Maaf Nanit, Bunda Tak Tepai Janji (Episode 2...)


Ya, aku harus siap menerima kenyataan dia akan membenciku, memandangku dengan tatapan tajamnya. Selama ini kami-aku dan suami selalu mengajarkan arti kejujuran di keluarga. Kami minta ia selalu memegang kejujuran dalam hidupnya, karena itu adalah salah satu modal mendapat cinta Allah dan semesta. Beberapa orang mungkin menganggap sepele, tapi bagi keluargaku, kejujuran dan keterbukaan harus menghiasi setiap ucapan dan perbuatan. Kali ini aku sudah melanggar. Walau untuk pertama kalinya, tetap saja aku merasa bersalah dan amat berdosa.

Sebagai seorang ibu dan istri, terkadang aku mengalami dilema. Di satu sisi, aku harus mengedepankan keluarga, tapi di sisi satunya, aku harus bisa memainkan peran yang sudah aku pilih. Sulit ? Terkadang ya. Nurani keibuanku terhentak manakala aku harus memutuskanskala prioritas di saat yang bersamaan. Suatu waktu logika harus kalah dengan perasaan, atau sebaliknya.

Di saat aku galau, suami selalu memberi support. Seperti saat dia memberikan ijin kali ini melalui telepon.
“Ayah, bagaimana kalau Nanit marah? Bunda sudah janji tidak menginap?” Gelisah suaraku jelas terdengar.
“BIar nanti ayah yang ngomong ke Nanit. InsyaAllah dia ngerti” Jawab suamiku menenangkan.
“kalau dia nggak ngeri gimana yah? Terus dia musuhin bunda? Terus bunda dicuekin beberapa hari? Terus... “ Aku nggak sanggup meneruskan. Tenggorokanku sakit menahan tangis.
“Nggak apa bunda. Kalau ternyata dia masih marah. Ya nanti kita cari jalan keluarnya lagi. Bunda yang baik di Jakarta ya” Jawaban suamiku selalu membikin hati ini tenang. Setenang ombak di lautan menjelang petang. Cieeee...
Alhamdulillah, pagi menjelang siang semua urusan di Jakarta selesai. Dengan semangat, aku pulang setelah membeli beberapa jenis oleh-oleh buat orang rumah.
Assalamualaikum”. Rumah sepi. Pagar dan pintu ruang tengah dibiarkan terbuka. O, mungkin anak-anak pada tidur siang, pikirku. Dengan bergegas aku langsung menuju pintu belakang. Ups, rupanya mereka lagi asyik bercengkrama sambil melihat bunga-bunga yang berjejer rapi. Tadinya aku mau langsung menabrak dan memeluk mereka. Tapi urung.

“Nanit, sebentar lagi Bunda pulang. Nanit marah nggak sama Bunda?” tanya suamiku sambil menikmati segelas yogurt.
“Ih, marah sama orangtua kan berdosa ayah, apalagi sama Bunda. Kata Bu Guru, dosanya besaaar banget” celoteh Nanit diiringi gerakan tangan melingkar.
“Lha, katanya kemarin Nanit kesel waktu tahu bunda terpaksa nginep di Jakarta” suamiku mencoba memancing.
“Itu kan kemarin yah, sekarang enggak lagi. Kasian, bunda kan capek, masa Nanit malah marah. Apalagi nanti Bunda pasti ngajak jalan-jalan, asyik” Jawaban lugu Nanit membuat airmata mengalir pelan.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berhambur ke arah Nanit, memeluk dan mencium pipinya yang tembem.

“Bunda pulang... bunda pulang” Teriakan Nanit mengejutkan Ammar. Sontak keduanya memelukku hangat. Ayah dan neneknya hanya tersenyum geli, melihat aku hampir terjatuh terantuk kursi.

Aku harus mengganti waktu yang hilang. Lelah tak lagi kurasa. Aku minta semua bergegas dan siap menyusuri Bandung, kemana saja, terserah Nanit. Kali ini dia bossnya.

Makasih ya Ayah, Mama, Nanit dan Ammar. Tanpa kalian, apalah artinya Bunda. Seorang perempuan biasa yang bermimpi luar biasa. Bersama kalian, semoga Bunda bisa menyusun mimpi yang berserak. Aamiin. (Fifinusantara.blogspot.com)


0 komentar:

Post a Comment