Resensi Buku Ayah, Buya Hamka. Perjalanan Seorang Tokoh Bangsa, Buya Hamka

Menguak sisi kehidupan pribadi seorang Buya Hamka (H. Abdul Malik Karim Amrullah) sebagai seorang ayah yang juga sang pejuang, ulama, politikus, negarawan, sastrawan bahkan jagoan silat yang memiliki nilai  humanis sangat tinggi.
Bagian satu, pembaca disejukkan oleh nasihat-nasihat bijak Hamka tentang masalah kemanusiaan. Nasihat tentang bahaya perselingkuhan, indahnya hidup bertetangga dan kiat  menjadi anak yang bisa membanggakan orangtuanya, mengalir jernih didasari cinta dan pengetahuan yang maksimal. Dituturkan dengan bahasa yang lugas dan penuh kesantunan (hal 1-14)
            Lalu pembaca diajak lebih dekat mengenal Hamka yang berperan sebagai guru mengaji, pejuang, pegawai negeri, ayah, suami dan guru silat. Di bagian  dua ini, dikisahkan perjalanan hidup Hamka yang konsisten menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran, keberanian, kelembutan dan kasih sayang serta bagaimana’ suasana mencekam ketika Hamka dan keluarganya mengungsi dari cengkeraman Belanda! (hal 15-34)
            Di bagian ketiga, penulis menceritakan secara gamblang kehebatan sang Hamka ‘ngobrol’ dengan jin, makhluk yang tak terlihat mata. Akhirnya beliau mampu membuat jin di rumah barunya ‘tunduk’ walau dengan kejahilan di sana-sini. Rokok yang terbang, suara-suara seram, penampakan sang jin yang menyerupai Hamka dan cerita-cerita seru lainnya, menjadi bumbu sedap di setiap lembar buku ini (hal 59-78)
            Bagian empat, lima dan enam. Kisah perjalanan haji Hamka, istrinya (Ummi) dan penulis. Perjalanan yang mencekam dan seru ketika mereka dihadapkan pada angin topan gurun pasir, supir yang mengendarai mobil sambil tertidur dan terjangan air bah di perjalanan dari Baghdad menuju Mekkah. Alhamdulillah mereka selamat. Ajaibnya lagi, disaat ketiga bencana itu datang, terdengar seperti ribuan orang berdzikir mengikuti Hamka, Ummi, Penulis dan supirnya. (hal 79-182)
            Bagian tujuh dan delapan berisi kisah kekuatan Ummi mendampingi Hamka. Ummi ditakdirkan untuk menjadi perempuan hebat yang setia menemani Hamka. Membaca sikap dan tutur kalimat Ummi, bagaikan merasakan air dingin yang mengalir di tenggorokan, sejuk. Pembaca juga disuguhkan kisah yang menguras airmata, yaitu ketika Ummi mendapat hinaan dan fitnah. Pahit getir kenyataan hidup ini, membuat Ummi menjadi ibu yang kuat dan pantang menyerah (hal 183-228)
            Bagian sembilan adalah salah satu bagian yang paling mengharukan. Seorang Hamka bisa memaafkan dengan ikhlas beberapa tokoh yang nyata-nyata menabuh‘genderang perang’ terhadapnya. Pembaca akan gemas sekaligus kagum atas sikap Hamka menghadapi tuduhan Soekarno, tatapan sinis Moh. Yamin bahkan fitnah Pramoedya Ananta Toer. Ketiga tokoh ini terang-terangan membuat kehidupan Hamka dirudung kesulitan selama beberapa tahun. Karena Soekarno, Hamka dipenjara selama 2,4 tahun. Karena Moh. Yamin dan Pramoedya, Hamka dijatuhkan image dan harga dirinya. Namun, di akhir sisa hidup, Soekarno malah meminta Hamka menjadi imam jika rohnya pergi. Moh.Yamin memohon Hamka berkenan membimbing kalimat syahadat  di saat kritisnya, dan Pramoedya mengutus anak dan calon menantunya untuk belajar Islam kepada Hamka. Dengan cinta dan keluasan hati, Hamka mengabulkan semua permintaan itu tanpa ada benci dan dendam. Mengenai latar belakang kejadiannya, pembaca akan disuguhkan fakta-fakta yang selama ini tidak terkuak (hal 229-266)
            Akhir bagian buku ini pun tak kalah mengharukannya. Bagaimana sikap, pandangan dan perilaku Hamka di ujung usianya. Juga prosesi pemakaman yang dihadiri ribuan pelayat (hal 273-288).
            Masih banyak kisah yang diurai dalam buku karangan putra kelima Buya Hamka ini, Irfan Hamka. Buku yang wajib dibaca, dipelajari dan diteladani di setiap lembarnya.

Diresensi oleh Fitri Restiana, alumni FISIP Universitas Lampung dan anggota IIDN

Judul Buku      : Ayah... Kisah Buya Hamka
Penulis             : Irfan Hamka
Penerbit           : Republika, 2014       
Tebal Buku      : xxvii + 323 halaman
ISBN               : 978-602-8997-71-3






6 komentar:

  1. Saya pengagum berat beliau.... Bukunya Tasauf modern, Lembaga Hidup, Tafsir Al azhar, jadi koleksi kebanggaan saya... nice post!

    ReplyDelete
  2. Makasih kunjungannya Mbak Mutia Ohorella,

    Semoga suatu saat akan lahir manusia-manusia seperti beliau.... :)

    ReplyDelete
  3. Jadi kepingin baca buku nya.
    Makasih infonya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Kak Mustafa Zain. Buku yang keren :)

      Delete
  4. Buku yg menarik. Harga bukunya berapa ya bunda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau tak salah 70 ribuan, Pak Adri Munaf. Belinya beberapa tahun yang lalu, agak lupa. Tapi ini benar-benar buku yang sangat mencerahkan.Terimakasih sudah berkenan mampir. Salam... :)

      Delete