Cinta Mama Sepanjang........


 
            Aku tak sanggup membalas tatapan itu. Tatapan yang menyiratkan kesedihan dan ketidakberdayaan. Aku harus bagaimana, Ma? Membiarkanmu meminum ramuan yang rasanya super pahit  sambil menatapku sayu tapi tajam? Atau mengijinkanmu untuk tidak menyentuhnya dan membiarkan sakit itu menggerogoti tubuhmu yang mulai ringkih? Ah, aku memilih yang pertama, Ma. Biarlah aku menerima tatapan tajam darimu, asalkan engkau berkenan meminum ramuan itu. Aku harap engkau tahu, bahwa apa yang aku lakukan, semua berdasarkan cinta. Cinta padamu, yang aku yakin besarnya tak seperti cintamu padaku, bagaimanapun aku mengukurnya.

*****

                Mama,
            Aku masih ingat dialog kita, saat aku menyematkan sebuah puisi di bawah bantalmu. Puisi dari seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang kutulis benar-benar tanpa coretan. Isinya adalah pujian tentangmu,  seorang perempuan yang membesarkan 6 orang anaknya, sendirian di rantau orang.
           
               “Puisinya bagus. Kapan Fifi buatnya?” Tanya mu sambil mengucek rambutku.
          “Tadi malam. Waktu semua sudah pada tidur dan Mama sedang gosok baju” jawabku sembari menggoyang-goyangkan badan.
           
             Engkau tertawa. Renyah sekali. Lalu aku lihat matamu. Ada bulir-bulir bening di ujungnya yang segera kau seka. Dengan langkah terburu, engkau menempelkan puisi itu di lemari kaca kamarmu. Eh, kamar kita semua. Ya, kamar berukuran 4x6 meter yang dulu dihuni oleh makhluk mungil 1,5 – 11 tahun, yang selalu setia mengisi harimu dengan tawa, canda dan beberapa kejahilan.

                 Bangga ku padamu tidak hanya seperti yang tertuang dalam puisi sederhana itu.
            Mama ingat nggak bagaimana aku ketika engkau tak berkenan menambah uang saku? Karena rengekanku tak mempan, dengan angkuhnya aku masuk kamar sambil membanting pintu! Duh, bisa-bisanya anak kelas 2 SMP melakukan itu! Bersikap tak sopan dan menorehkan luka pada Ibunya sendiri! Selang beberapa menit kemudian, engkau membuka pintu kamar dan berkata, “Bagus ya.. Anak Mama sudah bisa ngelawan!” Marahku berubah menjadi sesal. Sesal yang tak pulih hingga sekarang...

            Lalu ingatanku melayang ketika asmaku menyerang. Setiap menarik nafas, dadaku seperti ditusuk jarum dan ditindih batu besar! Sakiiit sekali...! Dengan telaten engkau memborehkan minyak kayu putih dan mengelus punggungku sambil menahan kantuk. Kau berikan bantalmu dan  menyusunnya sehingga aku bisa tidur dalam posisi duduk. Setelah itu engkau merebahkan diri disampingku. Aku tahu, engkau tak benar-benar tidur saat itu. Sepintarnya engkau menyembunyikan kekhawatiranmu, aku dapat merasakan gelisah dalam gumamanmu.. Ahh, Ma... di saat tidur pun, aku masih menari-nari dipikiranmu....

            Perjalanan waktu mengantarkanku berproses menjadi seorang gadis yang  mulai berani membuat jalur hidup sendiri. Tapi ternyata aku tak sanggup, Ma... Apalah aku tanpamu?  Maka, saat engkau tak menyetujui beberapa pilihanku, aku ikhlas dan ridho dengan semua keputusanmu.. cinta darimu mendamaikan semuanya...  Melalui doa yang kau panjatkan setiap saat, akhirnya aku menambatkan kati pada seorang lelaki sederhana yang semoga mampu menjadi imam bagiku dan anak-anakku kelak... Terimakasih, atas untaian doa Mama...

                Kita bahagia... hidup dalam kesederhanaan sejati...
            Satu persatu anak-anakmu pergi meninggalkanmu. Tapi bukan karena tak sayang padamu, Ma... Mereka, juga aku sedang belajar mempraktekkan ilmu yang kau bekalkan pada kami sejak kecil. Bagaimana menitipkan cinta pada pasangan hidup kami dan bersedia berkorban untuk itu semua. Bagaimana menghias sedih dan luka dalam senyuman... seperti yang engkau lakukan semenjak Allah memanggil Papa... Atau bagaimana mencoba menahan marah saat anak-anak mulai berlaku jahil seperti kami dahulu. Ternyata nggak mudah ya, Ma.... Tolong tambahkan ikhlas dan semangat juang pada kami, agar kami bisa sepertimu... setidaknya sedikit mendekati pada apa yang ada padamu... 

            Dan saat engkau mulai menikmati benih yang kau tanam, kita semua dihentakkan oleh kenyataan yang paling pahit, engkau menderita tumor di ginjal kirimu! Apa yang bisa kami lakukan, Ma? Menutupi airmata ini dengan tawa? Pura-pura tenang padahal hati kami gelisah? Sungguh, Ma, manalah sanggup kami melakukan itu semua. Melihat tubuhmu yang semakin ringkih dengan nafsu makan yang nyaris hilang. Maafkan kami, engkau harus mengalami pemeriksaaan di luar kota. Percaya, Ma.. kami akan lakukan apa pun untuk keselamatan dan kebahagiaan Mama.

            Di ruangan putih ini hubungan kita tidak hanya antara Ibu dan Anak... kita menjadi sahabat yang sangat dekat.. Aku membuktikan bahwa pilihanku untuk berhenti bekerja adalah pilihan terbaik. Aku bisa menemanimu merenda hari disini. “Ada hikmahnya Fifi nggak kerja, ya! Kalau Fifi kerja, Mama sama siapa?” Nada bicaramu membuat nafasku  sesak. Tak mungkin aku meneteskan airmata di hadapanmu. Asal Mama tahu saja, itu adalah salah satu keputusan terindah selama hidupku. Menyuapimu, memijit lengan dan pundakmu, menyisir rambutmu bahkan menampung semua suka dukamu, adalah moment yang tak tergantikan oleh apa pun dan siapa pun. Dalam sakit, engkau masih banyak memberikan pelajaran untukku. Bagaimana aku tidak berterima kasih atas semua cintamu, Ma.

            Ketika engkau menjalani operasi, tak ada yang bisa kami lakukan selain berdzikir..berdzikir..dan berdzikir. Aku dan si bungsu bolak-balik mengambil darah. Engkau sempat blooding! Ya Tuhan, ijinkan kami menorehkan lebih banyak cinta di atas deritanya.... kami belum puas memeluk, mencium, bercanda dan melantunkan milyaran doa untuknya....  Allah mendengarkan doa kami. Melalui berentet pemeriksaan dan perawatan, operasi berjalan lancar... Alhamdulillah....
           
            Sesudah itu, kehidupan kita tak seperti dulu... Engkau lebih banyak diam.
            “Mama mau makan apa hari ini?” Tanyaku sambil memandikanmu.
            “Apa aja yang Fifi masak. Fifi pasti capek ngurus semua sendiri” Jawabmu sambil menarik nafas.
            “Iiih, Mama..... memangnya Fi nebangin pohon, terus benerin genteng, terus nyemen... trus ngapain gitu dibilangin capek... Nggak ada capek, Ma.. Mama tolong doain aja supaya Fi terus sehat, jadi bisa urus Mama daaaan semuanyaaa.... “ jawabku dengan nada lucu dan  bergaya. Aku tertawa. Engkau pun tertawa sambil berusaha menggosok gigi sendiri... Sejujurnya, aku pura-pura tertawa saat itu... sedihku sampai menembus jantung.....

            Kesehatanmu terus menurun... dari hari ke hari.... Engkau hanya sesekali mengijinkanku menemani malammu. “Sudah cukup, Fi” ucapmu lirih. Begitupun dengan permintaan saudara-saudaraku. Akhirnya mereka menyiapkan bel agar engkau dengan mudah memanggilku. Setiap waktu, aku mengintip ke kamarmu. Aku tak tenang tak melihatmu walaupun itu hanya beberapa menit saja.

             Beberapa waktu menjelang kepergianmu.
            “Fi, Mama mau makan sambel terong, ikan kembung dan sayur sawi. Bisa tolong buatin?” Tanyamu di sela gesitnya tanganku memasangkan pampers.
          
           “Siap, Boss.... pake lama dikit boleh nggak? hehehehe...” Gurauku. Kali ini engkau tak tertawa, hanya bisa tersenyum. ‘Anakku ini masih saja mencoba menghiburku,’  mungkin begitu pikirmu. Sejatinya, aku juga mencoba menghibur diri sendiri, Ma...berdamai dengan perasaan sedih, sakit dan terluka, melihatmu benar-benar tak berdaya.... Ya Allah, kuatkan Mama...kuatkan Mama.....  kuatkan Mama....

            Engkau cukup kuat.... 2 tahun terasa sangat singkat meniti hari bersamamu... Ramuan herbal yang kuseduh setiap pagi, membuat tatapan lembutmu berubah menjadi tajam. Tolong pahami, Ma... ini kulakukan semua untukmu. Lalu, ketika setelah meminum ramuan itu kau bisa tertidur pulas dan sebentar menyingkirkan sakitmu, kau tersenyum padaku. Senyum yang tak pernah kudapatkan lagi beberapa waktu kemudian.
             
            8 Desember 2008
Saat takbir Idul Adha bergema dengan merdu dan syahdu, di saat itu pula Allah memutuskan bahwa engkau harus menghadap-Nya... Aku runtuh... aku tak bisa menyembunyikan airmataku.. Aku hanya berusaha untuk tidak bersuara, Ma... Aku ingat engkau mulai tak suka kebisingan... engkau sangat menikmati ksendirianmu....

            Semoga doa, pinta dan airmata kami menjadi bekal yang layak mengantarmu ke dalam dekapan Ilahi. Doa kami tak kan pernah berhenti, sampai Allah mengundang kita semua tinggal dalam istana-Nya...
Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera. 


1 Desember  2014
7 hari menjelang 6 tahun kepergian Mama, Zulfikar










4 komentar:

  1. Linknya tolong dibetulkan ya. Harus ditanam di kalimat penutup tersebut, bukan di bawahnya.

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimana, Pakde? Apakah sudah betul? :)

      Delete
  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Cerita tentang ibu memang tidak akan pernah ada habisnya ya mbak.. hks..hiks..
    Maksudnya Pakdhe Cholik, tulisan "Artikel ini diikutsertakan....dikasih link itu, bukan dibawahnya.

    ReplyDelete