Bisnis Aris Di Bulan Ramadhan



            Bu Arni baru saja membuka warung kecil di samping rumahnya. Walaupun isinya belum terlalu lengkap, tapi Bu Arni terlihat tekun dan bersemangat. Apalagi kedua anak lelakinya, Ido dan Aris sesekali ikut menjaga di saat Bu Arni sedang sholat atau istirahat sejenak.
            “Bu, harga telur naik, ya?” tanya Ido, anak lelaki kurus berusia 12 tahun itu tampak serius membaca selembar kertas daftar harga. Kertas itu ditempel di pinggil etalase yang berisi aneka mi, gula dan minyak makan.
            “Iya, Do. Baru dua hari ini. Kamu jangan lupa, ya,” ujar Ibu mengingatkan.
            “Oke, Bu. Asal semua ditulis, Ido pasti bisa jagain warung. Sekalian jualan pulsa dong, Bu,” usul Ido, “Kalau uangnya terkumpul, kita bisa tambah isi warung dan ......”

            “Isi dompet Ido..” Ibu melanjutkan sambil terkekeh.
            “Hehehehe... itu juga sih, Bu. Jadi boleh, ya? Mulai pulang sekolah, nanti Ido yang ngejalanin,” ujar Ido yang dibalas oke oleh Ibu.
            “Aris juga mau ikutan jualan, Bu!” seru Aris.
            “Eits, kamu jual tenaga aja, ya, Ris. Nanti kalau Kakak minta tolong apa, gitu.”
            “Enggak lah. Aris mau ikut jualan eh bisnis betulan. Biar bisa dapat uang juga kayak Kakak,” tukas Aris sambil cemberut.
            “Memangnya Aris mau bisnis apa?” Ibu mencoba menengahi.
            “Mmmmh, sekarang kan bulan puasa dan freezer kita kosong. Aris mau jualan es batu aja,” jawab Aris mantap.
            “Waaah, ide kamu keren, Ris! Ibu dan Kak Ido aja nggak kepikiran kesitu. Tapi beneran, nih? Kamu nggak capek bikin es batu?”
            “Ya enggak lah, Bu. Tinggal menuangkan air dari galon ke plastik, diikat, terus masukin deh ke kulkas. Pokoknya, Aris juga pengen punya bisnis!” seru Aris dengan mata berbinar.
            “Ya sudah, sana! Mulai bikin es batunya. Lalu kita tulis di depan “JUAL PULSA DAN ES BATU,” perintah Ido penuh semangat.
            “Siap, Boss!”
*****
            Hari pertama, tak satu orang pun yang membeli pulsa dan es batu. Tapi mereka tak patah semangat, apalagi Aris. Dengan sepeda yang warnanya mulai pudar, dia bermain ke rumah teman-temannya sambil berpromosi.
            “Nina, sekarang kami jualan pulsa dan es batu, lho!” ujarnya tanpa malu-malu.
            “Oh, ya? Waah, asyik, dong. Jadi aku nggak perlu keluar gang kalau disuruh mengisi pulsa oleh Mama,” balas Nina senang, “tapi kalau es batu, kami sudah membuatnya. Kan ada kulkas.”
            “Iya, sepertinya semua rumah sudah ada kulkas, deh. Aku malah punya dua. Es batu mu pasti nggak laku,” Roni tiba-tiba datang menghampiri.
            Aris terdiam. Walaupun kesal, dia membenarkan ucapan Roni.
            “Hush, kamu ini, Ron! Daripada kita, bisanya hanya meminta sama orangtua. Ide Aris hebat!” puji Nina menyemangati.
            Aris hanya tersenyum kecut. Dia pun minta ijin untuk pulang.  
            Di rumah, kata-kata Roni terngiang-ngiang di telinganya. Otaknya berpikir keras. Dia nggak mau gagal sebelum mulai.
            “Aha... Aku punya ide!” Kali ini raut muka Aris berubah menjadi sumringah. Beberapa jam sebelum berbuka, dia mendatangi kakak-kakak yang kost di rumah Om Ero. Dua dari mereka mengajar di TPA dekat rumahnya.
            “Ooo, jadi kamu sekarang jualan pulsa dan es batu, Ris? Hebat! Kecil-kecil sudah punya bisnis. Semoga nanti insyaAllah jadi pengusaha sukses,” seru Abi Ajat.
            “Aamiin. Sudah, ya, Bi. Aris mau ke Mang Asep yang jualan es buah di depan gang.. Assalamu alaikum.”
            “Wa alaikum salam.”
*****
            Keesokan harinya.
            “Ariiis, Abi mau beli es batu, nih,” panggil Kak Ido setelah mengisi pulsa Abi Ajat.
            Aris tergopoh-gopoh menuju warung. Senyum mengembang di bibirnya. Dia memasukkan tiga bongkah es batu ke plastik ukuran sendang. “Makasih, Abi,” balasnya tertawa senang. Abi mengucek-ngucek rambut Aris sambil tersenyum.
            “Ris, es batunya sudah disiapin? Kemaren Mamang pesen lima kan, ya?” tanya Mang Asep setelah memarkirkan gerobaknya.
            “Iya, Mang, lima,” Aris membungkus sambil bersenandung, “Kalau setiap hari Mamang pesen es batu, Aris kasih bonus di hari kelima. Dua es batu!” ujar Aris.
            “Waaah, bener-bener pengusaha tulen ini,” Mang Asep menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa.
            “Kalau ngisi  pulsa juga, Mang. Setiap 15 kali transaksi, dapat bonus pulsa lima ribu,” Kak Ido mengedipkan mata dan mengacungkan jempol pada Aris.
            “Oke, nanti Mamang promosiin ke pelanggan Mamang, ya!”
            “Siiip.”
            Roni malu-malu memasuki warung.
            “Aris... mmmh, es batunya masih ada? Di rumahku ada acara buka puasa  keluarga besar. Es batunya kurang. Aku mau beli empat.”
            “Waaah, tinggal dua, Ron. Nggak apa, ya?” sahut Aris tetap ramah. Roni menganggukkan kepala, “Oiya, maafin omonganku waktu itu, ya. Ternyata kamu memang hebat,” puji Roni tulus. Aris tersenyum lebar dan mengajak berjabat tangan.
            “Bisnis di Bulan Ramadhan. Semoga bertambah berkah, aamiin,” doa Aris dan Ido bersamaan.

6 komentar:

  1. Replies
    1. alhamdulillah.. makasih, Mbak Naqi... :)

      Delete
  2. Agak-agak mirip sama bisnisan si Iban, ya, Kak Aris?

    Sukses buat Bunda Fitri Restiana (salamin ya, Kak Aris :) )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iya, Mbak Khulatul. Soale emang sebagian besar kisah nyata. Anak saya, Pandu, 12 tahun, emang dia yang ngejalanin bisnis pulsa di warung. Naah si Arung, 5 tahun jadi ngiler setiap mamasnya dapat honor, pas lebaran mau jualan es batu. Jadi saya mah memfasilitasi ajah, hehehe :)

      Delete