Gara-Gara Game. Cernak, Lampung Post, 14 September 2014



            Semenjak  Ivan  lahir 2 tahun yang lalu, Gilang  merasa Ibu pilih kasih.  Dulu, setiap malam Ibu pasti membacakan buku cerita apa saja yang Gilang mau. Tentang  laut, bumi, Malin Kundang, Hang Tuah, Dinosaurus. Gilang juga sering melihat Ibu membaca buku-buku tebal yang tidak ada gambarnya. Lalu setiap hari minggu, bisa dipastikan, Ayah dengan semangat memakai sepatu olahaga dan menarik selimut Gilang untuk ikutan lari pagi di taman kota. 

            Sekarang, Ibu dan Ayah selalu sibuk dengan Ivan. Pernah sekali  Gilang mau ngobrol dengan Ibu di dekat Ivan yang sedang tidur, Ibu langsung meletakkan telunjuknya di bibir. Walaupun Ibu mengajak keluar kamar dengan senyuman, tetap saja Gilang merasa Ivan sudah merebut Ibu darinya. Makan sama Ibu, main sama Ibu, mandi sama Ibu, tidur juga sama Ibu. Uuugh, kapan Ibu punya waktu untuk Gilang?


            “Gilang, tolong ambilkan celana panjang adek ya. Lagi musim hujan begini, takut adek ngompol.”
            “Mhh, kenapa adek tidak ambil sendiri, Bu? Adek kan sudah 2 tahun. Dulu Gilang 2 tahun sudah bisa ambil celana sendiri.” Gilang melangkah gontai sambil meraup popcorn di ruang tengah.
            “Aahh, kata siapa? Iya deh, nanti Mas Gilang yang ajarkan adek ya supaya bisa mandiri seperti kakaknya. Mas Gilang kan baik” Bukannya mengiyakan, Ibu malah jahil menggodanya. Sebel!
*****
            Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan bagi Gilang. Dia bisa bermain game  agak lama. Kalau sudah main game, Gilang jadi lupa makan, lupa minum dan  sering marah dengan Ivan karena suka ‘mengganggu’.
            “Mas.. boleh pinjem tabnya nggak? Sebentaaal aja” Bujukan Ivan mana mempan. Apalagi  game spiderman sedang seru-serunya.
            “Nanti ya, Dek, Mamas kalahin musuhnya dulu. Setelah ini, Adek boleh main pow tanpa menoleh, jari-jari Gilang lincah menyentuh layar tab.
            “Adek maunya main onet gede, Mas.. ya Mas”
            “Iya, tapi nanti dong. Mamas juga baru main” jawab Gilang ketus. Jadilah Ivan berselonjor di samping Gilang sambil asyik mengunyah roti. Sesekali matanya bergerak lincah mengikuti gerak spiderman yang meloncat dari pagar ke pagar.
            “Mas, tolong jaga adek sebentar ya. Ibu mau beli sayur di warung Bude Mar” Ibu meminta sambil berjalan cepat.
            “Tapi jangan lama ya, Bu. Gilang mau melanjutkan main game yang kemarin baru didownload. Kan hari ini jadwal Gilang boleh main game” setengah hati Gilang menjawab.
            “Iya, sebentar aja” Ibu mengucek kepala Gilang yang akhirnya tersenyum lebar.
            Gilang sangat bangga pada ibunya.  Pagi-pagi sekali Ibu sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan sambil membereskan rumah. Sore menemani Gilang belajar. Pernah  Gilang  ditugaskan Bu Guru mencatat kegiatan seluruh anggota keluarga di rumah, sepertinya Ibu yang paling banyak. Dari pagi sampai malam Ibu tidak pernah berhenti bekerja.
*****
            Pulang dari warung sayur Bude Mar. Ibu mendengar tangisan Ivan.
            “Bu, tadi Adek mau minta susu. Tapi Gilang tidak tahu cara membuatnya” sambut Gilang masih asyik dengan tablet/tab  di tangannya.
            “Lha, Mas Gilang kan sudah bisa. Gitu deh kalau sudah main game, jadi tidak mau mengerjakan yang lain. Ini adikmu menangis kamu kok diam saja?” dengan sedikit nada  tinggi Ibu membalas ucapan Gilang.
            ‘Tadi Gilang sudah ajak adek main, capek Bu. Adek saja yang nggak sabar”  Gilang menjawab sekenanya. Suasana Sabtu ini memang pas sekali main game. Dari kemarin Gilang sudah menyelesaikan semua PR dari Bu Maika. Ups, ada yang belum, IPS! Tapi sudahlah, hari minggu kan masih bisa. Gilang tak mau terganggu dengan PR dan tugas dari Ibu lainnya. Pokoknya hari ini main game, titik.  
                        Dengan bergegas Ibu meletakkan belanjaan di dapur dan bersiap mencuci tangan.
            Tiba-tiba.. currrrr….
            Mamas… panas…panas….” teriakan Ivan sontak membuat Ibu yang baru saja masuk dapur berlari menuju Ivan di ruang makan.
            “Ya Tuhan…. Ivaaan...” Jeritan Ibu tak membuat Gilang bergerak. Kalau sudah memegang tab, dia seperti hidup  di sebuah kotak kosong. Tak ada suara. Hening.
            “Gilaaaang…” Kali ini Gilang langsung melompat dan tergopoh-gopoh berlari ke ruang makan sambil sedikit bersungut- sungut.
            “Uuh Ibu, Gilang kan sedang seru-serunya… satu level lagi Gilang bisa…….” Ucapannya terputus. Gilang hanya bisa tertegun melihat Ivan meringis sambil memegang gelas susu dengan  air  galon panas yang tumpah di lantai. Kulit tangan dan betis sebelah kanan Ivan terlihat memerah. Tenang ibu mengangkat Ivan lalu mengoleskan salep khusus.
            “Kamu jangan diam saja. Tutup semua jendela dan pintu. Kita ke rumah sakit”  Perintah Ibu dengan nada datar itu membuat Gilang ingin menangis. Setengah berlari, Gilang mengerjakan semua perintah Ibu. Tab berisi game yang sedang seru-serunya itu, ditinggalkan begitu saja tergeletak di kursi Dia tak peduli lagi dengan game, level, senyuman sinis Pandu, sahabatnya… dia tidak peduli.
*****
Di rumah sakit.
            Gilang tidak berani mendekati ibu yang duduk di samping  Ivan. Kalau tidak ada ibu yang membelai lembut, mungkin Ivan sudah menangis dari tadi. Dia gelisah sekali dengan infus dan balutan perban di tangan dan kakinya. Belum lagi tempat tidur yang kecil dan suasana kamar yang sangat hening. Ivan  merasa ketakutan. Sedari tadi ia hanya memanggil Ibu dan Ayah.
            “Bu, Ayah mana.. Ayah mana? Rintihan Ivan membuat Gilang ingin menangis keras. Tapi Gilang malu, ada satu orang pasien yang baru masuk. 
            “Sabar ya, Sayang. Ayah sedang di jalan mau kesini. Adek mau dibawakan apa? Tanya Ibu pelan. Gilang semakin merasa serba salah. Dia tak tahan mendengar rintihan Ivan. Gilangpun berlari kencang keluar kamar dan…buug, Gilang bertubrukan dengan ayah yang baru mau masuk ruangan.
            “Ayaaah, maafin Gilang,.. Gilang yang salah, Yah” Gilang meraung keras sambil memukul-mukul badannya. Dengan sigap ayah segera memeluk Gilang. Dibisikkan kata-kata yang lembut. Sekian detik berselang, Gilang sudah semakin tenang. Dengan beriringan mereka berdua menemui Ibu dan Ivan.
            Gilang harus berjiwa besar. Musibah ini adalah salahnya. Dia asyik main game dan teledor menjaga adik satu-satunya itu.
            “Ibu, maafkan Gilang ya. Gilang salah. Gilang menyesal” perlahan Gilang memberanikan diri menatap ibunya. Airmata sudah berurai deras sebelum Ibu menjawab.  Ibu menghela nafas panjang.
            “Lain kali, belajarlah bertanggung jawab, Nak. Ibu tidak pernah meminta Gilang melakukan sesuatu yang menurut Ibu itu berat. Ibu hanya minta Gilang menemani dan menjaga adik. Game ternyata membuat kamu lupa dengan semuanya” Ibu berusaha menahan marah dengan mengelus kepala Gilang.
            “Iya, Bu. Mulai sekarang, Gilang nggak mau banyak download game lagi dan main gamenya satu bulan dua kali aja. Gilang janji mau jaga dan ajak main adik.
            Senyuman dan pelukan Ibu menghentikan airmata Gilang. Menatap Ivan yang baru saja bangun dan terlihat bingung, Gilang langsung menciumi adiknya. Ya, Gilang berjanji. Game tidak boleh menghalangi ia menjaga dan bermain bersama adiknya.

2 komentar: