Ramadhan Bersama (dan tanpa) Mama


Mama, sepertinya baru kemarin engkau membangunkanku sahur dengan jawilan lembut di pipi. Sepertinya baru kemarin engkau tertawa melihatku lemas menahan lapar, kemudian menyiapkan segelas susu hangat tanpa kuminta..  Kejadian ketika kelas 1 SD itu, terus membekas hingga sekarang...

Lalu ketika aku merasa sudah sanggup dan mampu, melalui dorongan, pujian dan iming-iming sebuah buku cerita, engkau bangunkan aku untuk sahur. Kali ini tanpa jawilan lembut, hanya tepukan ringan di bahu. Aku pun segera terduduk dan melihat senyum di rona wajahmu yang tirus. Menyantap menu sahur dengan sedikit rengekan dan mata yang masih mengantuk. Disertai senyuman tipis, kau raupkan sedikit air ke kedua kelopak mataku dan mengambikan nasi berkuah sayur bayam dan lauk kesukaanku, tempe manis. Mmh, sahur yang sangat nikmat. Lalu setelah sholat subuh, aku tertidur disampingmu, sambil mendengarkan lantunan ayat suci yang kau bacakan pelan dan tegas, terkadang sambil berurai airmata. Kelak aku tahu, kenapa engkau menangis saat mengaji, bahkan di saat-saat lainnya.

Setelah itu, aku terbiasa bergegas bangun dan membantumu menyiapkan santapan sahur untuk kelima saudaraku. Memasuki usia SMP, aku tak perlu lagi iming-iming buku dan jajanan darimu. Aku sudah paham Ma, bahwa pahala puasa itu dari Allah semata, bahwa puasa adalah kewajiban dan kebutuhan umat Islam. Engkau tak perlu lagi bersusah payah membeli dasar bermeter-meter dan menjahitkan baju lebaran untuk kami berenam. Ngggak perlu Ma. Aku sudah mengerti makna puasa walaupun belum sempurna.

Oiya Ma, masih ingat ketika sepulang sholat subuh dari mesjid, aku langsung jalan pagi dengan teman-temanku? Mama marah karena aku tidak bilang dan terlihat sangat lelah. “Hati-hati ya, jangan sampai batal puasanya karena ini. Fifi sudah wajib puasa”. Kalimat tegas mama menjadi kata ampuh bagiku untuk tidak ngabur setelah sholat subuh. Sejak itu, aku selalu langsung pulang, istirahat dan bersiap ke sekolah.

Kegiatan Ramadhan bersama mama selalu seru dan menyenangkan. Dari mulai sahur, berbuka, berangkat tarawih bareng, sampai heboh membuat kue lebaran. Bagaimana nggak seru, terkadang kue yang kita para perempuan buat dengan menahan lapar saat mencium wanginya, sedikit  demi sedikit semakin berkurang. Oow, rupanya, diam-diam keempat saudara laki-lakiku berjingkat ‘mencicipi’ kue di lemari atas setelah tarawih. Mama hanya menggeleng kepala, sementara aku dan kakak perempuanku mengomel, lalu memindahkan kue ke dalam lemari baju, dan dikunci !. Supaya nggak pada ribut, akhirnya, mama menyuruh semua kakakku membuat kue, dan masing-masing mendapatkan jatah 10-20 buah kue, hehehe, adil kan..?

*****

Begitulah mama sang perempuan super. Kepergian papa setelah kecelakaan motor di saat kakak tertuaku kelas 1SMP dan adik bungsuku berusia 1,3 tahun, menjadikan mama menjelma sebagai makhluk nyaris sempurna di mata kami, terutama aku. Aku baru menyadarinya setelah memandang mama tertidur, di suatu malam menjelang awal masuk kuliah.

Ya Mama, aku sudah remaja. Aku mulai belajar memahami cinta dan kesedihan sekaligus. Aku semakin tahu apa makna kesendirian di tengah keramaian. Makna airmata bahagia saat saudara-saudaraku berhasil menyelesaikan kuliahnya, atau airmata ikhlas hidup tanpa papa selama puluhan tahun. Ketegaran mama menjadi modal kami memaklumi berbagai kekurangan selama ini. Hidup yang terkadang nyaman, terkadang dihantam musibah bertubi-tubi. Melalui didikan dari mama, Insya Allah membuat kami kuat seperti mama.

Semua berjalan apa adanya. Hingga Ramadhan tahun 1995, kecelakaan menimpa kakak lelakiku. Aku mendengar doa mama, “Ya Allah, tolong jangan Kau biarkan aku kehilangan lagi. Berikan kesembuhan untuk anakku. Segala bentuk ujian dan cinta dari-Mu, semoga membuat kami yang lemah ini mampu tegak bediri, bahkan bangkit menuju cahaya-Mu. Jadikan airmata sedih dan duka ini sebagai obat pelipur lara dan pengsir gundah. Hanya pada-Mu aku berserah ya Allah.”  Aku mulai memahami segala bentuk duka mama selama ini. Subhanallah, begitu mama semakin hebat dan kuat di hadapanku.

Kecelakaan itu  terhitung parah. Aku menyaksikan dengan isakan tangis tertahan manakala darah bergumpal keluar dari mulut kakakku! Dia histeris, berteriak-teriak memarahi sang suster yang mengguting bajunya. Aku dekati dia dan berbisik, “Da, istighfar..Astaghfirrullahual’adzim... Astaghfirrullahual’adzim..” aku terus membimbingnya sambil merapatkan ganggaman di tangannya yang penuh darah. Mama masih di perjalanan menuju rumah sakit.

Dengan kesadaran yang masih penuh... dia menatapku dan mengikuti ucapanku lirih... “Astaghfirrullahual’adzim..Ya Allah... mama...papa...” Semakin lirih ketika obat bius sudah masuk ke dalam aliran darahnya...   (InsyaAllah bersambung. Fifinusantara.bogspot.com)

0 komentar:

Post a Comment