Istriku, Aku Enggak Suka Kalau Kamu...

Ampun, deh! Masa pulang kerja langsung lihat wajahmu yang seperti sayur asem? Mana baju itu pula. Bukankah baju bercorak kembang-kembang besar itu malah membuat tubuhmu terlihat semakin jumbo? Bukan postur tubuhmu yang menurutku seksi itu yang aku complain, tapi pilihan dastermu itu loh. Duh, Sayang. Aku jadi malas bergegas pulang.

Tapi walau gimana pun, aku harus pulang. Masa mau nginep di kantor. Sebenarnya, aku sudah menghayal akan mendapati senyum manismu, seperti limabelas tahun silam. Membayangkan sapamu,”Capek ya, Sayang. Ini tehnya” atau “Nggak usah terlalu ngoyo lembur setiap hari, jaga kesehatan, Honey”.Yang sudah pasti, aku menghayal akan mendapatkanmu menyambutku di depan pintu rumah dalam balutan baju berwarna biru muda dan semerbak wangi sabun favorit kita. Daster tak apalah, asalkan warnanya jangan terlalu pudar dan tak terlihat robek  sana-sini.


Lanjut menghayal lagi. Masuk rumah aku disambut tawa para bocah. Setiap melihat mereka, entah kenapa syarafku langsung plong dan berasa masuk dalam kolam yang segeeer banget. Tapi seandaikan ada diantara mereka yang menangis saat aku pulang, aku juga nggak keberatan. Mungkin itu salah satu bentuk protes ketidakmengertian mereka bahwa inilah waktu yang aku punya.

Beneran, loh. Aku membayangkannya dalam bis kota. Khayalanku tetap nggak terganggu oleh beragam aroma yang campur aduk, atau posisi berdiri di samping om supir. Asal kamu tahu istriku, aku berharap kelelahan yang luar biasa ini akan hilang setiba di rumah nanti. Bertemu dirimu, anak-anak kita, hmmm.
Oh iya, kali ini aku bawa sedikit oleh-oleh, martabak keju dan buah kelengkeng. Tapi kamu jangan marah seperti dulu, ya. Masa aku sesekali bawa oleh yang rada ‘wah’, kamu malah bilang begini, “Mbok ya jangan boros-boros, Pak. Ini kan mahal! Mendingan uangnya untuk nambahin cicilan kulkas yang belum lunas!” Duh, istriku. Serasa biji kelengkeng jadi nyangkut di tenggorokan. Ini kan sekali-sekali. Kamu nggak tau ya, gimana perasaanku melihat anak-anak berebutan sambil tertawa dan berucap, “Makasih, Pak. Bapak baiiiik, deh” Terus aku ditubruk dengan ciuman dari mereka. Senengnya tuh disini looh... (tunjukhati)

Tapi apalah daya. Khayalanku langsung hilang diterjang gelombang. Malam ini ternyata sama dengan malam sebelumnya. Kamu masih menyambutku dengan daster berwarna kabur dan tanpa aroma harum. Padahal, pintaku nggak muluk-muluk kok. Aku nggak minta kamu ngurusin atau gemukin badan. Aku nggak minta kamu menyambutku dengan baju pergi. Aku nggak minta kamu berdandan setiap hari. Aku juga nggak pernah membangunkanmu di tengah malam demi melihat kelelahan luar biasa di wajahmu. Aku belajar berdamai dengan itu semua.

Aku hanya meminta. Sambutlah aku dengan senyuman, wewangian dan dengan keridhoanmu atas apa yang aku lakukan. Aku berharap di tengah kelelahanmu mengurus anak-anak dan rumah, tetaplah memandangku sebagai kekasihmu dulu. Oh, Istriku. Sementara, hanya itu yang aku mau...

http://ummi-online.com/istriku-aku-nggak-suka-kalau-kamu.html

Profil Penulis:
Fitri Restiana. Ibu penulis yang memiliki dua putra. Panggilan dekatnya adalah Fifi. Berdomisili di Bandarlampung. Ingin ngobrol dan berkenalan, silahkan sapa di blogwww.fitrirestiana@web.id, FB https://www.facebook.com/fitri.restiana atau email fifinusantara10@gmail.com. Dijamin, akan disambut dengan senyum tulus dan secangkir coklat panas, kini bergiat di Komunitas Ummi Menulis.

6 komentar:

  1. nice mak
    fenomena shari2 ibu rmh tangga
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak Tyaseta.. belajar mengingatkan dan diingatkan, :)

      Delete
  2. Duh suamiku, kasihan sekali saat engkau tiba di rumah aku malah blm pulang
    *ratapan istri yg kebanyakan nglembur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk.. Mak Uniek, lemburnya dikurangin, hihihi :)

      Delete