Lanjutan...2... Ramadhan Bersama (dan Tanpa) Mama



Aku lihat tatapan nanar mama mencoba menahan tangis. Kami memaklumi, bahwa seiring usia, mama akan semakin sensitif dan melemah. Tapi ternyata kami salah, mama malah terlihat semakin tegar dan mampu berperan sebagai ibu yang kuat dan bijak.

“Fi, telepon Kak Aan dan ceritakan keadaan Kak Ial, tapi jangan bilang seperti ini keadaannya. Bilang saja yang Fifi anggap layak,” datar mama memintaku ke wartel. Masih dengan isakan yang tertahan, aku berlari menuju wartel terdekat. Hujan deras tak menyurutkan langkah untuk segera menelepon kakakku yang bekerja di Jakarta itu. Aku tak perduli bila asmaku kumat, aku tak perduli dengan baju butut berlapis tepung dan beraroma nanas, aku tak perduli....

*****
Dokter bilang, kalau saja fisik Kak Ial tidak kuat, mungkin dia akan mengalami geger otak. Bagaimana tidak, aku melihat berliter-liter darah segar dan bergumpal keluar dari mulutnya. Di hari berikutnya, aku membersihkan darah yang keluar dari telinganya sambil melantunkan ayat Quran, aku yang memotong dan membersihkan kuku-kukunya dengan baby oil dari torehan darah yang sudah mengering. Semakin sedih aku melihat penderitaan Kak Ial, semakin tegar mama merawatnya. Mama sudah ditempa oleh berbagai peristiwa sepanjang hidupnya.

Ramadhan kali ini memberi pelajaran berarti. Kata mama, Allah sengaja memberikan ujian disaat Dia melipatgandakan semua kebaikan. Allah menolong kami agar pundi-pundi keimanan semakin lekat di hati kami. Bahwa iman, ikhlas, pasrah dan perjuangan harus menjadi modal kami meniti kehidupan di dunia. Duh mama, di saat seperti ini pun engkau masih sanggup menguatkan kami dan menutupi perasaanmu.
Doa mama menjadi salah satu resep mujarab bagi pemulihan kesehatan Kak Ial. Perlahan, dia sudah bisa berjalan, mulutnya tidak terlalu mencong lagi dan badannya sudah mulai berisi. Tapi, kakakku yang satu ini masih tetap temparemen (mudah marah sekaligus mudah menangis jika melihat yang teraniaya). Aku sering senewen dengan sikapnya. Setiap dia mulai bersikap menjengkelkan, mama selalu mengingatkan, ‘Sabar, kalau itu, memang sudah dari sananya,’ kata mama sambil tersenyum. Ah mama, senyummu peluruh duka kami semua, anak-anakmu.

0 komentar:

Post a Comment