Jika Bunda Pergi, Anakku...


Bunda mimisan lagi. Akhir-akhir ini, Bunda sering merasa pusing dan cepat lelah. Padahal, tak ada aktivitas lain yang terlalu menyita tenaga dan pikiran. Bunda menjalankan semua seperti biasa. Mengurus dan merawat kalian dengan sepenuh hati. Dengan doa, canda, tawa, kesal dan diselingi sedikit omelan. Tapi, omelan Bunda kan nggak galak ya, cukup hanya sekali, lalu mendiamkan sampai kalian meminta maaf.          Setelah mimisan ini berhenti, Bunda akan memberi nasihat pada kalian. Tapi tolong, usahakan untuk tidak menangis. Karena Bunda nggak akan sanggup meneruskannya bila melihat kalian meneteskan airmata.
            Anakku sayang,
            Jikalau Tuhan lebih dahulu memanggil Bunda, engkau harus kuat, sekuat Mama ketika ditinggal Papa. Mama (nenek), adalah perempuan yang selalu Bunda banggakan di tengah kesendiriannya. Bunda sudah sering cerita, kan? Bagaimana Mama dengan tegas dan kelembutannya mendidik Bunda berkakak adik? Bunda ingin meniru Mama. Tapi entahlah, apakah Tuhan masih mengijinkan Bunda untuk terus menghirup udara di bumi, atau mengabulkan rindu Bunda pada Mama dan Papa di alam sana. Allah Yang Maha Kuasa.
            Pesan Bunda pada mu. Pertama, sholatlah tepat waktu dan penuh kekhusyu’an. Jalankan ibadah ini dengan sungguh-sungguh. Karena sholat bukan saja kewajiban, tapi kebutuhan untuk bisa hidup tenang dan merupakan tabungan menuju akhirat. Dengan sholat, engkau akan terbebas dari belenggu kemaksiatan di muka bumi. Semoga setiap ibadah yang engkau lakukan, setiap doa yang engkau kirimkan, akan membatalkan kekuatan Malaikat untuk mengayunkan cambuknya ke tubuh Bunda. Engkau adalah amal jariyah Bunda, pertanggungan jawab Bunda dan Bapak di Yaumil akhir kelak. Berbekallah dengan itu. 

            Kedua, sayangi Bapak dan rukunlah hidup bersaudara. Ups, ternyata engkau menangis. Bunda nggak bisa meneruskan nasihat ini. Maka sekarang, tidurlah engkau. Cukuplah surat ini sebagai sambungan nasihat Bunda. Tahukah Nak, setelah Bunda meredakan tangisan melalui elusan di kepalamu, Bunda juga menangis, sayang. Bukan karena menahan ketakutan akan mimisan yang semakin deras, bukan juga menahan sesak nafas sebagai penyakit yang Bunda derita. Tapi membayangkan, bahwa Bunda belum memiliki persiapan dan bekal yang cukup untuk menghadap-Nya. Apakah Tuhan mau menerima Bunda? Yang terkadang masih dipenuhi kemarahan, kekesalan dan sifat buruk lainnya? Ahh, doakan ya Nak, agar Bunda dan kita semua kelak dipertemukan di surga-Nya, aamiin.
            Sayang, jikalau usia Bapak dipanjangkan hingga renta, jangan sekali-kali ada bentakan dan hardikan padanya. Melalui rintihan doa yang dipanjatkannya, engkau menjadi seperti sekarang ini. Dan karena kelembutan, cinta kasih yang ditaburkannya, engkau mampu berjalan meniti ilmu dan merenda mimpi, walau mungkin tertatih. Dan sekalipun Bapak memiliki watak pendiam dan sedikit kaku, ketahuilah, Bapak rela menerjang semua kesulitan dan rintangan untuk kebahagiaan mu. Bunda sangat tahu itu. Jadi, rawatlah Bapak dengan segenap hormat dan ketulusan cinta, seperti yang Bunda ajarkan selama ini. Doa Bunda selalu, agar engkau menjadi lelaki soleh dan bijak.
            Yang ketiga, mulailah segala sesuatu dengan Bismillahirrahmanirrahiim. Karena setiap engkau menyertai Allah dalam segala tingkah lakumu, maka disitu pulalah rahmat selalu tercurah atasmu. Engkau tidak boleh meminta kepada selain Allah, tidak boleh….Bunda akan sangat sedih dan tak akan bisa memaafkan kesalahan fatal ini...
 Yang keempat, Sayang...
Sebelum kau berbicara, buatlah perjanjian dengan hati nuranimu, agar ia mau mengingatkan ketika mulut salah dalam berucap. Karena banyak orang melakukan kesalahan dimulai dari ucapannya. Namun banyak pula orang yang menjadi lebih bijak justru dengan kata teduh yang keluar dari lisannya. Jadi, usahakanlah begitu. Dan yang pasti, posisikan Al quran dan Al sunnah berada di atas kepalamu. Semoga keduanya bisa menjadi payung jalan hidupmu di dunia dan akhirat kelak.
Yang kelima,
Jika kelak kau dewasa, anggaplah teman adalah saudaramu yang wajib kau nasihati saat menyimpang,  dan wajib pula bagimu untuk menerima nasihatnya. Tapi, pintar-pintarlah kau memilih dan memilah. Jika kau dan temanmu bisa saling memberi kebaikan, maka pertahankanlah. Namun jika suatu saat engkau menemui teman yang tak bisa kau ajak dan mengajak menuju cahaya, dengan rela, lepaskanlah ia. Mungkin tangan kecilmu belum mampu merangkulnya. Biarlah Sang Penguasa yang akan memberikan teguran cinta untuk hamba-hamba-Nya.
Pujaan Hati Bunda,
Tak akan cinta Bunda pergi meninggalkan desahan nafasmu. Selama ini, jika kau temukan kemarahan Bunda, itu bukan karena Bunda benci. Tapi karena sayang dan khawatir, kau akan mengulangi kesalahan dan menyakiti orang lain. Bunda tak sanggup melihatmu mendapat cibiran dan umpatan kekesalan atas sikap burukmu. Marah Bunda adalah sebentuk untaian doa agar kau menjadi lebih baik. Namun, jika itu menyakiti perasaanmu, Bunda mohon maaf dan ridhamu atas sikap Bunda. Bunda hanya ingin engkau tahu, bahwa tak ada yang bisa memberimu cinta sebesar cinta Bunda dan juga Bapak, selain Allah tentunya.
Mungkin Bunda belum bisa menjadi orangtua yang bijak. Pahamilah, Anakku,. penggapaian Bunda untuk menjadi orangtua bijak adalah bergantung padamu. Pada tingginya keimananmu, kelembutan hatimu, kemuliaan perilakumu, kecerdasan pikiran serta nuranimu untuk menerima Bunda apa adanya. 
Duhai Belahan Jiwa, di sisa usia Bunda, ingatlah pesan ini selalu. Tak perlu kau hias dengan bingkai emas. Cukup kau tanam dalam hatimu. Biarkan ia mengakar, tumbuh besar dan memberi kebaikan padamu, pada orang sekelilingmu, pada semua makhluk ciptaan-Nya.
Terakhir Cinta, Bunda ingin doamu. Agar Bunda, Bapak dan kita semua selalu mendapat limpahan rahmat dan cinta dari Sang Penguasa Jiwa.  Doakan agar kelak kita memiliki rumah yang bersinar dan dipertemukan dalam segala bentuk kebahagiaan, dunia dan akhirat. Aamiin...   (Fifinusantara10@gmail.com)

0 komentar:

Post a Comment