Episode Kisah Ayah. Maaf, Bolehkah Saya Mencuri Sekotak Susu?

 
            Menonton berita lokal malam ini. Tertangkapnya tukang ojek setelah ketahuan mencuri susu untuk balita!. Wajahnya samar, tapi mengamati gayanya, lelaki tanggung berusia 25 tahunan itu terlihat lugu atau pura-pura lugu, entahlah. Yang pasti, selama disiarkan di televisi, dia berusaha menutup mukanya dan menjawab pertanyaan polisi dengan patah-patah.

            “Apa saja yang kamu curi?” tanya seorang polisi berkumis tebal.
            “Susu bubuk 800 gram, Pak.”
            “Susu? Untuk siapa?”
            “Untuk anak semata wayang saya, Pak. Umurnya 8 bulan” jawab si tukang ojek pelan.
            “Apalagi yang kamu curi?”
         “Nggak ada, Pak. Cuman itu aja. Anak saya dari kemarin belum minum susu. Setoran aja nggak cukup.”
            “Ah, kamu mengada-ngada. Masa untuk beli susu aja kamu nggak punya uang?”

            “Beneran, Pak. Seandaikan ada, itu untuk beli lauk makan dan bayar kontrakan. Sumpah, Pak,” jawabnya gemetar.
            Kalau dianggap berbohong, sepertinya tidak mungkin, wong yang dicuri hanya susu bayi. Bukan barang-barang lain, rokok, sabun atau barang mahal lain misalnya. Saya terenyuh mendengar jawaban sang tukang ojek yang digelandang ke kantor polisi itu. Tercekat. Betapa besar taruhan yang dia pasang. Demi sekotak susu, seorang ayah rela menjual harga diri dan nama baik. Demi sekotak susu, seorang lelaki siap menahan sakit dipukuli massa. Sementara melihat berita selanjutnya, sepasang suami istri pejabat sedang berada di ruang VIP sambil menonton pertunjukan musik luar negeri.
            Normalnya, manalah ada orangtua yang tega melihat anaknya kelaparan dan kekurangan gizi. Si tukang ojek, atau jutaan ayah di luar sana, pasti ‘tertantang’ memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan dan kecukupan anaknya, keluarganya. Terkadang tak muluk, yang penting keluarga tak kekurangan makan dan anak-anak bisa sekolah dengan baik. Kalau Ayah merasa tak sanggup menaklukkan tantangan, bukan berarti dia telah gagal. Tapi hanya belum menemukan formula dan jurus yang tepat dalam menghadapinya.
            Yang pasti, teruslah ikhtiar dan berusaha. Sesempit apapun pikiran, luangkan hati untuk berdiskusi dengan kenyataan. Bahwa masih banyak yang Tuhan turunkan. Kita hanya diminta untuk berwudhu, sholat dengan khusyuk dan berusaha dengan keras. Tuhan Maha Baik. Tak Mungkin Dia menyia-nyiakan ciptaan-Nya.
            Saya hanya bisa menarik nafas panjang. Semoga sang tukang ojek mendapat keadilan dan rejeki yang berlimpah. Semoga dia menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, lepas dari kesengsaraan dan kemiskinan. Semoga Bapak dan Ibu pejabat mau berbagi, setidaknya tidak pamer ketika melakukan sesuatu yang membuat orang lain iri. Semoga orang-orang seperti saya ini, yang hidup dalam ksederhanaan, sering-sering mendoakan saudara-saudaranya. Mengedepankan nurani ketika harus berhadapan dengan ‘kejahatan’. Aamiin. (Catatanku.Fifinusantara.blogspot.com)

Bandarlampung, 26 September 2014

2 komentar:

  1. miris banget bacanya. dilema banget pasti jadi tukang ojek ini

    ReplyDelete
  2. Beneran Mbak Susan... sedih. :( Makasih sudah berkunjung... :)

    ReplyDelete