. Kamu harus belajar, menjaga dan mengajak adik-adikmu bermain.” 

Sebenarnya itu perintah. Tapi menurutku, itu seperti sebuah permohonan. Menandakan betapa bijaknya engkau sebagai seorang ibu. Seorang perempuan yang berjuang sendiri setelah ayah harus menghadap Illahi.

Bertahun-tahun kita meniti jembatan hidup. Susah senang kita lewati bersama. Tepukan pundak darimu,  delikan matamu, bahkan sesekali marahmu, sering menari-nari di sudut hatiku.

Aku pernah bertanya padamu, “Ibu, bagaimana engkau bisa memberi makan dan membesarkan 8 orang anak seorang diri?” Lalu jawabmu, “Seorang diri? Ibu tak pernah merasa sendiri. Bukankah kita semua milik Allah. Dia Maha Kaya. Alangkah mudah bagi-Nya untuk menyebarkan rejeki. Dia hanya memperhatikan usaha kita, lalu memberikannya melalui pintu yang tak pernah kita duga. Makanya Ibu selalu mengingatkan pada kalian untuk tak henti berdoa dan berusaha. Seperti yang Ibu lakukan selama ini.” Lalu engkau pun tertidur di samping mukena yang mulai pudar warnanya. Aku tercenung. Mencoba memahami rangkaian kata darimu.

Hingga suatu malam, beberapa waktu sebelum aku mewujudkan harapanmu untuk menikah. Lirih aku mendengar doamu. Aku pura-pura masih tertidur. “Ya Allah Maha Pangasih. Sayangi kami. Lindungi kami dari mara bahaya. Jadikan kami hamba-Mu yang selalu taat, berjalan lurus di jalan-Mu. Kuatkan kami menghadapi semua bentuk ujian dan cinta-Mu. Sanggupkan aku mendidik anak-anakku dengan baik, sampai waktunya tiba...” Aku mulai meneteskan airmata dan tidak bisa mendengar dengan sempurna. Kata selanjutnya yang kudengar adalah betapa engkau ingin tinggal di rumah yang layak dan sederhana, betapa engkau sangat ingin menunaikan ibadah haji.

Rumah? Ibadah haji? Mampukan aku? Mampukah kami? Ibu, semula aku berpikir itu terlalu muluk. Tapi demi mengingat ucapanmu bahwa Allah Maha Kaya, demi melihat airmata yang selalu kau sembunyikan, dan demi cinta yang tak pernah henti kami terima darimu, aku akan berusaha, Ibu. Berusaha beralas ridha darimu dan dari-Nya.

Lalu aku mulai menabung sedikit demi sedikit. Setiap hari. Tiga ribu, sepuluh ribu, lima belas ribu. Aku sering jalan kaki menuju kantor demi tekad agar engkau bisa menunaikan ibadah haji.

Hampir sepuluh tahun, alhamdulillah aku bisa memenuhi mimpimu. Ups, bukan, bukan aku. Tapi Allah. Aku hanyalah sebatas perantara. Benar katamu, Ibu. Allah Maha Kaya. Dia memberikan kita rejeki dari pintu yang tak pernah kita duga. Subhanallah.

Lalu kita bisa memiliki rumah. Rumah bercat hijau yang tidak terlalu mewah di depan mesjid. Persis seperti harapanmu. Syukur ku tak pernah henti. Ini karena ridhamu. Ibu. Bukankah ridha Allah ada karena ridha darimu?

Sekarang, engkau sudah tak segagah dan sekuat dulu lagi. Yang menggoreng kacang di tengah malam dengan alasan menghindari ‘comotan’ kami. Yang melanjutkan rajutan pesanan tetangga setelah sholat subuh, lalu beranjak berjualan baju sampai petang. Yang sesekali membawa oleh-oleh walau hanya sepuluh butir permen.

Engkau sudah berubah, Ibu. Begitu pun dengan kami, anak-anakmu. Tapi ada satu yang aku yakin tak pernah berubah. Cinta darimu.

Apalagi yang kau pinta, Ibu? Tolong katakan padaku.
Aku akan berusaha sekuat dan semampuku untuk membahagiakanmu.
Aku siap berlari manakala engkau tak kuat lagi dan ingin berhenti
Aku siap menemanimu mengisi hari wujudkan mimpi
Asalkan engkau bahagia, tentu aku pun begitu
Asalkan tak ada airmata duka, aku pun begitu

Dengan doamu,
Semoga aku dan semua anak-anakmu, bisa menjadi penawar duka dan segala letihmu. Aamiin.

Lampung-Tanjung Pinang.
Agustus, 2015

0 komentar:

Post a Comment