Aku Ijinkan Engkau Tak Kembali



            Katanya kau akan kembali. Merajut mimpi bersama kami.
            Dari semula aku ragu apakah kau akan menepati janji.
            Selama ini, Ibu selalu mendampingi kami tanpa kehadiranmu. Keputusanmu meninggalkan kami sejak balita, aku coba terima dengan lapang dada. Walaupun jujur saja, alasanmu bahwa kau menikah dengan perempuan lain, membuatku sangat terluka. Kata Ibu, aku harus memafkanmu. Haruskah, Ayah? Setelah hampir 11 tahun, kami hidup terombang-ambing bak perahu kecil di lautan. Berat, sangat berat. Tapi Ibu yang bertubuh mungil dan bermental bak batu cadas besar itu, selalu mengajarkan kami apa arti perjuangan dan keikhlasan. Apa makna kekuatan doa pada Sang Pencipta. Ayah, itulah yang membuat kami kuat, ya kuat. Karena doa kami tak henti sepanjang hari, sepanjang waktu yang tersisa.

            Betapa banyak yang Ibu ajarkan kepada kami. Tekad agar sukses menapaki hidup, harus kami miliki. Ibadah yang khusyuk, wajib kami pelajari. Dan cinta yang tulus, selayaknya kami pupuk, kepada siapa saja. Termasuk padamu, Ayah. Hebatnya lagi Ibu, setelah perasaannya kau cabik dan lukai, dia masih meminta kami untuk selalu mencintaimu. Ketika aku tanya alasannya, Ibu bilang bahwa di darah kami mengalir deras darahmu. Jadi, di setiap doa, kami harus menyertakan namamu. Nama seorang lelaki yang wajahnya samar di ingatan. Tapi demi Ibu,  kami rela melakukannya. Kami belajar ikhlas menyebut namamu dalam untaian doa.
            Ayah, seharusnya engkau menyesal dulu telah meninggalkan kami. Membiarkan kami mengais rejeki dengan peluhan keringat yang tak pernah berhenti. Tahukah, Ayah? Ibu pernah memberi kami makan dengan lauk sepotong kerupuk yang dibagi dua, untukku dan kakak. Aku pernah mengambil uang seseorang untuk membeli es balon. Waktu itu aku belum mengerti apa arti mencuri. Yang aku tahu, aku hanya ingin mencicipi rasanya. Aku iri melihat semua teman menikmatinya. Aku ambil uang di tas saudara, aku belikan es, sisanya aku masukkan kembali ke dalam tas. Kalau engkau ada, mungkin engkau akan segera membelikannya untukku. Begitukan, Ayah? Setelah tahu, Ibu tidak marah. Dia menangis dan berharap aku tidak akan mengulaginya lagi. Oh, ternyata itu melukai perasaannya. Aku berjanji tak akan mengulangi. Aku berjanji.
            Atau ketika suatu saat aku melihat wajah Ibu pucat pasi menerima telepon dari temannya yang menagih hutang. Sebelumnya, Ibu sudah bilang bahwa akan diusahakan secepat mungkin, dan apabila belum bisa juga, Ibu akan mencicil dari hasil jualan mote selama beberapa waktu. Ibu mulai berjalan dari pagi hingga sore menjajakan dagangan. Kami harus ikut karena tak ada siapa-siapa yang bisa dititipi. Kami lah salah satu alasan yang membuat ibu melupakan lelahnya. Ketika di jalan, kami penuhi hatinya dengan canda dan tawa.
            “Ibu, apakah Ibu tidak sedih ditinggalkan Ayah?”
            “Ah, seharusnya Ibu yang bertanya begitu pada kalian. Apa kalian tidak sedih?”
            “Mmmh, sedih, sih. Tapi utung ada Ibu yang selalu menemani,” jawab kami jujur.
            “Begitu pun dengan Ibu. Selagi kita berjalan satu arah menuju Allah SWT, selagi ada kalian, Ibu akan berusaha kuat. Sekuat gatot kaca...” ujar ibu tertawa.
            “Hahaha.... Gatotkaca kan badannya besar, Bu? Ibu kan kecil mungil...”
            “Eit, kecil-kecil begini, urat kawat otot besi loh... hahaha...”
            Begitulah ibu. Dia selalu berusaha menutupi segala duka. Ibu hanya mengadu pada Allah semata. Tidak pada yang lain, terutama kami. Ibu membiarkan kami tenggelam dalam rasa damai dan sikap saling mengerti.
            Sekarang aku sudah 12 tahun dan kakak 14 tahun. Ibu, masih terlihat seperti yang dulu, walau kerutan di matanya sudah mulai terlihat. Tapi senyumnya selalu saja mengembang. Usaha ibu mulai menampakkan hasil. Omzet dari usaha herbal itu bertambah dari waktu ke waktu. Kami tak lagi sering kelaparan dan berbalut kecewa.
            Percakapan Ibu dengan kakak,
            “Bu, besok kita makan ayam bakar, ya? Nanti Aku yang buatin. Aku baca reseprnya di internet.”
            “Oke, nanti kalau enak, kita kirim ke tetangga, ya. Yang giling bumbu?”
            ‘Kalau itu, Ibu aja, deh.”
            “Yang bikin sambelnya?”
            “Mmmh, Aku nggak berani. Nanti tanganku jadi panas.”
            “Walaaah, itu mah sama aja Ibu yang bikin, dooong..!”
            “Hehehehe... Pokoknya aku yang bakar...“
            Tapi ketika kami meminta sesuatu yang lebih mahal, biasanya Ibu tak segera mengabulkannya. Kami harus menabung dan belajar membuat prioritas, apakah itu kebutuhan, atau sebatas keinginan. Kalau kebutuhan, Ibu akan membelikannya dengan berbagai syarat. Jika hanya keinginan, Ibu meminta kami menabung dan bersabar. Ibu mengajarkan kami bagaimana mengatur  itu semua.
            Sekarang, saat semua Alhamdulillah sudah stabil, kau bilang ingin kembali. Kemana saja engkau selama ini, Ayah? Adakah kami dalam doamu? Oow, tidak usahlah dalam doa, pernahkah sesekali engkau mengingat kami, setidaknya di hari raya? Atau makan apa kami hari ini? Bagaimana sekolah kami? Bagaimana perasaanku ketika teman-teman bercerita tentang kehebatan ayahnya? Sementara aku belum tahu bagaimana rupamu. Bukankah engkau meninggalkan kami saat usiaku satu tahun? Aku tak ingat wajahmu, Ayah. Sama sekali tak ingat.
            Ayah, jika sekarang memang engkau sangat membutuhkan kami, datanglah. Kami meminta pada Sang Penguasa Jiwa, agar Dia berkenan membuka mata kami untuk menerimamu kembali. Tapi jika suatu saat engkau membatalkan keinginanmu, maka dengan bismillah, kami ijinkan engkau tak kembali.

Gunungterang, Juni 2015

0 komentar:

Post a Comment