Ayah yang 'Merasa' Terbuang

Sewaktu saya masih berumur 6 tahunan, lelaki itu sudah menginjak bangku SMA. Tapi, jarak usia yang cukup jauh itu tak menyurutkan semangatnya untuk bisa ngobrol santai tapi berbobot dengan ibu rumah tangga yang baik hati, sopan, dan ramah ini... hihihi... Nah, gini ceritanya. Eits, saya sengaja pakai nama samaran, ya.. Khawatir memunculkan pemikiran yang bersayap,  15 tahun yang lalu, saat usianya masih 30 an, bang X memutuskan bercerai dan pindah ke lain hati. Seorang perempuan yang katanya cantik dan menarik simpati. Tiga anak perempuannya dia tinggalkan begitu saja. “Tapi tetap gua nafkahin kok, Fi. Gua nggak nyia-nyiain mereka. Gua bikinin rumah dan gua kirim terus uang sekolahnya. Pokoknya, gua tetap bertanggung jawab!” Katanya berapi-api. Seolah menuntut saya untuk mempercayainya. Saya hanya mengangguk-angguk serius sambil membayangkan apa jadinya mereka tanpa seorang ayah. Kalau saya mah, udah ketahuan, Papa meninggal karena kecelakaan. Jadi, nggak akan ada perasaan negatif, semisal dendam, benci sampai melampiaskan perasaan kemana-mana. Kalau kasus begini? Hhhh, saya pun menarik napas panjang. Yang saya tahu, Bang X sekarang sudah pula bercerai dengan istri keduanya, “orangnya......., Fi. Banyak maunya!” Ujarnya ketus. “Sekarang gua bingung. Mantan istri pertama nggak mau nerima gua, anak-anak juga. Kok bisa ya, Fi, anak-anak nggak mau nerima gua? Ini pasti ajaran emaknya” Gerutunya kesal. “Bang, jangan hanya minta dipahami. Pahami juga perasaan mereka selama ini. Gimana mereka harus merelakan ayahnya, satu-satunya lelaki, pergi begitu saja dengan alasan yang klise ‘perempuan’. Kebayang nggak, Bang? Seandainya saat ente nggak ada, anak-anak jatuh sakit? Atau cemoohan orang lain yang bilang kalau ayahnya pergi karena perempuan lain? Sakit, Bang. Sakiiit banget” Ujar saya masih berusaha tenang. “Tapi kan sekarang gua sudah tobat, Fi. Masa mereka nggak mau maafin gua? Gini-gini, gua masih ayah mereka. Kalau ada anak yang durhaka sama orang tua, mana ada sih orang tua yang durhaka sama anak?” Pertanyaannya menikam jantung. Saya mencoba berada di posisi anak, istri dan Bang X sendiri. Semuanya terlihat kacau. Bukan hanya kenyataan kasat mata yang terpapar, tapi juga emosi yang tercabik dan terluka. “Gua harus gimana, Fi? Mereka sudah ngebuang gua” Nada lirihnya mau nggak mau membuat saya tercekat. Lalu beberapa saran mengalir. Bukan, bukan saran sebenarnya. Karena saya tahu dia lebih berpengalaman. Tapi hanya sekedar apa yang ada dipikiran saja. Bahwa cukup sudah dia mengeluh. Perbanyaklah ibadah dan berdoa agar mereka membuka pintu maaf untuknya, dan dia pun membuka cakrawala berpikirnya dengan lapang. Ini adalah akibat dari perbuatan masa lalu. Segala kemarahan dan kekecewaan mereka, terima, terima saja. Seperti mereka menerima kenyataan bahwa ayahnya pernah meninggalkan mereka. Sekarang saatnya move on. Usia sudah berkurang. Tapi keimanan, kesolehan dan kebaikan harus selalu bertambah. Sulit jika kita berpikir sulit. Mudah apabila kita terus berusaha dan hanya meminta pada Allah semata. Jadi Bang X, saya tahu ini hanya teori. Mungkin setelah obrolan kita ini, ente masih tetap mabuk, masih tetap malas dan masih membuang waktu dengan hobby yang terkadang hanya pelampiasan saja. Tapi tolong pahami, hidup cuman sekali. Semua kita akan mati. Hendak bawa bekal apa kita nanti? Perasaan bahwa ente dibuang, pahami dan lakukan sesuatu! Pungutlah kepingan cinta itu, susun dengan bijak dan penuh kasih sayang. InsyaAllah diridhoi, aamiin. Februari 2015 Pelitanusantara www.fitrirestiana.web.id

0 komentar:

Post a Comment