@Anak Juga Manusia #Bukan Sekedar Resensi



                                    Prolog
Setelah membacakan buku cerita sebelum Arung tidur, aku meletakkan sebuah buku di samping bantal. Kebiasaan yang agak sulit dirubah.
“Dek, kan sudah semua nih, kita tidur ya”, ajakku berharap  ia akan setuju, soalnya aku mau melanjutkan mengetik resensi buku yang terkadang isinya nyubit berasa sampe lapisan daging yang paling dalam ini, hehehe.
            “Dedek belum ngantuk. Bunda ngetik aja” jawabnya sambil menggamit buku di bawah bantalku. Aku pun pura-pura memejamkan mata sambil menunggu apa yang akan dilakukannnya. Setelah buku “@Anak Juga Manusia” ditangan,  iapun membaca dengan versinya.
Sambil menunjuk gambar sampul, Arung berkata “Ini gambar anak lagi ketawa, sedih dan ngantuk. Mmh, bunda  tau nggak kenapa  gambarnya ketawa  dan sedih ?”,  bernada  hanya ingin ngetes bundanya. Aku hanya menggeleng pelan.
            “Dia ini sedih karena nggak diajak main ibunya, ketawa karena seneng ibunya mau ngajak main, terus ngantuk karena udah malam. Yang lain Dedek ngak tau”, jawabnya lugu.
Hihihi, tertawa campur nggak enak hati aku mendengar jawabannya.
            “Kalau Dedek, sedih apa seneng?”

            “Seneng kalau Bunda ajak Dedek main.Tapi sedih kalau Bunda ngetik terus ama marah-marah.” Glekh, lagi-lagi aku tersenyum nggak enak.
            “ Bunda kan marah kalau Dedek salah. Tapi Bunda janji deh, nggak mau  marah-marah lagi biar Dedek nggak sedih.” Perasaanku jadi campur aduk.
            Dia hanya nyengir. “Nah kalau gambar ini, mirip Dedek sekarang, ngantuk. Bobo yuk Nda”, ajaknya sambil meletakkan buku di tempat semula, di bawah bantal.
            Duh Arung... bahasa mu membuat batin Bunda bergetar. Mungkin tanpa buku ini, Bunda nggak begitu paham apa yang ada di hati dan pikiranmu. Maaf dan makasih ya Dek.
            Setelah Arung tertidur lelap, aku melanjutkan penjelajahanku dengan karya, buah pikiran dari seorang lelaki usia 32 tahun, yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap semua anak, tanpa pilih kasih. @Anak Juga Manusia. Yuk, lanjuut... J
(Mencoba lebih santai dalam meresensi buku ini, saya  menggunakan kata ganti  ganti ‘Saya’ sebagai orang pertama, bukan ‘Aku’. Terimakasih)

Dan Penjelajahan pun.... dimulai
Sebelum membuka buku ini, saya berfikir akan diceramahi sambil diberi wejangan-wejangan ala kerajaan zaman dulu, monoton dan kaku. Tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum atas beberapa penulis parenting, biasanya buku-buku yang saya lahap kurang membawa pembaca jujur mengakui ‘kekurangan dan kesalahannya’. Ah, mungkin buku ini juga begitu. Ditemani secangkir susu hangat, saya mulai menikmati rangkaian kata di halaman pertama.
Bismillahirrahmaanirrahiim. Lihatlah Aku. Membaca susunan kata di atas kertas berwarna salem ini, tak terasa airmata mengalir perlahan. Untaian kalimatnya benar-benar masuk ke dalam relung hati terdalam.
“Ayah, Ibu, tolong jangan risaukan apa yang belum dapat aku lakukan. Lihatlah apa yang sudah dapat aku lakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku. Ayah, Ibu, jangan kau bandingkan aku dengan anak lain. Lihatlah, aku tidak pernah membandingkanmu dengan orangtua lain, aku hanya satu. Ayah, Ibu, jangan bentak-bentak aku. Lihatlah, aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya. Aku sedang belajar memperlakukanmu kelak... Ayah, Ibu, aku ingin mengenangmu sebagai orang yang terbaik, ajari aku dan lihatlah yang terbaik dariku, sehingga aku bangga menyebut namamu. Ayah, Ibu, semoga kita punya cukup waktu, untuk saling mengenal dan memahami, aku belajar melihatmu dari cara engkau melihatku”.
            Sampai di sini, airmata yang tadinya hanya mengalir pelan, berubah menjadi banjir badang... tangisan meledak, bahu terguncang keras. Saya  ingat bagaimana ketika meminta Pandu, si lelaki 11 tahun, mempertahankan prestasi akademiknya, bahkan sedikit memaksa untuk bisa lebih baik lagi. Ingatan saya melayang ketika tatapan tajam tertuju padanya saat dia dengan jahilnya mengganggu waktu ‘belajar’. Bahkan memori saya dengan cepat beralih ke beberapa hari yang lalu, waktu dia mengajak main catur dan saya jawab ‘maaf Mas, besok aja ya, Bunda lagi nggak mood’. Nggak mood? Santai sekali saya menjawabnya, padahal Pandu hanya ingin menunjukkan cara dia memakan menteri dengan kuda nya di papan catur. Hiks..
Ketika sampai  pada beberapa point di Bagian Pendidikan Rumah, saya merasa ‘gue banget’. (Jangan-jangan Pak Angga punya ilmu terawang nih, kok sama persis dengan pengalaman saya, hehehe, tapi kalau poin terakhir enggak ya, soalnya kami sekeluarga tidak menganggap TV itu penting). Cara berkomunikasi di keluarga ternyata sangat berpengaruh terhadap sikap dan pola pikir anak. Saya jadi malu, karena sering terlihat ‘gupek’ ketika menghadapi masalah yang sebenarnya biasa saja. Pandu sampai pernah bilang begini “Ih bunda lebay banget deh, biasa aja kali”, Hek.  Saya jadi tersadar  dengan tegurannya. Atau ketika Pandu mendapat nilai 9,2 saat ulangan matematika. Bukannya memberi pujian, saya malah menuntutnya, “Tumben Mas, kok nggak dapet nilai 100?.” Saat itu juga, tanpa saya sadari, Pandu pasti merasa terjatuh dari pohon jambu. Sakit. Mendengar tuntutan, bukan mendapat senyuman penyemangat. Duuh, maafkan Bunda yang tidak menghargai perjuanganmu ya sayang..
Lalu, lanjut ke bagian Jika Anak Jatuh Cinta. Tadinya saya berasumsi bagian ini belum terlalu penting, masih jauh untuk menangani Pandu, apalagi Arung.  Tapi, eits, ternyata ini adalah kisah cinta yang universal. Bagaimana menjadikan cinta sebagai titik tolak dalam melakukan kebaikan sepanjang hidupnya, hidup kita. Anak diajarkan untuk berbuat bukan karena rasa takut, marah, sedih dan semua perasaan negatif. Tapi mulai dengan cinta. Cinta yang seharusnya ditularkan oleh kita orangtuanya. Lagi-lagi saya merasa malu sendiri. Yang sering meminta anak-anak melakukan sesuatu karena saya iming-iming, marah, bahkan pakai delikan mata. Ih, nggak asyik banget ya. Sebagai pelajaran, apabila kita bertahan dengan metode ini, siap-siaplah suatu saat mereka akan melakukan perlawanan setelah harga dirinya berontak karena selalu mendapat tekanan dan tuntutan. Anak akan mendapatkan  konsep diri secara negatif. Pelan tapi pasti, saya kuatkan tekad untuk tidak meneruskan dan berusahan meruntuhkan keegoisan selama ini.
Dengan metode pendidikan dan pengajaran seperti itu, saya berfikir, pernahkah  kita bertanya “kamu bahagia, Nak?. Kalau bertanyanya sambil memberi es krim atau buku favoritnya, pasti dijawab “bahagia banget Bunda”. Tapi, cobalah telisik lebih dalam hati dan pikiran anak kita. Bisa jadi  mereka pernah terluka dengan cibiran dan bentakan kita selama ini. “Anak adalah akibat dari suatu rangkaian perlakuan yang mereka terima, baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Mereka adalah respon dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.” Nah lho, apa yang sudah kita contohkan pada anak kita?.
Untuk mengantarkan kedekatan dengan pembaca, buku ini mengambil contoh kegiatan sehari-hari  yang kita alami. Seperti ketika anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya, ‘Memang ada hubungannya antara perkalian dengan kesuksesan?’, atau “Ma,  roda motor itu muternya berapa kali ya? Kok kenceng banget!”, adalah sebagian pertanyaan yang sering membuat orangtua jengkel dan mengangkat alis. Banyak orangtua menjawab ketus dan tak peduli. Padahal, anak mempunyai sifat ingin tahu yang sangat besar. Tidaklah bijak membiarkannya berhenti berproses mencari jawaban. Rangkullah mereka. Jawab dengan hati dan pikiran terbuka. Apabila kita belum tahu jawabannya, ajak mereka mencari tahu dengan berbagai cara, misal mencari informasi ke perpustakaan, menanyakan pada guru, bahkan browsing di internet.
Oiya, di buku ini kita akan dikejutkan oleh sebuah kisah dramatis. Bagaimana seorang anak usia 7 tahun yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap idiot, ternyata menjelma menjadi seorang ilmuwan terkemuka, Thomas Alfa Edison, sang penemu bola lampu. Penanganan yang baik dari orangtua, khususnya Ibu, membuatnya memiliki konsep diri yang positif. (Duh kita bisa seperti itu nggak ya? L). Sering kita menyerah ketika tenaga pendidik atau tetangga melabel anak kita sebagai ‘anak bodoh, ‘nggak gaul’, ‘bandel’ dan aneka label negatif lainnya. Padahal, apabila kita ‘meluruskan’ dengan cinta, Insya Allah bisa berbalik 180 derajat!.
Lalu kita pun berusaha mati-matian membuat anak menjadi pintar. Tapi sayang, hanya pintar secara akademik. Kita terpaku pada nilai matematika, hapalan yang sudah lancar, les yang rajin diikuti. Kita lupa bahwa anak memiliki kemampuan nalar dan kreatif selain menghapal. Pintar bukan terletak pada nilai akademik semata. Berilah ruang untuk anak agar mereka bisa bergerak dan berpikir merdeka. Bebas mengkreasikan ide-idenya secara positif.
Orangtua pun tidak perlu terlalu dalam masuk ke dalam daerah privat anak selama itu dalam batas aman dan normal. Komunikasi yang baik akan membuat hubungan dengan anak mejadi asyik dan terbuka. Tetu kita tidak ingin anak mencari fugur lain dijadikan teman curhat, kan? Apalagi kalau anak berpangku pada orang yang salah. Bakal kacau urusannya.
Maka dari itu, adalah tugas kita  membantu anak menggali kemampuannya. Dengan jumlah sel yang mencapai 1 trilyun, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban kecil yang semakin lama semakin membesar kelak, apabila kita mampu menjadi teman dan sahabat baik bagi mereka.
Tapi, sebentar. Kita coba refleksi sikap kita selama ini. Apakah kita sudah menjadi sahabat mereka? Berapa banyak dalam sehari kita marah pada mereka, mencubit, memukul, mencemooh atau menghina? Ah, kalau memukul mungkin tidak. Tapi kalau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan? Mmh, sepertinya hampir setiap hari. Ya, ada saja yang kita keluhkan tentang sikap anak. Yang bangun kesiangan, lupa mengerjakan PR, tidak merapihkan tempat tidur sampai bermain hingga sore menjelang. Semua salah. Coba kita ingat bagaimana ketika kita kecil, apakah ada kesamaan? Tentu saja. Yang berbeda adalah pada penerimaan sikap. Saya ingat, sewaktu SD kakak lelaki saya sering sekali tidak mau meletakkan piring kotor  ke tempatnya. Jadi, suatu  sore dia kedatangan teman mainnya. Ibu yang sudah berulangkali mengingatkan, meletakkan piring kotor itu di depan muka kakakku, dengan senyuman ramah ke teman-temannya. Kakakku hanya nyengir. Walaupun itu mungkin membuatnya malu, dengan senyum Ibu, harga diri kakakku tidak jatuh dan dia tidak marah. Semenjak itu dia kapok, hehehe. Itulah penanganan untuk anak yang sering melupakan tanggung jawabnya. Ibu tak pernah mengomel, beliau selalu memberikan pelajaran melalui sikap.
Sebagai orang tua kita sering mengajarkan anak untuk takut melakukan kesalahan, bukan mengajarkan bagaimana menyelesaikan masalah ketika kesalahan terjadi. Ini akan menjadi bumerang ketika anak dewasa nanti. Mereka tidak terbiasa melakukan problem solving bagi diri sendiri, apalagi orang banyak. Mentalnya menjadi rapuh dan tidak stabil. Karena selama ini dia menerima pembelajaran yang penuh kemarahan atas kesalahannya, bukan pada penyelesaiannya.
Jadi, didiklah mereka dengan cinta, cinta yang tak berbatas ruang dan waktu. Tanpa syarat akan memetik hasil sesuai harapan kita orangtuanya. Tanpa syarat mereka akan menuruti semua keinginan kita, bahkan keinginan kita untuk menjadikannya seorang dokter, pilot, tentara dan cita-cita yang belum tentu diingininya. Jadilah guru sampai akhir waktu. Yang tidak terpaku hanya pada nilai di buku lapor, tapi juga melibatkan proses kejujuran, kegigihan dan kebaikan dalam memperolehnya.
Jangan pula dengan sombongnya kita membandingkan mereka dengan teman-temannya, bahkan dengan ‘kehebatan’ kita dulu. Bandingkanlah mereka dengan diri mereka sendiri disaat mereka terjebak pada kemarahan. Ingatkan bahwa mereka juga bisa melakukan kebaikan tanpa penyesalan.
Beberapa bagian sebelum buku ini saya tutup. Saya terpaku melihat deretan kriteria anak yang sempurna. Duh, ternyata saya memasang taget yang terlalu egois dan melupakan bahwa anak memiliki kemampuan dan target sendiri dalam hidupnya. Saya kurang menghargai dan menghormati keinginan yang sebenarnya dengan mudah saya-kami berikan, perhatian dan cinta.
Tapi bersyukurlah. Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk menyadarinya sebelum terlambat, melalui buku ini. Menjelajahi tiap lembarnya, seperti bercermin pada kaca yang terang dan jernih. Ketika asyik menikmati hitamnya rambut dan manisnya senyuman (ehm, narsis banget ya.. J), lalu tiba-tiba, dikejutkan oleh sebuah sapa di cermin, “Hai Bunda, rambutmu yang hitam sebentar lagi memutih loh, senyummu juga sebentar lagi tidak semanis itu. Bibirmu nanti akan dikelilingi keriput tipis yang makin lama makin jelas terlihat. Semua berubah, kecuali cinta yang ada di hatimu. Itu pun jika selalu kau pupuk sepanjang hidup”.
Tangisan malam ini, semoga menjadi langkah awal merubah segala bentuk ketidakbaikan.  Semoga kami masih konsisten menerapkan semua ‘kebaikan versi bersama’ selama ini. Selalu berbesar hati meminta maaf jika melukai perasaan anak, selalu memberi cinta tanpa syarat.  Kepada Allah saya serahkan semua ketentuan. Semoga kita menjadi hamba yang layak menerima limpahan kasih sayang-Nya, aamiin.

Bandarlampung, 1 Juli 2014, sesaat menjelang Imsyak
FB       : Fitri Restiana
Fifinusantara.blogspot.com
              Fifinusantara10@gmail.com






0 komentar:

Post a Comment