Episode Hidup Bersaudara. Mama, Inilah salah satu warisanmu

            “Uni, maaf. Boleh pinjam uang nggak?”
            “Berapa, Dek? Untuk apa? Kok tumben.” Balas tanya dari sang kakak.
            “Kami kekurangan dana untuk beli bahan bangunan. Diluar perkiraan nih. InshaaAllah aku lunasin dalam beberapa bulan. Tapi nyicil ya, hehehehe..” Agak malu, tapi kudu diomongin.
            “Oke, nanti Uni ke rumah anter uangnya. Cicil ya, awas kalo nggak!” Ancam kakakku sambil terkekeh-kekeh. Hahay, Alhamdulillah. Berkurang kekhawatiranku. Setidaknya, aku bisa meneruskan pekerjaan bangunan sedikit lagi. Kakakku itu luar biasa sayang pada semua adiknya. Dulu sewaktu hidupnya masih sederhana, dia rajin mmeperhatikan kehidupan kami. Kalau dia ada melihat saudaranya galau, maka dengan segera dia mengirimkan paket sembako: beras, gula, minyak, telur dan kebutuhan pokok lainnya. Biasanya belanja dari warungku. “Dek, tolong kirim ke si Ganteng ya. Paket sembako seharga 200.000”
            “Oke, siap. Fi kasih harga beli ya, ntar cek aja di nota”
            “Harga warung yang biasa aja. Ntar Fifi rugi, loh”
            “InshaaAllah enggak. Lagian, ini namanya transaksi langsung dengan Allah, Ni. Bukan jualan yang untungnya langsung bisa diputer” Elakku. Dia hanya tertawa sambil menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol.


            Ada lagi. “Ni, ada uang lebih nggak? Bulan ini gajian telat, jadi nggak bisa cicil mobil. Bulan depan dirapel, deh!” Tanya si Manis ngak enak hati.
            “Mmh, berapa...? Oke, Uni usahain, ya.. Besok sore ambil aja kerumah, abis Uni pulang kantor.”
            Semua kebaikan yang dia lakukan bukan hanya karena dia memiliki kekayaan berlebih, wong terkadang dia minjem ke kantor juga untuk memenuhi kebutuhannya atau menolong kerabatnya! Hehehe. Tapi memang dia nya aja yang baik hati, berbudi luhur,  cinta tanah air dan bangsa, menghargai hasil karya orang lain.. hussh.. jadi ngawur... J Pokoknya, luar biasa deh kakakku ini!
            Pertolongannya bukan materi semata. Terkadang dia menyediakan waktu ‘konseling’ untuk mendengar curhatan adik-adiknya. Walaupun dia sangat bisa dipercaya, namun untuk beberapa kasus, dia juga konsul dengan adiknya yang manis dan baik hati ini, hehehe  J
            Lalu ketika aku bertanya, “Kenapa Uni tak ragu untuk hampir selalu mengatakan ‘ya’ setiap ada yang minta tolong, terutama kami?”. Jawabnya, “Sebagian pesan dari Mama yang selalu Uni ingat adalah selalu rukun beradik kakak. Yang lebih bantu yang kurang, yang lapang beri ruang untuk yang sempit. Yang belum berkecukupan, nggak boleh putus asa, bantu saudara lain dengan tenaga dan pikiran. Kalian nggak boleh saling iri hati dan merasa lebih hebat dari yang lain. Karena kalau satu saja diatara kalian berpikiran seperti itu, maka kerukunan nggak akan bisa kalian dapatkan, di dunia juga di akhirat. Uni ngebayangin alangkah bahagianya Mama dan Papa melihat kita hidup rukun, dan berkumpul lagi suatu saat.”
            Hiks..  aku membayangkan Mama mengatakan itu dengan nada bicara yang tenang dan tatapan yang tajam. Kakakku benar. Dari kecil kami dididik untuk saling membantu. Walaupun disertai kejahilan dan sesekali perselisihan, Mama mampu menempatkan diri di posisi tengah. Tidak memihak karena yang satu lebih tua, atau karena jenis kelamin. Mama hanya memandang segala sesuatu atas ikatan cinta dan persaudaraan. Cinta pada Allah dan persaudaraan antara kami berkakak adik.
            Mama, inilah salah satu warisan ilmu yang kami terima melalui kata dan tatapan halus dan terkadang tajam darimu. Semoga, dari alam sana, Mama dan Papa tersenyum bahagia melihat kami semua membanjiri hati kami dengan luapan doa dan cinta, pada semua saudara, terutama pada Mama dan Papa. Pertemukan kami semua kelak di surga-Mu, Ya Rabb.... aamiin

Idul Adha, Oktober 2014. Catatanku.Fifinusantara.blogspot.com
(6 tahun berlalu, kami tak lagi pernah melihat senyummu)



0 komentar:

Post a Comment