Aku Ingin Didengar


Untuk sahabatku nun jauh disana....  Jangan menyerah yaaa.... :)
 
            Sudah berulang kali aku memintamu untuk duduk sebentar di sampingku. Tak usahlah engkau berlelah dan bersusah payah memperbaiki kunci yang rusak atau mengotak-ngatik perlengkapan gadgetmu. Besok, aku akan mengerjakannya setelah engkau berangkat kerja. Dan gadget mahal yang kadang batrenya suka ngedrop itu, sebaiknya ngkau serahkan saja ke ahlinya agar bisa kembali normal dan bisa menemani setiap malammu. 

            Kali ini, aku hanya ingin didengar, Suamiku. Sulit sekali memintamu meluangkan waktu sisa walau hanya untuk menatap mataku dan mendengar sedikit ceritaku. Sedikit saja.. Aku tahu engkau sudah lelah dan butuh banyak istirahat. Aku hanya ingin bercerita betapa semangatnya si bungsu hari ini belajar menghafal rukun Islam. Dia bertanya makna yang terkandung di dalamnya satu persatu. Tentang syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Aku harus mencari kosakata yang tepat agar dia memahami dengan mudah menurut nalar dan pikirannya. Agak bingung, tapi ternyata aku berhasil memuaskannya. Sekali waktu, ajaklah dia berbicara mengenai apa itu puasa, engkau akan terkejut menyadari bahwa apa yang aku sampaikan, diserap dengan baik dalam ingatannya. 

            Tapi aku ragu.. Untuk sekedar duduk sebentar di sisiku saja aku harus mengajukan permohonan berkali-kali. Bagaimana kau bisa tahan menjawab berjuta pertanyaannya? Bagaimana kau mampu dan bersedia untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikiranmu untuknya? Hhh, sepertinya dia dan ketiga saudaranya, sama seperti aku, tak bisa berharap banyak....

            Eits, mungkin saja tidak seperti itu. Dari beberapa buku yang aku baca, perlakuan suami bisa saja berbeda terhadap anak dan istrinya. Suami lebih menaruh perhatian pada anaknya. Apakah engkau juga begitu, Sayang? Engkau lebih mencintai mereka daripada aku, istrimu? Semoga tidak, ya.. Bukannya cemburu, aku hanya tak ingin cinta kita menjadi tidak seimbang dan pilih kasih. Bukankah, anak-anak kita terlahir berdasarkan cinta yang dulu kita miliki? Cinta yang seharusnya semakin mekar sepanjang waktu? Begitu, kah? Aku sedang berfikir dan mencerna, jalan manakah yang harus aku, dan engkau tempuh agar menemukan taman cinta yang harum dan penuh warna? Berkenankah engkau menggandeng tanganku, merangkul pundakku dan berjalan di sampingku? Bukan hanya sebagai pendamping setia, tetapi sekaligus penunjuk jalan dan imamku di dunia, juga di akhirat.....

       Engkau hanya diam. Sesekali menatapku, lalu sibuk lagi dengan semua urusanmu. Hhhhh...     
  
Oktober 2014
#Edisicurhatsahabat

0 komentar:

Post a Comment