Bapak pilih Yoko, Ibu pilih Bono

Tegar bingung melihat perilaku bapak dan ibunya. Biasanya meja makan menjadi wadah keluarganya saling curhat, tapi beberapa bulan ini kok sepertinya dia tidak mendengar curhat ibu yang terkadang manja, tapi malah hujatan di sana-sini. Eits, bukan sama bapak ya, tapi sama Pak Yoko, calon Ketua RT Kampung Bahagia.
“Lha, Ibu nggak pergi arisan di rumah Bu Yoko? Tadi Bu Ana nanyain tuh.” Bapak memulai pembicaraan.
“Males lah pak, wong arisan yang diomongin suaminyaaa melulu. Katanya Pak Yoko yang ganteng itu suka nyumbang ke mesjid lah, bagi-bagi sembako lah, mau betulin bak sampah, perbaikin gardu..pokoknya janjinya itu loh… nggak tahan ibu dengernya.” Ibu yang biasanya santun dan ramah, kali ini terlihat sangat berapi-api.Tegar hanya melongo.
“Kenyataannya kan memang begitu, Bu. Itu, beberapa tukang sudah mulai betulin bak sampah.” Jawab bapak kalem.

“”Iya sih Pak. Tapi kan itu pake uang sumbangan kita-kita. Gayanya itu seolah-olah dia yang nyumbang. Mana gaya istrinya itu looh, ampun nyebelinnya..”, ibu mulai sedikit sewot. “Pemilihan RT minggu depan, Ibu mau pilih Pak Bono saja, walaupun nggak ganteng, tapi orangnya kalem dan tegas.”
“Ah Ibu, Pak Bono itu kan orang baru, belum berpengalaman dan masih coba-coba. Memang Ibu mau jadi bahan percobaan.? Hwualaah, bukannya ngademin, eh bapak malah bikin ibu tambah panas. Tegar jadi nggak semangat menyantap sop ayam yang sejatinya sudah membuat air liurnya menetes.
“Walaupun orang baru, Pak Bono itu perhatian dengan tetangganya. Kemarin saja, waktu si Gendis anak Bu Ratih sakit, Bu Bono datang diam-diam dan nyumbang uang lima ratus ribu. Zaman sekarang, mana ada tetangga yang begitu Pak.”
“Ya wajar aja Bu. Dia kan memang orang kaya. Tapi, kalau emang diam-diam, kok Ibu bisa tahu?.” Bapak terlihat bingung dan mulai tersenyum menang.
“Mmh, tadi Bu Bono yang telepon ibu. Katanya jangan bilang siapa-siapa.” Ibu sepertinya kurang senang dengan senyuman bapak yang biasanya selalu terlihat manis.
“Hahaha.. kemarin pagi Pak Anwar juga bilang gitu dengan bapak. Jangan bilang-bilang kalau Pak Bono nyumbang ke Bu Ratih, itu pesan Pak Bono. Rahasia tapi kok dipamer ya Bu?.“
“Ah sudahlah. Ibu mah tetap milih Pak Bono, titik.” Tanpa memulai makan, Ibu sudah berdiri sambil mendelik ke arah bapak. Lagi-lagi, Tegar hanya bisa melongo dan melanjutkan makan, hanya ditemani bapak yang wajahnya mengkerut dan tanpa senyuman.
Keesokan harinya. Masih di meja makan.
“Eh pak, tau nggak informasi terakhir.Ternyata jagoan bapak, Pak Yoko itu pernah korupsi loh di kantornya. Ibu tahu dari Bu Anwar, sepulang dari pasar tadi pagi.”
“Dicek dulu bu. Apa itu informasi A-1? Soalnya lagi masa pemilihan gini, banyak black campaign loh. Kita nggak boleh ikut-ikutan. Dosa.” Timpal bapak. Wah, bakal kejadian kemarin terulang nih, pikir Tegar was-was.
“Eeh, iya juga ya. Walaupun ibu lebih sering di rumah, tapi harus pintar memilah informasi. Nah, kalau yang ini, sepertinya kita sepakat berada dalam satu jalur ya pak.” Senyum ibu mulai terlihat manis. Bapak pun menganguk senang.
“Iya dong bu. Meskipun pilihan bapak dan ibu berbeda, tujuan dan jalurnya kudu harus sama, biar nggak nabrak-nabrak.” Kali ini Tegar mencoba bijak. Ahh asyiknya berbeda dalam kebersamaan. (Fifinusantara10@gmail.com)

0 komentar:

Post a Comment